
Gama masih terlihat kesal. Bayangan saat Dion berada di dalam apartemen Briana, sedangkan dirinya tidak di izinkan menginap, membuatnya sangat kesal.
"Siapa yang membawa si brengsek ini kemari ?" Gama menarik tangannya yang sedang berada di atas pangkuan Briana.
"Berikan tangan mu, Gama." Briana kembali menarik tangan Gama dengan hati-hati, tanpa mempedulikan pertanyaan kesal dari laki-laki yang ia cintai itu.
"Persetan dengan tangan ku ini, Ana. Aku ga peduli dengan apa yang terjadi dengan tangan ku. Yang aku mau sekarang, jawab pertanyaan ku. Siapa yang membawanya kemari ? Apa kamu mengundangnya setelah aku pergi tadi ?" Tanya Gama dengan raut wajah yang semakin kesal.
"Jika aku mengundangnya kemari, aku tidak akan menghubungi mu." Jawab Briana lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Mengusap dengan penuh hati-hati, tangan yang berada di atas pangkuannya. "Aku sangat berterima kasih pada tangan ini. Tangan yang selalu melindungi ku." Ucapnya lagi.
Gama tidak lagi bersuara. Ia hanya menatap gadis cantik yang ia cintai, dengan hati yang sulit di jelaskan. Melihat Dion berada di dalam apartemen yang sama dengan Briana sedikit membuatnya kecewa, akan tetapi melihat sikap Briana saat ini membuatnya lega.
"Selesai." Ucap Briana setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Gama ikut tersenyum, lalu menarik tubuh kecil Briana ke dalam pelukannya. Briana pun seakan menikmati pelukan hangat itu, hingga melupakan laki-laki yang masih tergeletak di atas lantai apartemennya.
"Jangan pernah menampakkan dirimu di sini. Jika kamu masih melakukannya, dan mencari tahu tentang ku lebih jauh, maka jangan salahkan aku atas apa yang akan kamu dapati nanti setelah mengetahui siapa diriku sebenarnya." Ujar Briana dingin.
"Apa kamu adik kandung dari mendiang istriku ?" Tanya Dion pelan. Ia menoleh, menatap gadis cantik yang sedang duduk di atas sofa tidak jauh dari lantai tempat tubuhnya berada. Wajahnya sudah membiru karena pukulan Gama. Bahkan sedikit darah terlihat di sudut bibirnya, karena kegilaan laki-laki yang juga masih berada di dalam ruangan itu. "Apa kalian memang memiliki hubungan spesial ?" Tanyanya lagi. Sungguh, ia tidak bisa mempercayai, jika hubungan dua orang yang sedang duduk di atas sofa tidak jauh dari tempatnya berada itu, hanyalah sebatas hubungan antara klien dengan wanita penghibur.
"Yah, dia calon istriku !" Tegas Gama. Tatapannya masih begitu menakutkan.
"Aku pikir hanya orang rendahan sepertiku yang berminat dengan gadis penghibur." Kekeh Dion mencemooh.
Gama bersiap untuk kembali memberi pelajaran pada laki-laki yang baru saja menghina Briana. Namun, wanita kesayangannya itu justru menahan tubuhnya agar tetap duduk di sofa itu.
"Aku pikir kamu benar-benar sudah menjadi laki-laki yang tulus. Aku bahkan sudah berniat untuk tidak lagi melanjutkan rencana ku, tapi sepertinya itu sangat tidak menyenangkan. Memberikan sedikit pelajaran pada laki-laki sepertimu, bukanlah sebuah kesalahan." Briana duduk dengan tenang di atas sofa, sambil memandang remeh laki-laki yang masih terduduk di atas lantai dengan wajah penuh memar mengenaskan. "Pulanglah ke rumah. Tunggu dan nikmatilah apa yang akan datang menimpamu setelah ini." Sambungnya.
Dion beranjak dari tas lantai, lalu melangkah keluar dari apartemen dengan tubuh yang remuk.