
Beberapa saat kemudian Bella masuk ke dalam ruangan. Dia melihat Tyler sendirian diruangan itu, Viktor tidak tahu dimana keberadaan nya. Bella menghampiri Tyler dan bertanya dimana Viktor.
"Tyler Viktor dimana? Kok kamu sendirian disini?" Tanya Bella yang tidak tahu apa-apa
"Itu aku tidak tahu dia kemana. Katanya tadi mau keluar sebentar, tapi belum kembali" Jawab Tyler
Bella melihat raut wajah sedih Tyler. Ia menebak kalau Tyler dan Viktor ada kesalahpahaman.
"Kalian lagi punya masalah ya?" Tanya Bella
"Ah tidak kok Nyonya"
Bella melihat bekas berwarna merah di leher Tyler. Ia ingat ada cctv di ruangan tersebut, jadi dia berencana untuk melihat apa permalasahan mereka.
Setelah selesai melihat cctv, Bella menghela napas panjang. Ia tersenyum kecil melihat permalasahan Viktor dan Tyler.
"Tyler"
"Iya nyonya?"
"Kamu menyukai Viktor?"
Tyler terkejut. "Ah tidak kok Nyonya"
"Akui saja, kamu menyukai Viktor kan?"
"Saya tidak tahu Nyonya" Jawab Tyler
Dari jawaban Tyler, Bella sudah tahu kalau sebenarnya Tyler menyukai Viktor. Tapi Tyler tidak mengerti perasaan apa yang sedang dia alami, dia tidak tahu kalau dia menyukai Viktor atau hanya mengangumi nya saja.
Bella menelepon Viktor untuk menanyakan dimana dia berada. Dengan cepat Viktor langsung mengangkat telepon lalu menjawab pertanyaan Bella dengan jujur. Viktor menyuruh Bella untuk datang ke cafe xxx.
Bella mengajak Tyler untuk ikut, padahal Tyler sama sekali tidak di undang atau di ajak oleh Viktor. Sebenarnya Tyler tidak mau ikut, tapi menjadi asisten pribadi Bella adalah tugas nya, ia harus ikut kemanapun Bella pergi.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di cafe xxx. Mereka memasuki ruangan VIP lalu duduk di atas sofa. Viktor menyambut kedatangan mereka, tapi dia sama sekali tidak melirik Tyler. Tyler menundukkan kepalanya, ia malu untuk mengangkat kepalanya karena ia duduk tepat di depan Viktor.
"Ehem" Tes Bella untuk memulai pembicaraan
"Bukan nya saya ikut campur, tapi saya tidak suka kalau kalian berdua tidak cakapan. Saya tahu masalah di antara kalian, masalah ini hanya hal kecil, masa gara-gara hal kecil kalian berantam sih. Hm sudah lah saya tidak mau ngomong panjang, ini masalah kalian, kalian urus saja sendiri. Saya tinggal dulu ya, saya harap kalian berbaikan saat ini juga. Saya sudah ngasih kesempatan untuk kalian berdua ngomong panjang lebar, mohon di pergunakan dengan baik"
Bella keluar dari ruangan itu lalu pergi ke ruangan sebelah.
Suasana didalam ruangan menjadi canggung. Tidak ada yang memulai pembicaraan, mereka saling mengharapkan satu sama lain.
Karena sudah lama berdiam, Tyler memberanikan diri untuk berbicara lebih awal.
"Ma-"
"Maaf" Ucap Viktor sebelum Tyler meminta maaf duluan
"Ah tidak, seharusnya aku yang minta maaf" Ucap Tyler dengan kepala yang masih menunduk
Tanpa Tyler sadari, Viktor berjalan ke arah nya lalu mendekatinya dan mengangkat dagu nya. Kini mata Tyler dan Viktor saling bertatapan.
Tyler sangat terkejut, ia mematung, tidak bergerak sedikit pun.
"Ikut saya pulang ke Rusia" Ucap Viktor seketika
"Apa?"
Tyler tidak tahu apa maksud perkataan Viktor. Sulit di artikan.
"Ikut saya pulang, saya akan memberi kehidupan yang kamu inginkan"
"Maksud kamu, kita menikah?" Tanya Tyler yang masih bingung.
Entah apa yang merasuki Viktor, ia tidak menjawab pertanyaan Tyler, melainkan mencium Tyler.
Tyler sama sekali tidak menolak ciuman itu, ia sangat menikmati nya.
Setelah agak lama berciuman, tangan Viktor mulai nakal, sehingga membuat Tyler melepaskan ciuman mereka dan menahan tangan Viktor.
"Aku mohon, jangan" Ucap Tyler takut
"Maaf, saya tidak bisa menahan nya"
Drrttt, drrrrt, drrtt
Ponsel Viktor berbunyi
"Halo?"
Viktor mengakhiri percakapan di telepon itu.
"Siapa? Kenapa?" Tanya Tyler
"Kita harus segera pulang. Saya dapat kabar dari Bella kalau Aurora jatuh dari tangga"
"Oh" Jawab Tyler singkat
Viktor mengganti seragam nya terlebih dahulu. Di depan Aurora pekerjaan nya hanyalah seorang supir, bukan dokter. Aurora tidak boleh mengetahui kalau Viktor adalah dokter.
Beberapa saat kemudian Bella, Tyler, Viktor sampai di rumah. Bella langsung bergegas lari ke rumah dan mengecek keadaan Aurora. Dari tadi Edbert sudah berada di rumah, tapi dia tidak memanggil dokter lain. Dia hanya menunggu kedatangan Bella, tidak peduli nyawa Aurora sedang dalam masalah atau tidak.
"Bagaimana keadaan Mama?" Tanya Alvaro
"Sebentar lagi dia akan sadar. Keadaan nya baik-baik saja" Jawab Bella
Bella keluar dari kamar Aurora dengan raut wajah kesal. Hal ini membuat Tyler, Edbert, dan Viktor bingung.
"Kenapa?" Tanya Edbert
"Cih seperti tidak jatuh dari tangga. Sebaiknya kita semua hati-hati, dia pasti punya rencana jahat. Hm aku ingat kita punya cctv di setiap sudut ruangan. Tyler nanti kamu lihat apa sebenarnya yang terjadi"
"Baik Nyonya"
"Rencana jahat?" Tanya Viktor
"Iya, perasaan saya tidak enak. Mungkin saja dia mau menyingkirkan aku dan Tyler supaya mudah untuk mendapatkan salah satu dari kalian. Sebaiknya hati-hati, jangan menerima makanan atau minuman yang di kasih nya. Kita tidak tahu apa isi dari makanan atau minuman itu" Ucap Bella
Mereka mengangguk. Mereka sangat setuju dengan ucapan Bella.
Malam telah tiba, Aurora masih terbaring di atas ranjang karena tubuh nya sakit. Ia meminta Edbert untuk menemani nya tidur, ia tidak bisa tidur kalau tidak di temani Edbert.
"Ya sudah tidak apa-apa. Edbert kamu temani Aurora tidur ya, Alvaro biar saya yang tangani" Ucap Bella pasrah
Senyuman licik Aurora muncul lagi di wajah nya.
Bella dan Alvaro keluar dari kamar Aurora, kini tinggallah Edbert dan Aurora si wanita licik. Yah Bella sudah tahu hal ini akan terjadi, sebelumnya mereka sudah menyusun rencana dan berakting sebagus mungkin.
Bella membawa Alvaro ke kamar nya. Bella sama sekali tidak membenci Alvaro, hanya saja dia sedikit kesal karena Alvaro selalu menuruti kemauan mama nya yang jahat.
"Serius Alvaro boleh tidur di samping bibi?" Tanya Alvaro
"Iya, bibi ga akan apa-apain kamu kok. Sini sayang"
Alvaro tersenyum lalu ia naik perlahan ke atas ranjang yang sangat besar dan empuk.
"Mama aja ga pernah ngasih Alvaro tidur di samping nya" Ucap Alvaro dengan suara kecil
"Kamu bilang apa sayang? Maaf tadi bibi tidak dengar"
Alvaro menggeleng. Ia membaringkan tubuh nya di atas ranjang kemudian menyelimuti nya.
Bella juga melakukan hal yang sama. Tidak lupa ia memeluk Alvaro si anak kecil yang begitu menggemaskan.
"Bibi" Panggil Alvaro
"Iya?"
"Kalau suatu saat mama ga ada, apa yang akan terjadi pada Alvaro? Apa Alvaro harus tinggal sendiri lagi?"
Bella mulai curiga dengan pertanyaan Alvaro.
"Kamu kan masih punya Kakek dan Nenek sayang" Jawab Bella
"Alvaro tau, tapi mereka sama sekali tidak menyayangi Alvaro"
"Lho kenapa?"
"Emang boleh Alvaro menceritakan semua nya kepada bibi? Alvaro sebenarnya capek begini terus, Alvaro tidak mau di peralat lagi. Sejauh ini hanya bibi yang benar-benar menyayangi Alvaro. Alvaro yakin bibi lah orang yang selama ini Alvaro cari. Alvaro sangat butuh kasih sayang bi. Alvaro masih kecil hiks"
Jantung Bella berdetak kencang. Ia tidak tahu yang di lakukan nya benar atau salah. Selama ini dia bersikap baik kepada Alvaro supaya Alvaro mau menceritakan kebenaran yang sebenarnya. Tapi saat sudah tiba saat nya, dia malah merasa bersalah. Dia bahkan berpikir kalau dia sedang memperalat Alvaro juga.
Saat Alvaro bercerita, Bella benar-benar mendengarkan dan kemudian menangis. Ia memeluk Alvaro dengan erat dan berusaha menghibur nya. Ia tidak menyangka kehidupan Alvaro sekejam itu.
Tapi biarpun begitu, Bella masih tetap waspada terhadap Alvaro. Ya mana kita tahu kalau dia sedang berbohong. Rencana nya besok Bella mau menyuruh Tyler untuk mengecek semua latar belakang dan kehidupan Alvaro. Tidak boleh ada yang ketinggalan sedikit pun.
...〜(꒪꒳꒪)〜...
Jangan lupa dukungannya. Jangan ragu untuk kasih saran, tapi saran nya yang mendukung, bukan menjatuhkan. Terimakasih