EdBell

EdBell
Bab 59



Di perjalan menuju perusahaan


"Apa wanita itu bisa di andalkan? Kenapa aku dengan mudah nya menyuruh dia menandatangani kontrak? Ck aku ini bodoh sekali, semoga dia benar-benar bisa di andalkan!"


Beberapa saat kemudian Alex sampai di perusahaan. Ia tetap berjalan dengan santai, padahal sudah benar-benar telat.


Alex memasuki ruang rapat kemudian duduk di kursi yang sudah di sediakan.


"Kenapa terlambat?" Tanya Varo yang dari tadi sudah memulai rapat.


"Ada sedikit masalah di jalan" Jawab Alex tanpa rasa bersalah.


"Setelah rapat kamu menghadap ke atasan" Ucap Varo.


Alex benar-benar tidak menyangka kalau ia akan berhadapan dengan atasan. Walaupun atasan nya adalah Edbert, ia tetap takut. Soalnya kalau sedang bekerja mereka akan serius, tidak ada istilah-istilah keluarga.


Setelah selesai rapat


"Apa saya harus menghadap ke atasan?" Tanya Alex kepada Varo.


"Tadi Papa memanggil kamu, tidak tau untuk apa" Jawab Varo.


"Varo tolong bantu saya, tadi benar-benar ada sedikit masalah di jalan"


"Kalau itu bukan salah mu, kau tidak akan takut menghadapi nya. Pergilah, jangan buat Papa menunggu"


"Sesuai dugaan ku" Ucap Alex lalu meninggalkan Varo.


Varo menggeleng-geleng melihat Alex. Entah apa yang sedang di hadapi Alex sehingga dia bersikap seperti anak-anak.


Di ruangan pribadi Varo


"Kakak" Panggil Elena kepada Varo.


"Kamu napain kesini?"


"Elena buat sesuatu, kakak makan dulu nih"


"Kamu kesini hanya untuk mengantar ini?"


"Sebenarnya tidak Kak, tadi Elena dapat pesan dari Kak Alex, dia menyuruh Elena untuk datang ke perusahaan, tidak tau ntah untuk apa"


"Dasar anak itu"


"Emang Kak Alex kenapa Kak?"


"Ya tumben saja dia tadi telat datang rapat"


"Serius?"


"Iya sayang"


"Perasaan tadi Kak Alex cepat deh pigi nya. Kok bisa telat ya?"


"Katanya ada masalah di jalan"


"Hum tidak bisa di percaya! Pasti dia sedang berhadapan dengan Papa. Aku akan menjumpai nya"


"Elena ga nemani Kakak?"


"Ga! Elena pergi dulu Kak. Muach"


Elena keluar dari ruangan Varo lalu menutup pintu ruangan nya. Saat Elena berjalan ke ruangan Edbert, ia dilihati banyak orang. Karena Elena adalah anak yang baik, ia membalas mereka dengan senyuman. Para laki-laki yang melihat senyuman Elena langsung terpesona, sedangkan wanita malah ingin tanda tangan nya.


Tok, tok, tok


"Masuk"


"Papa!!!" Ucap Elena dengan penuh kebahagiaan.


"Iya sayang, ada apa?"


"Elena mau melihat Kakak, hihihi"


"Alex ya maksud kamu?"


"Iya Pa"


"Dia sudah pergi dari tadi"


"Hah? Kemana Pa?"


"Rumah sakit"


"Kakak sakit? Sakit apa?"


"Bukan Alex yang sakit, tapi Nenek dari pacar nya" Jawab Edbert.


"Pacar?!! Kakak punya pacar?!! Kenapa Elena tidak tau!"


"Papa juga baru tau tadi sayang"


"Ih Kakak nyebelin! Dia di rumah sakit mana Pa? Elena mau menjumpai nya"


"Rumah Sakit XXX"


"Tidak ada yang tau. Kamu tenang aja, Papa sudah menyuruh Alex membawa pacar nya makan malam ke rumah"


"Hum Elena tidak akan membiarkan Kakak jatuh ke tangan wanita yang serakah! Kakak tidak boleh menikah tanpa restu Elena! Elena pergi dulu ya Pa, dah Pa"


"Hati-hati"


Elena menghidupkan mobilnya kemudian langsung menuju ke rumah sakit xxx. Ia ingin melihat wanita mana yang sudah meluluhkan hati Kakak nya.


Beberapa saat kemudian Elena sampai di rumah sakit. Ia melacak ponsel Alex lalu dengan cepat berjalan ke arah Alex.


Tok, tok, tok


"Masuk" Ucap Elizabeth.


Elena masuk dan menutup pintu kembali.


"Kamu siapa ya?" Tanya Elizabeth.


"Apa kamu mengenal Alex?"


"Saya kenal. Ada apa ya?"


"Saya mau bertemu dengan nya"


"Sebentar, Alex masih di kamar mandi"


Apa? Jangan-jangan Kakak dan wanita ini? Tidak, tidak, Kakak bukan pria yang seperti itu. Batin Elena.


"Kalau boleh tau, Anda siapa ya?" Tanya Elizabeth untuk yang kedua kalinya.


"Perkenalkan saya adik nya Kak Alex, Elena. Senang bertemu dengan mu calon Kakak ipar" Jawab Elena sambil menjulurkan tangan nya.


Adik nya sangat cantik. Batin Elizabeth.


"Saya Elizabeth" Ucap Elizabeth sambil menyalam tangan Elena.


Saat berjabat tangan, Alex keluar dari kamar mandi. Ia terkejut melihat adik nya berada di ruangan itu.


"Elena? Apa yang kamu lakukan disini?"


"Aku mau mengajak Kakak ipar berbelanja. Soalnya kan Papa tadi menyuruh Kakak untuk membawa kakak ipar makan malam ke rumah"


"Benarkah? Kenapa aku tidak tau?" Ucap Elizabeth.


"Kakak tidak memberitahu mu?"


"Elena, Kakak baru sampai"


"Hum aku tidak peduli. Nenek, aku bawa Elizabeth untuk berbelanja ya. Nenek tidak perlu khawatir, aku tidak akan melukai cucu Nenek" Ucap Elena.


"Ta-tapi" Ucap Elizabeth.


"Tidak ada tapi-tapi. Kamu tenang aja, Kak Alex akan mengatur perawat untuk Nenek. Nenek kamu akan sembuh, percayalah" Ucap Elena.


"Pergilah Nak, Nenek baik-baik saja" Ucap Nenek.


"Baiklah, kalau begitu Elizabeth pergi dulu ya Nek"


Elena membawa Elizabeth ke dalam mobil nya. Ia mengemudi dengan santai, karena jalanan tidak macat dan tempat berbelanja juga dekat.


Setelah sampai, Elena langsung memilih barang-barang yang mahal. Ia mencocokkan semua baju kepada Elizabeth. Elizabeth hanya bisa diam, ia takut nanti salah bicara.


"Apa aku boleh membeli baju untuk Nenek ku?"


"Boleh, boleh, kamu mau ambil yang mana terserah. Mau sepatu, tas, makeup, baju, ambil aja yang kamu suka. Biaya tidak perlu khawatir" Jawab Elena.


Elizabeth memilih pakaian untuk Nenek nya. Ia tidak melihat harga yang murah, semua terlihat mahal. Tapi karena Elena bilang biaya tidak perlu khawatir, jadi dia mengambil pakaian Nenek cukup banyak.


"Oke saat nya membayar" Ucap Elena dengan senang.


"Total nya sekian-sekian Nona"


Ma-mahal banget. Memang orang kaya itu beda ya. Batin Elizabeth.


"Ini" Elena memberikan kartu nya.


"Terimakasih Nona, kembali lah lain kali"


Elena dan Elizabeth memasukkan semua barang ke dalam bagasi mobil.


"Terimakasih untuk semuanya Elena" Ucap Elizabeth.


"Tidak perlu mengucapkan itu kepada ku, berterimakasih lah kepada Kakak saya. Kenapa? Karena kita menggunakan uang nya untuk berbelanja. Hahaha"


"Be-benarkah?"


"Benar! Kamu tidak perlu khawatir, uang nya tidak akan habis begitu saja"


Di tempat lain


"Elena sangat pintar, hahaha sangat pintar" Ucap Alex dengan kesal.