Briana

Briana
Bab 25. Ayo Kita Menikah



Mobil yang di kendarai Gama sudah berhenti di depan gedung apartemen tempat Briana tinggal. Apartemen yang di berikan kedua orang tuanya sebagai penembus rasa bersalah karena sudah membuatnya pergi meninggalkan Briana beberapa tahun yang lalu.


Briana keluar dari dalam mobil itu, begitupun dengan Gama. Lelaki itu ikut keluar dari dalam mobilnya, lalu ikut melangkah masuk ke dalam apartemen di mana Briana tinggal. Malam ini, ia akan menjaga gadis kepala batu ini agar tidak keluyuran ke mana-mana.


Di dalam lift, jemari mereka masih saling bertautan. Lelaki itu sama sekali tidak ingin melepaskan tangan yang berada di dalam genggamannya.


"Pikirkan apa yang aku katakan tadi. Kamu tidak akan rugi menerima nya, karena aku masih sangat mencintai mu." Ucap Gama di dalam lift yang masih terus naik menuju lantai dua puluh tiga di mana unit apartemen Briana berada. "Aku tidak akan menghalangi rencana balas dendam mu. Aku bahkan bisa berjanji akan selalu membantumu untuk mengambil alih semua yang seharusnya menjadi milik mu. Lakukan apapun yang menurutmu bisa membuat kamu puas, tapi aku memohon dengan sangat, jangan rusak dirimu hanya demi ingin membuat mereka hancur. Kamu tahu Ana, membalas dendam tidak perlu bersusah payah membuat mereka menderita dengan mengorbankan diri mu sendiri. Tapi buatlah dirimu sendiri bahagia, melebihi kebahagiaan mereka. Biarkan Tuhan yang membalas semua perbuatan merek itu. Percaya padaku, hukum tabur tuai masih berlaku di dunia." Sambungnya.


Briana membisu. Bahkan dentingan lift yang sudah berhenti di lantai dua puluh tiga pun, gadis itu masih menutup mulutnya rapat-rapat. Jemari mereka masih saling bertautan. Setelah Gama memasukkan passcode di pintu apartemen, keduanya melangkah masuk ke dalam. apartemen itu.


"Tidurlah, aku akan pergi setelah kamu terlelap." Ujar Gama sambil melepaskan genggamannya di tangan Briana.


Briana mengangguk, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. Malam semakin larut, sebentar lagi pagi yang indah akan menyapa hidupnya. Ada banyak hal hang harus ia siapkan untuk memulai misinya besok pagi.


Apakah mereka akan langsung bercerai tepat di malam pengantin karena ulah dirinya ? Sepertinya itu terlalu mudah untuk membalas penderitaan nya selama ini.


Briana membawa tubuhnya menuju ranjang yang ada di dalam kamar apartemen mewah itu. Ia mengabaikan benda yang terus bergetar dari dalam tasnya. Rasanya ia baru saja menutup matanya, namun, cahaya mentari mulai masuk ke dalam kamar dan mengganggu mimpi panjangnya.


Briana masih mengeratkan pelukan pada selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Tatapannya tertuju pada laki-laki yang juga sedang menatapnya hangat.


"Kamu ga pulang ?" Tanyanya lembut.


Gama tersenyum mendengar pertanyaan itu. Beberapa saat kemudian ia menjawab pertanyaan Briana itu dengan gelengan kepala.


"Tidur sambil memelukmu jauh lebih menyenangkan dari pada tidur di kamar sendirian." Jawab nya masih dengan senyum hangat yang semakin membuat hati Briana menghangat.


"Ayo kita menikah." Putusnya.


Gama terkejut, namun senyum di bibir tipisnya semakin mengembang saat mendengar tiga kata yang paling ia nantikan dalam hidupnya.


"Tapi dengan syarat." Ujar Briana.


Gama melangkah mendekat, lalu duduk di samping ranjang di mana Briana sedang terbaring. Tangannya terulur dan mengusap lembut rambut panjang yang tergerai begitu saja di atas bantal.