
Malam yang panjang dan indah sudah terlewati. Kini, pagi yang indah kembali menyapa resort mewah itu. Briana duduk dengan diam di taman belakang resort, sambil memainkan kedua kakinya di dalam kolam renang yang membentang di tanah indah itu.. Sesekali ia menyeruput teh hangat yang ada di samping nya.
Senyum juga rona merah di wajahnya terukir dengan begitu cantik, kala otak nya kembali mengingat malam indah yang ia lalui bersama Gama semalam. Lelaki yang terlihat begitu haus akan dirinya, terlihat begitu menikmati malam indah itu. Tidak hanya Gama, tetapi dirinya pun ikut terlena dengan sentuhan-sentuhan lembut di tubuh nya. Meskipun perih karena memang ini adalah yang pertama kali baginya, tidak membuat keindahan itu berlalu begitu saja.
Kenangan terindah di sudut kota Bali. Di kota ini mereka memulai cinta, dan kota ini pula yang menjadi saksi bagaimana cinta mereka bertahta di singgasana sebuah pernikahan. Hal yang selalu ia inginkan bersama Dion dulu, kini di berikan Gama. Bahkan laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu memberikan lebih dari yang ia harapkan.
"Ngapain di sini?"
Briana terkejut saat tubuhnya di peluk dari belakang. Jangan di tanya lagi siapa yang sedang melakukan itu, jika bukan laki-laki yang baru beberapa menit lalu ia tinggalkan sedang terlelap di atas ranjang mereka.
"Nyariin kamu." Jawab Gama masih sambil memeluk tubuh Briana dari belakang. Kecupan berulang kali ia darat kan di kepala istri nya itu, sembari meminta pada sang Maha Kuasa untuk jangan lagi memisahkan mereka. "Ke kamar yuk." Ajak nya kemudian.
"Ayo sini deh, cobain ini. Ada banyak tempat yang nyaman di resort ini selain kamar." Jawab Briana membuat Gama tertawa geli.
"Takut yaa..." Goda nya, tapi tetap mengikuti apa yang di inginkan oleh istrinya itu. "Dan yang pasti lebih nyaman memeluk mu di dalam kamar." Sambung nya kemudian.
Briana tersenyum bersama rona merah yang terlihat begitu jelas di pipi nya yang mulus.
"Masih sakit?"
"Berhenti ga!" Ancam nya sambil menatap horor ke arah Gama. Ia tahu ke mana arah pembicaraan suaminya ini.
Gama tertawa keras. Melihat wajah menakutkan Briana, namun, tidak bisa menutupi merah di pipi wanita nya itu membuat nya gemas.
"Aku lapar, Ana." Rengek nya. Ia tidak ingin berlama-lama di luar ruangan seperti ini. Ia benar-benar ingin mengurung istrinya di dalam kamar, dan membuat kenangan indah yang tidak akan pernah bisa di lupakan oleh istrinya.
"Maaf ya." Briana beranjak dari duduknya, tak lupa ia mengambil cangkir bekas yang ia gunakan untuk menikmati teh hangat tadi.
"Bantuin dong." Gama mengulurkan tangannya. Briana pun meraih tangan suaminya itu, dan bersiap menariknya. Namun, senyum jahat langsung terlihat di sudut bibir Gama, hingga beberapa detik kemudian tubuh keduanya sudah masuk ke dalam kolam renang.
"Ya Tuhan, kalau mau ajak aku berenang bilang-bilang dong, Gama." Briana mengusap wajah nya yang terkena cipratan air kolam. Sedangkan Gama terus saja tertawa dengan raut wajah istrinya yang ingin sekali memakan nya hidup-hidup.
Beberapa saat kemudian, ia meraih tubuh Briana dan memeluk nya erat.
"Jangan tinggalkan aku." Ucap Gama pelan.
Briana terdiam, lalu beberapa saat kemudian senyum manis terlihat di sudut bibirnya. Tentu saja, ia tidak akan mau pergi walau sejenak. Ia ingin terus bersama dengan Gama seperti ini. Ingin menikmati lebih lama lagi, bagaimana rasanya di cintai dengan tulus oleh seseorang.
"Gama, jangan aneh-aneh, ini ruangan terbuka." Tahan Briana di tangan yang mulai menjelajahi tubuh nya.
"Di resort ini hanya ada kita berdua, jadi ngga akan ada yang lihat." Jawab nya. Ia lalu mendorong tubuh Briana hingga bersandar di pinggiran kolam renang.
"Gama." Lirih Briana saat bibir yang tadinya terus mengecup puncak kepalanya sudah berpindah ke atas bibir tipis nya. "Aku ngga nyaman." Ucapnya pelan.
Gama tidak mengindahkan, ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Kali ini tidak hanya bibir Briana yang menjadi tempat bibirnya bekerja, tetapi juga leher jenjang yang masih terdapat bekas ciuman nya semalam.
"Jangan di sini, Gama. Kita ke kamar ya." Bujuk Briana lagi dengan suara berat. Rangsangan di tubuh nya benar-benar tidak bisa ia tolak, ini sungguh membuat nya melayang.
Gama mengangguk paham. Ia memeluk tubuh Briana menuju tangga kolam, lalu membawa tubuh istrinya itu menuju kamar mereka.
Gaun yang tadinya masih melekat di tubuh Briana sudah terjatuh begitu saja di atas lantai. Menyisakan dalaman dengan warna yang begitu kontras dengan kulit putih Briana.
"Hati-hati ya, ini masih sedikit perih." Ucap Briana jujur dengan wajah memerah. Gama yang baru saja meletakkan Briana di atas ranjang terdiam sejenak.
"Maafkan aku. Kamu sih terlalu nikmat." Kekeh nya lalu beranjak dari atas tubuh Briana. Namun, wanita cantik dengan wajah yang sudah semerah tomat itu menahan lengan Gama agar tidak beranjak.
"Ga apa-apa, hanya sedikit perih kok." Ucap nya.
Gama tertawa keras melihat wajah istrinya yang sedang menahan malu.
"Kamu pengen juga?" Tanyanya menggoda.
"Ga usah!" Briana menarik selimut berwarna putih yang ada di atas ranjang, lalu membungkus tubuh nya yang hanya mengenakan dalaman itu, dengan cepat.
Gama semakin tertawa geli dengan sikap kekanakan Briana. Beberapa saat kemudian ia menarik paksa selimut putih yang sedang menghalangi pemandangan indah nya, lalu melempar selimut itu ke atas lantai kamar.
"Kita harus cepat-cepat buat anak, biar aku ga akan lama-lama menghabiskan waktu di kantor." Ucap nya. Tanpa mendapat kesempatan untuk menjawab, bibir Briana sudah di bungkam terlebih dahulu menggunakan bibirnya.
Tangan yang tadi menarik selimut putih, mulai melakukan aktivitas kesukaannya. Hingga beberapa saat kemudian, dalaman yang sudah basah dengan air kolam tadi, terbang entah ke mana.
"Ambil selimut, Gama. Aku ga nyaman." Pinta Briana saat tubuhnya tidak lagi memiliki pelindung apapun.
"Nanti." Jawab Gama.
Suara keduanya saling bersautan di dalam kamar mewah, saat tubuh mereka menyatu untuk yang kedua kali nya. Kerinduan yang di tahan sekian tahun lamanya, akan di bayar di tempat ini.
Kenangan indah yang baru, akan kembali terukir di sudut kota Bali ini. Kota yang menjadi tempat pertama kali mereka mengukir kisah. Dan di kota ini pula, kisah cinta itu di persatu kan dalam ikatan dengan Tuhan sebagai saksinya. Tidak hanya hari ini, tetapi juga di hari selanjutnya, sama seperti yang ia janjikan di atas altar. Cinta yang ia jaga selama bertahun-tahun lamanya, akan tetap ia jaga hingga nanti. Wanita yang kini berada di dalam kukungannya, akan selalu menempati ruang paling besar di dalam hati nya.