Briana

Briana
Bab 61. Rencana Pernikahan



"Gama, aku tidak salah kan memutuskan ini ?" Tanya Briana. Ia menatap lekat wajah laki-laki yang masih berdiri di belakang tubuhnya.


Dengan perlahan Gama melepaskan bahu Briana, kemudian memilih duduk di samping gadis yang ia cintai itu.


"Percaya padaku, ya ? Ini adalah keputusan yang paling baik, Ana. Keputusan ini seharusnya sudah sejak dulu terjadi, tapi mungkin Tuhan masih ingin menguji seberapa kuat perasaan aku. Tidak ada yang pernah berubah, bahkan setelah mengetahui kabar pernikahan mu pun, perasaan aku masih saja sama. Tidak ada yang pernah bisa menggantikan posisi kamu di dalam sini." Gama meraih tangan Briana, lalu meletakkan tangan lentik itu di atas dadanya. "Maaf aku terlambat. Maaf kamu masih sempat merasakan penderitaan yang begitu banyak. Maaf atas semuanya." Lirih nya.


Briana tidak lagi bersuara, ia segera membawa tubuh mungilnya dan terbenam dalam pelukan Gama. Pelukan yang ia harapkan, mulai hari ini bisa memberi perlindungan untuk nya. Pelukan yang ia harap tidak hanya memberikan kehangatan, tetapi juga rasa aman dan nyaman.


"Aku mencintai mu, Gama." Ucapnya pelan masih sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Gama.


Gama tidak menjawab suara pelan itu. Ia hanya semakin mengeratkan pelukannya sembari mengecup puncak kepala wanita yang ia cintai itu berulang kali.


"Kita pulang ke apartemen yuk ?" Ajak Gama.


Briana segera menarik tubuhnya dari pelukan Gama, lalu menatap laki-laki itu penuh curiga.


"Kau cuma mau nganterin kamu pulang, jangan negatif." Ucap Gama sambil tertawa.


"Ngga ada ya, jangan macam-macam dulu sebelum kamu nikahin aku." Ujar Briana tegas. Ia lalu beranjak dari atas tempat duduk yang ada di tengah taman itu, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah untuk berpamitan kepada kedua orang tua Gama.


Gama pun melakukan hal yang sama. Dengan wajah yang penuh kebahagiaan, ia beranjak dari atas kursi yang ia tempati, lalu mengikuti Briana masuk ke dalam rumah.


"Sayang, mulai hari ini aku tinggal di apartemen bareng kamu ya." Mohon Gama sambil melangkah di belakang Briana.


"Aku kasih pelukan gratis deh." Ucap Gama lagi memberi penawaran.


Briana menghentikan langkahnya sebentar, lalu berbalik dan menatap laki-laki yang terus saja bercerita.


"Bagaimana kalau kita nikah hari ini aja." Usul Briana. Tatapannya terlihat serius, namun, percayalah ia sedang berusaha sekuat tenaga agar tawanya tidak pecah.


"Benarkah ?" Tanya Gama antusias.


Briana mengangguk.


"Ya udah sini.." Tarik Gama di lengan Briana. "Aku mau bilang pada Papa dan Mama aku, kalau kita akan menikah hari ini." Sambung Gama lagi.


Briana tidak menimpali. Ia mengikuti ke mana Gama akan membawanya sambil sesekali melirik pergelangan tangannya yang sedang di genggam dengan begitu erat oleh Gama.


"Mam..." Panggil Gama. Ia terus menyusuri ruangan yang biasanya di gunakan oleh ibu nya, sambil terus menarik pergelangan tangan Briana. "Ke mana sih mereka ? Pasti lagi ngurung di kamar." Gumamnya kesal.


Briana semakin tidak bisa menahan tawanya saat mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Gama.


"Hei, aku bohong. Jangan hari ini, Papa dan Mama kamu butuh persiapan. Dan kita berdua pun harus mempersiapkan diri dengan baik terlebih dahulu." Briana berhenti melangkah.