
Waktu begitu cepat berlalu. Kini Briana sedang terduduk di atas ranjang di salah satu klinik milik Rendi, sahabat Gama. Wanita cantik itu menatap wajahnya di depan cermin besar yang ada di ruangan itu.
Rencana yang kata Gama bisa membantu memuluskan rencana balas dendam nya, kini berjalan dengan lancar. Briana menatap pantulan tubuhnya di depan cermin. Kini wajah buruk rupa karena kecelakaan mobil itu, sama sekali tidak lagi nampak di sana. Berganti dengan wajah cantik yang sama sekali tidak lagi ia kenali. Bekas luka bakar yang merusak wajahnya sama sekali tidak lagi nampak di sana.
"Jadi kira-kira berapa bayaran dari kecantikan yang kamu ciptakan hari ini ?" Tanya Briana sambil menatap Rendi dari pantulan cermin.
Ga juga nampak terdiam di dalam ruangan itu. Ini bukan lagi Ana yang ia kenal di sekolah menengah atas dulu. Wajah yang kini ia lihat di pantulan cermin bukan lagi wajah cantik milik Ana nya.
"Aku rasa ini gratis, anggap saja sebagai bayaran karena kamu sudah mau menjadi kelinci percobaan ku." Jawab Rendi.
Briana tersenyum sambil menyentuh pipinya yang terlihat mulus bak porselen. Semua telah berubah, tubuhnya masihlah tubuh yang sama, akan tetapi wajahnya sudah berubah seratus persen. Sungguh ia lebih cantik dari yang dulu, dan pasti tidak akan ada yang bisa mengenali dirinya jika ia keluar dari ruangan ini.
"Apa perlu aku menyerahkan tubuh yang tidak di inginkan suamiku ini padamu ?" Tanya Briana lagi.
Rendi terkejut mendengar kalimat yang begitu serius dari bibir Briana. Dengan cepat ia melangkah keluar dari ruangan itu meninggalkan sahabatnya yang sudah mulai memerah karena kesal.
"Tenang saja, aku sudah menikah dua tahun tapi jangan ragukan keperawanan ku. Lelaki kejam itu sama sekali tidak menginginkan aku selama pernikahan kami, dan mungkin setelah melihatku yang baru dia akan sangat menginginkan aku. Untuk itu, sebelum aku menariknya ke atas ranjang, tidak ada ruginya jika kamu yang menikmati lebih dulu." Ujar Kiara lagi sambil sesekali melirik wajah terkejut Gama yang sudah memerah karena menahan kesal dari balik cermin.
"Briana, kamu mengenalku ?" Tanya Rendi.
"Tentu saja. Laki-laki brengsek yang selalu menghalangi langkah ku di sekolah." Jawab Briana santai.
Rendi kembali menatap sahabatnya, kemudian melanjutkan langkah kakinya keluar dari ruangan itu. Ia tahu saat ini Gama sedang menahan diri agar tidak mengamuk di dalam ruangan itu. Dan itu bukanlah urusannya.
"Bukannya kamu berjanji akan mencintai dirimu sendiri mulai sekarang ?" Ucap Gama lirih. "Lakukan apapun yang bisa membuat mereka merasakan apa yang kamu rasakan, tapi jangan jadikan dirimu sebagai umpan, percayalah kamu akan kembali tersakiti nanti." Sambungnya.
Briana tersenyum di depan cermin.
"Apa perlu aku mengganti nama ku ?" Tanyanya sambil menatap pantulan tubuh dari cermin, mengabaikan kalimat panjang lebar yang baru saja di ucapkan Gama.
Gama tidak menanggapi. Ia hanya menatap sendu wajah yang sedang berpura-pura bahagia dari cermin lebar yang ada di ruangan itu, dengan hati sedih. Ia tidak tahu berapa banyak luka yang di goreskan keluarga Atmaja dan juga keluarganya, hingga membuat Briana jadi seperti ini.
"Maafkan kami semua, Ana. Maafkan aku." Ucap Gama sedih.