
Setelah menjawab begitu banyak pertanyaan dari petugas kepolisian, Dion mengikuti para petugas itu untuk mendatangi tempat kecelakaan. Ia ingin memastikan sendiri, jika Briana memang benar-benar sudah meninggal. Saat tiba di tempat kejadian, Dion menatap mobil yang sudah hangus terbakar itu dengan perasaan aneh.
"Apa saya bisa melihat lebih dekat ke arah mobil itu ?" Tanya Dion pada salah satu petugas yang ada di sana.
"Boleh, asal jangan sampai menyentuhnya. Karena mobil itu sedang dalam penyelidikan." Jawab petugas kepolisian itu. "Ingat jangan sampai melewati garis polisi." Ucapnya lagi.
Dion hanya mengangguk paham. Ia lantas kembali melanjutkan langkah untuk lebih dekat dengan mobil yang di kendarai Briana hari ini.
Lelaki itu menatap heran pada mobil, karena di sana tida ada apapun. Meskipun mobil itu meledak, besar kemungkinan jasad atau tulang belulang istrinya masih akan di temukan di dalam mobil itu. Mobil mewah yang di belikan khusus oleh sang Ayah itu, nampak jelas kosong seakan di tinggalkan oleh pemiliknya sebelum kecelakaan.
"Apa kalian tidak menemukan apapun di dalam mobil itu ?" Tanya Dion dari luar garis pembatas.
"Tidak ada, Pak. Sejak kami tiba di tempat ini, mobilnya memang sudah seperti itu." Jawab petugas lain yang sedang melakukan tugasnya.
Dion tidak lagi menimpali. Ia hanya menatap mobil yang sudah hangus terbakar itu dengan hati penuh keraguan. Ia yakin Briana tiak berada di dalam mobil itu, saat kebakaran terjadi. Jika ada, mungkin mereka masih menemukan sepenggal jasad atau tulang belulang istrinya di dalam sana.
Doin melangkah mendekati pembatas jalan. Melihat sekeliling untuk mencari kemungkinan saat kecelakaan terjadi, Briana terlempar keluar dari dalam mobil.
"Jadi kalian juga tahu jika saat kecelakaan istri saya sedang tidak berada di dalam mobil itu ?" Tanya Dion.
"Kami belum memastikan semuanya, Pak. Tim forensik masih melakukan tugas mereka." Jawab petugas kepolisian yang memimpin penyelidikan kecelakaan yang menimpa Briana. "Kami pasti akan bekerja sama untuk mencari tahu penyebab kecelakaan. Dan saya harap, Bapak pun siap bekerja sama dengan kami jika di butuhkan nanti." Lanjutnya.
Seperti biasanya, Dion tidak menaggapi apapun. Perasaan campur aduk mulai mengganggunya. Khawatir, ragu juga sedikit merasa bersalah karena sudah menciptakan maut terhadap wanita yang sudah beberapa tahun ini menjadi bagian dari keluarga nya.
Khawatir jika petugas kepolisian akan menemukan penyebab kecelakaan, ibu dan juga dirinya pasti akan ikut terseret. Karena ia tahu dan sangat kenal bagaiman seorang Risa bekerja. Wanita yang sudah menjadi kekasihnya sejak menjabat sebagai wakil direktur utama di Atmaja Group itu, tidak akan mau menerima akibat dari semua kejadian ini, seorang diri. Wanita itu pasti akan menyeret dirinya, serta sang ibu untuk ikut mempertanggung jawabkan atas apa yang sudah menimpa Briana.
"Saya harus kembali ke rumah, jika ada perkembangan tolong hubungi saya." Ucap Dion berpamitan.
Petugas kepolisian tersebut mempersilahkan Dion untuk kembali ke rumah. Tentu saja tidak membiarkan Dion begitu saja. Setelah kepergian Dion, ia langsung menghubungi salah satu bawahannya yang sedang memantau kediaman keluarga Atmaja, agar tetap waspada dan terus memperhatikan apapun yang terjadi di rumah itu.
Di dalam mobil, Dion segera menghubungi sekretaris sekaligus kekasihnya.
"Untuk beberapa hari kedepan, jangan berkunjung ke rumah dulu." Setelah mengucapkan kalimat itu, Dion segera mengakhiri panggilan tersebut, lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan keraguan yang masih terus mengganggu.