
Leon termenung di salah satu kursi yang ada di dalam salah satu restoran mewah di kota Jakarta. Lelaki itu sesekali melirik pintu menuju toilet yang baru saja di lewati adik angkat nya. Perlahan ia mengeluarkan kotak cincin berwarna merah yang sudah di siapkan oleh kedua orang tua angkat nya. Entah apa yang ia lakukan kini, yang pasti gadis yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya ini memang menempati ruang di hatinya, meskipun ruang itu tak sebesar ruang untuk gadis di masa lalunya yang kini tidak lagi berada di dunia.
Saat melihat Clara kembali melangkah menuju ke arahnya, ia kembali memasukkan kotak cincin itu ke dalam saku celananya.
"Ra." Panggilnya pelan.
Clara yang baru saja duduk di kursi yang ada di hadapan Leon, terdiam sebentar. Makan malam berdua seperti ini, sudah biasa mereka lakukan. Tidak hanya makan malam, tapi makan siang pun sering kali mereka lakukan bersama. Hubungan keduanya memang terjalin sangat baik. Leon tidak hanya bersikap seperti kakak baginya, tetapi juga bagaikan seorang sahabat yang mampu membuat hatinya merasa lebih baik. Hingga akhirnya, ia menempatkan Leon dalam ruang spesial di hatinya.
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Ucap Leon.
"Bicaralah, Kak. Bukannya kalau punya sesuatu yang hendak di bicarakan, Kakak tidak akan sungkan bercerita dengan ku?" Tanya Clara heran. "Untuk hal yang aku katakan siang tadi, jangan di masukin di hati, Kak. Maafkan aku jika membuat Kakak tidak nyaman. Aku hanya ingin mengutarakan apa yang aku rasakan, itu aja." Sambungnya merasa bersalah. Sungguh ia tidak ingin Leon menjauh dari nya hanya karena perasaan sepihak yang ia miliki. Tak masalah jika Leon tidak bisa membalasnya, toh itu hal yang normal.
"Aku... " Leon terdiam.
Clara terkekeh melihat kegugupan di wajah kakak angkat nya. Ini pertama kalinya ia melihat Leon seperti orang yang takut mengutarakan sesuatu.
"Sebelum semuanya terlalu jauh, aku mau menceritakan seseorang yang masih menempati sebagian ruang hatiku." Ujar Leon membuat Clara terdiam seketika.
"Gadis itu bernama Briana." Ucap Leon membuat Clara terperanjat.
"Jangan bilang Briana itu adalah Briana yang sama...
" Aku ga tahu Clara. Yang aku tahu, Briana yang aku cintai sudah meninggal dua bulan yang lalu karena kecelakaan mobil. Jasad nya bahkan tidak di temukan oleh petugas. Dan baru beberapa hari ini aku mendapat kabar, jika kecelakaan itu memang di rencanakan oleh suaminya sendiri.. "
"Dion Atmaja." Tebak Clara dan di benarkan oleh Leon dengan anggukan kepalanya.
Tangan Clara terulur, lalu mengusap lembut punggung tangan kakak angkat nya itu.
"Jika kamu bisa menerima sebagian hatiku masih di tempati oleh nya, maka aku bersedia melangkah lebih jauh dari sekedar berpacaran. Jika kamu tidak keberatan dengan hal yang baru saja aku utarakan, maka aku bersedia menikah dengan mu." Ujar Leon yakin.
"Langsung nikah?" Tanya Clara memastikan, dan lagi-lagi Leon mengangguk. "Kak, itu terlalu terburu-buru." Ucap Clara.
Leon menggeleng.
"Kita sudah cukup saling mengenal sekian tahun. Aku sudah tahu seperti apa diri mu, begitu pun kamu. Kita sudah tinggal serumah selama bertahun-tahun. Jadi, aku pikir, kita tidak perlu lagi berpacaran hanya untuk saling mengenal." Ujar Leon.
Clara menatap Leon dengan dalam. Mencari ketahuan di mata laki-laki yang siang tadi baru saja menolak cinta nya itu, namun, ia tidak menemukannya.
"Kakak serius?" Tanya Clara memastikan.
"Kak, jangan terbebani dengan pernyataan cintaku siang tadi." Ucap Clara pelan. Perlahan ia melepaskan tangannya dari punggung tangan Leon.
"Tidak, Ra. Aku sama sekali tidak terbebani dengan pengakuan mu tadi, hingga melakukan hal ini. Aku memang berniat menghapus nama gadis yang tidak bisa aku miliki itu, dan aku berpikir ini adalah cara yang tepat. Aku menyayangimu sama seperti aku menyayangi nya dulu. Itu berarti, dengan berjalannya waktu, aku pasti akan mencintai mu juga, sama seperti waktu membuat rasa sayang untuk nya dulu, berubah menjadi cinta." Jawab Leon.
Kali ini ia memberanikan diri menggenggam tangan adik angkat nya itu. Berharap, keyakinannya malam ini, menular pada gadis yang kini tertunduk dalam di hadapannya.
"Hanya beri aku waktu." Ucapnya lagi.
"Itu bukan masalah bagi ku, Kak. Toh, wanita yang bernama Kak Briana itu tidak lagi berada di dunia yang sama dengan kita. Yang aku takutkan, Kakak melakukan ini semua hanya semata untuk menjaga perasaan ku." Jelas Clara.
Leon menggeleng tegas. Ia yakin dengan keputusannya hari ini. Setelah kepergian Briana beberapa tahun yang lalu dari kota Bali, hingga saat ini, tidak ada gadis yang mampu menempati hatinya selain Clara. Ia menyayangi gadis yang sedang duduk di hadapannya ini, sama seperti ia menyayangi Briana dulu, ketika mereka masih sama-sama menjadi pegawai paruh waktu di restoran yang ada di kota kelahiran mereka.
"Apa yang harus aku lakukan, Kak? Apa perlu aku membujuk Ayah soal ini?" Tanya Clara cepat.
"Kamu setuju? Kamu mau menikah dengan ku?" Leon balik bertanya. Dan Clara mengangguk cepat.
Senyum di wajah Leon terlihat, di sertai hembusan nafas lega yang berhembus dari bibirnya. Beberapa saat kemudian, ia mengeluarkan kotak cincin berwarna merah dari dalam saku celananya, lalu membuka kotak cincin itu di depan Clara.
"Kakak sudah menyiapkan ini? Kapan?" Tanya Clara beruntun.
Dengan perlahan tanpa menjawab pertanyaan dari Clara, Leon mengeluarkan cincin emas putih dengan berlian di atasnya laku menyematkan cincin itu di jari manis Clara.
"Jika Ayah tidak merestui kita, aku siap kawin lari dengan mu, Kak." Ujar Clara dengan air mata yang menetes di pipinya.
Leon tertawa geli dengan kalimat yang baru saja di ucapkan oleh gadis kecil nya. Setelah memastikan cincin yang di berikan oleh sang Ayah tadi, sudah tersemat dengan indah di jari manis Clara, ia lantas mengusap lembut butiran yang menggenang di pipi gadis nya itu.
"Tenang aja, aku siap menyebrangi lautan jika Ayah meminta itu. Apapun akan aku lakukan agar bisa menikahi mu." Ucap Leon menggombal.
Clara melotot saya mendengar kalimat yang mustahil di ucapkan oleh laki-laki seperti Leon. Beberapa saat kemudian, kedua orang itu tertawa bersama.
"Kakak tenang aja, biar aku yang membujuk Ayah. Pokoknya Kak Leon hanya mempersiapkan diri untuk menjadi suami ku aja, udah. Ga usah pikirin menyebrangi lautan, ga akan aku biarkan." Ujarnya.
"Ngga usah, biar aku yang akan berjuang untuk mu." Leon kembali berkata sambil menahan tawa geli saat melihat Clara lagi-lagi terkejut dengan gombalannya.
"Ih, aku jadi pengen nikah malam ini. Aku mau minta Ayah menyiapkan pernikahan kita malam ini." Ujar Clara gemas.
Leon melotot terkejut. Habislah dia jika Clara benar-benar meminta pada sang Ayah untuk menikah kan mereka malam ini juga.