
Karena tidak tahan lagi menahan gemuruh di dalam dada nya, Briana bergegas masuk ke dalam pelukan dan membenamkan wajah cantiknya di dada bidang Gama.
"Terimakasih sudah kembali menemukan ku, Gama." Ucap Briana.
Gama mengeratkan pelukannya di tubuh Briana.
"Maafkan aku yang terlambat." Ucapnya penuh sesal.
Briana menarik wajahnya, lalu mendongak menatap wajah tampan yang terlihat menyimpan banyak penyesalan itu dengan senyim di bibirnya.
"Aku akan membantu mu menyelesaikan ini dengan cepat. Tapi janji, jangan melebihi batas. Kamu milik aku sekarang." Ujar Gama lagi.
Melihat anggukan kepala Briana, Gama tersenyum lega. Tangannya mengusap lembut anak rambut yang menyembul dari handuk kecil yang membungkus rambut panjang Briana. Jelang beberapa saat kemudian, tubuh yang hanya berbalut bathrobe itu kembali terbenam dalam pelukannya.
****
Waktu berlalu begitu cepat. Suasana manis di dalam kamar sudah terlewati. Setelah memberitahu Dion bahwa ia akan di antar oleh seorang teman, kini, mobil mewah milik Gama mulai melaju di jalanan menuju perusahaan yang seharusnya menjadi milik Briana sejak dulu.
Setelah memberhentikan mobilnya di sisi jalan depan gedung megah dengan puluhan lantai, Gama melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh Briana, sembari memperingati wanita nya itu untuk jangan melebihi batas.
"Kamu tahu kan aku nekat. Aku bisa membunuhnya seperti ayah tiri kamu dulu, jika kamu membiarkan si brengsek itu menyentuh sehelai rambut mu !" Tegas Gama.
Briana terkekeh.
"Aku masih istrinya yang sah loh, jangan sampai kamu lupa." Ujar Briana meledak.
"Istrinya sudah meninggal dua bulan yang lalu, dan kamu yang sekarang bukan lagi istrinya." Jawab Gama.
"Aku pergi." Kecupnya di pipi Gama. "Ada apa ?" Tanyanya heran saat tangannya kembali di tahan saat hendak membuka pintu mobil mewah itu.
"Janji padaku kamu tidak akan pernah membiarkan Dion menyentuh mu walau hanya seujung rambut pun." Gama menggenggam erat tangan lentik itu sambil menatap penuh permohonan.
Briana kembali tersenyum, lalu mengangguk memastikan.
"Dia sudah membenciku selama bertahun-tahun, Gama. Dan itu akan terus berlanjut hingga ia mati nanti." Jawab Briana dingin.
Gama mengangguk paham.
"Apapun yang terjadi, kamu tidak sendirian sekarang. Ada aku, Mama, Papa dan semua keluarga ku akan siap mendukung mu." Ujarnya.
Briana kembali mengangguk lalu keluar dari dalam mobil itu. Wanita cantik dengan gaun selutut itu, masih berdiri di pinggiran jalan, hingga mobil yang di tumpangi Gama berlalu dari sana. Debaran bahagia yang sejak pagi ini singgah di hatinya, menghilang sekejap saat tatapan nya sudah tertuju pada gedung berlantai yang ada di depan sana.
Dengan langkah kaki yang terlihat begitu anggun, Briana memasuki pelataran gedung yang tidak asing lagi dalam ingatannya itu.
Saat memasuki lobi kantor, Briana bergegas menuju meja resepsionis untuk memperlihatkan pesan yang di kirimkan Dion hari ini. Pegawai itu sepertinya suah terbiasa dengan kebiasaan bos mereka yang suka dengan banyak wanita. tanpa banyak bertanya, gadis dengan pakaian formal itu segera menghubungi bagian sekretaris bos nya untuk memberitahu tamu yang berkunjung ke perusahaan mereka pagi ini.
Setelah mendapat persetujuan, gadis itu mempersilahkan Briana untuk naik lift menuju lantai atas di mana ruangan direktur perusahaan berada.
"Kasian banget ya si Risa, baru aja semalam jadi Nyonya, eh bentar lagi di ganti. Aku sih lebih baik Bu Briana ya."
Briana tersenyum mendengar gunjingan dari para karyawan yang ada di meja resepsionis. Dengan santainya, ia memencet tombol lift dan masuk ke dalam kotak besi itu. Senyum jahat di bibirnya terlihat saat mengetahui jika salah satu petugas resepsionis, menghubungi Risa dan memberitahu kedatangannya. Yah, karyawan-karyawan cantik itu mengurangi pekerjaannya.
Di waktu yang sama, sosok yang seharusnya sudah pergi dengan mobil mewahnya, kini memasuki pelataran. Sungguh, ia tidak mau membiarkan sesuatu yang buruk terjadi dengan meninggalkan Briana sendirian di sini.