
Saat bangun, Varo terkejut ada wanita di samping nya. Ia melepaskan pelukan wanita itu dan mengarahkan pistol ke kepalanya.
"Siapa kau?!!" Ucap Alvaro.
Wanita itu membuka selimut dari wajah nya dan memegang pistol Varo.
"Elena" Jawab Elena sambil memutar kedua bola matanya.
Varo merasa lega, ia menghembuskan nafas panjang.
"Kenapa kau tidak berpakaian?" Tanya Varo sambil menyimpan pistol nya.
"Siapa bilang aku tidak berpakaian? Lihat ini, apa ini tidak pakaian?" Ucap Elena sambil menunjuk pakaian dalam nya.
Varo mengurut kening nya. "Ck, apa yang terjadi semalam?"
"Semalam? Aku lupa" Jawab Elena sambil bercanda.
"Apa ada yang aneh pada tubuh mu?"
Elena menggeleng. "Tidak ada. Kakak tenang saja, kita tidak ada melakukan hubungan dewasa kok. Hihi"
"Bagus. Sekarang pakai baju mu!"
"Kakak juga pakai baju! Jangan cuman pakai pakaian dalam!"
"Cih. Sekali lagi kamu berbuat seperti ini, saya tidak akan sungkan-sungkan!"
Alvaro mengingatkan Elena supaya ia tidak macam-macam.
Setelah selesai mandi dan sarapan, Elena mengajak Varo untuk menemaninya berbelanja. Varo setuju menemani Elena, tapi harus membawa dua pengawal, soalnya Varo sudah tahu kalau Elena belanja pasti barang yang akan di bawa sangat banyak.
Saat Elena sedang memilih sepatu, Varo merasa ada yang aneh di sekitar mereka. Sebentar ia melihat sekeliling dan menitipkan Elena kepada dua pengawal nya.
Belum ada 10 menit, Varo mendapat kabar dari pengawalnya kalau Elena menghilang. Jantung Varo berdetak kencang, ia langsung menghubungi asisten nya untuk melacak posisi Elena. Sementara Varo merahasiakan hal ini dari keluarga nya.
Varo dan pengawalnya bergegas untuk menemukan Elena. Ada satu mobil yang terlihat mencurigakan, Varo mengikuti mobil itu dengan cara profesional.
"Umm, ummm!"
Mata, mulut, kedua kaki dan tangan Elena di ikat. Ia tidak tahu siapa yang mencuri nya, tapi ia tau apa tujuan mereka mencuri dirinya.
"Diam!"
"Ummm, ummm, ummm!!!"
"Bos saya sangat kesal dengan dia!"
"Cih buka penutup mulut nya, biarkan dia berbicara!"
Manusia bodoh. Batin Elena.
Salah satu dari mereka membuka penutup mulut Elena.
"Siapa kalian! Lepaskan aku, lepaskan!" Ucap Elena.
"Bos apa yang harus kita lakukan?"
"Haha buka saja penutup matanya. Biarkan dia melihat apa yang akan kita lakukan"
Akhirnya penutup mata Elena dibuka.
Ck aku ikuti permainan kalian. Batin Elena.
"Ja-jangan" Ucap Elena takut.
Salah satu dari mereka mengarahkan pistol ke kepala Elena.
"Kalau tidak mau mati kau harus diam!" Bentak bos mereka.
Huff seperti nya mereka berpikir kalau aku ini bodoh, jelas-jelas pistol itu tidak mempunyai peluru. Batin Elena.
"Singkirkan!"
"Baik bos"
"Hehe kau sangat cantik, bagaimana kalau kita bermain-main terlebih dahulu?" Tanya bos mereka kepada Elena.
"Apa kita akan bermain masak-masak?" Jawab Elena dengan wajah gembira.
"Oh ternyata masih polos. Menarik. Nanti bawa dia dulu ke kamar ku, setelah itu aku sendiri yang akan menyerahkan nya kepada Tuan besar. Mengerti?!"
"Baik bos"
Hm? Mau menyentuhku? Kau pikir tangan kotor mu bisa menyentuhku dengan sesuka hati? Hahaha permainan ini akan semakin seru. Batin Elena.
Tak berapa lama kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Mereka membawa Elena ke kamar bos mereka dan meletakkan nya di atas ranjang.
Setelah 5 menit kemudian, bos itu masuk dan mengunci kamar nya. Ia mendekati Elena dan membuka ikatan di tangan dan kaki Elena. Elena melihat sekeliling tubuh pria itu, ia mencari pistol dan akhirnya ketemu. Pistol itu mempunyai peluru di dalam nya, ia akan berusaha mengambil pistol itu dan melakukan rencananya.
Pria itu meraba-raba tubuh Elena, Elena merasa geli dan lemas.
"He-hentikan" Ucap Elena.
Mendengar suara Elena, pria itu semakin bersemangat. Ia membuka baju nya dan menindih tubuh Elena.
Kesempatan bagus! Batin Elena.
Elena mengambil pistol pria itu dan mengarahkan nya ke kepala pria itu.
"Oh berani sekali kamu!" Ucap pria itu yang hampir menahan tangan Elena.
Dengan cepat Elena langsung turun dari atas ranjang tanpa melukai pria itu sedikit pun. Elena berlari menuju ke jendela dan memecahkan nya. Ia berteriak dengan kuat seolah-olah sedang ketakutan. Pria itu berlari mendekati Elena dan hendak mengambil pistol itu.
Elena tersenyum kepada pria itu dan menembak kepala pria itu. Tidak lupa ia berteriak dan ketakutan. Ia juga mengeluarkan air mata dan tubuh nya gemetaran. Sebelumnya saat sudah selesai menembak, Elena langsung membuang pistol itu ke bawah.
Tuan besar yang mereka bicarakan tadi masuk ke dalam kamar pria itu, ia membawa beberapa pengawal untuk mengecek apa yang sudah terjadi.
Tuan besar itu melihat orang kepercayaan nya mati karena ditembak, ia menyuruh pengawalnya untuk menyelidiki siapa yang sudah membunuh orang kepercayaan nya itu.
Tuan besar itu mendekati Elena dan menatap nya dengan tajam.
"Kau yang membunuhnya?!!!" Tanya nya sambil mengarahkan pistol ke kepala Elena.
"A-ak-aku"
Belum selesai berbicara, Elena pingsan di tempat. Tuan besar itu menangkap Elena dan membawanya pergi dari kamar itu. Tuan besar itu membawa Elena ke kamar nya dan memanggil dokter.
Setelah Elena sadar, ia melihat sekeliling nya terasa asing. Perlahan ia duduk di atas ranjang dan melihat ada seorang pria duduk di atas sofa.
"Sudah sadar?" Ucap pria itu sambil mendekati Elena.
Elena tidak menjawab pria itu.
"Aku tidak akan membunuh mu, kau juga korban" Ucap pria itu sambil mengangkat dagu Elena.
Huh untung tidak ketahuan. Batin Elena.
"Hm tapi jangan senang dulu, suatu saat kau akan mati di tangan ku. Tidak usah meminta bantuan kepada siapapun, ini semua daerah ku, tidak akan ada yang bisa masuk. Lagi pula ini daerah terpencil"
"Benarkah? Kalau begitu aku harus memanggil mu apa?" Tanya Elena dengan wajah polos nya.
Pria itu duduk di samping Elena lalu mengelus wajah lembut Elena.
"Kau bisa memanggil nama ku, Arbecio"
Arbecio? Owh sempurna, Mamah dan Papah akan bangga kepada ku. Hahaha. Batin Elena.