Briana

Briana
Bab 19. Leon Dan Clara



Di dalam mobil yang sedang melaju di jalanan, masih begitu hening. Keduanya sama-sama tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


Gama ingin menjelaskan banyak hal tentang kepergiannya keluar negeri dulu, namun, ia memutuskan untuk tidak melakukan hari ini. Biar bagaimana pun ada hal yang lebih penting, yang ingin segera di selesaikan oleh Briana, dan ia tidak akan merusak hal itu.


Hingga saat mobil mewah milik Gama sudah terparkir rapi di pelataran hotel, dua orang yang sedang melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh mereka itu, masih belum juga mengucapakan sepatah kata pun.


Briana menarik nafasnya dalam-dalam. Meskipun tidak ada perasaan apapun di hati Dion untuknya, tetap saja ia adalah wanita yang pernah masuk ke dalam hidup laki-laki itu.


Tangan Briana yang melingkar di lengan Gama, di lepaskan oleh lelaki itu, kemudian mengambil telapak tangan yang terasa dingin itu, dan menautkan jemari mereka.


Gama masih belum mengeluarkan kalimat apapun, dan hanya terus mengayunkan langkahnya masuk ke dalam ballroom hotel. Begitu pun dengan Briana. Gadis yang terus melangkah di samping Gama, hanya bisa menatap jemarinya yang sedang di genggam erat oleh laki-laki itu. Hangat, sungguh sangat hangat bahkan sampai menyentuh hatinya.


Para tamu undangan dari jajaran petinggi perusahaan hingga rekan bisnis Dion sudah terlihat hadir di dalam hotel itu. Briana berusaha keras untuk membuat wajahnya terlihat biasa saja, walau perasaanya mulai tidak karuan.


Beberapa saat setelah mereka tiba, suara dari pemandu acara mulai terdengar. Yah, raja dan ratu malam ini akan segera menaiki panggung yang sudah di hias dengan begitu megah di dalam ruangan itu, untuk mengucap janji suci di hadapan Tuhan


Kalimat merdu Dion sama seperti yang laki-laki itu ucapkan ketika berjanji akan menjaga dan menyayanginya. Briana tersenyum miris, berbagai rencana mulai bersarang di otaknya.


"Kita akan lihat, apa setelah ini Dion akan kembali melakukan hal yang sama pada Risa nanti, setelah bertemu dengan wanita baru." Gumamnya sinis.


Gama menatap Briana khawatir. Sungguh, ia mau membantu Briana untuk membalas dendam, tapi ia tidak rela jika laki-laki brengsek yang ada di atas panggung itu kembali menyentuh wanita yang ia cintai sekian tahun ini.


"Kak.."


Briana dan Gama sama-sama menoleh ke asal suara.


"Kamu datang juga ? Sama siapa ?" Tanya Gama hangat.


"Kak Leon." Lirihnya dalam hati.


"Ana, kenalin ini Clara dan ini Abang nya, Leon."


Gama memperkenalkan dua orang yang sudah bergabung di meja mereka.


Briana mengulurkan tangannya.


"Briana." Ucapnya.


"Wah jadi ini wanita yang sering Kak Gama ceritain pada ku ?" Seru gadis itu girang. "Cantik banget." Ucapnya lagi dengan mata berbinar.


Briana hanya menanggapi ocehan manis itu dengan senyum di bibirnya. Tangannya yang baru saja terlepas dari genggaman Clara berpindah pada laki-laki yang sedang duduk kebingungan sambil memperhatikan dirinya dengan begitu lekat.


"Briana." Ujarnya untuk menyadarkan Leon dari lamunan.


"Leon." Ucap laki-laki yang terlihat jauh lebih tampan dari yang dulu, masih dengan wajah yang kebingungan.


"Apa ada sesuatu ?" Tanya Gama pada laki-laki yang terus saja memperhatikan Briana.


"Namanya familiar. Seperti nama yang aku kenal, sayang gadis baik yang aku kenal itu meninggal dalam kecelakaan kurang lebih dua bulan yang lalu." Jawab Leon.


Gama menoleh pada Briana. Ia harus menanyakan hal ini nanti..