
Apa yang kau tabur, itu pula yang akan kau tuai. Baik atau pun buruk, itu pula yang akan kau dapatkan nanti. Kalimat ini sangat pas untuk Dion. Meskipun kejahatan itu tidak dia lakukan seorang diri, tapi ia memilih bertanggung jawab seorang diri. Melindungi orang yang ia cintai, dengan cara seperti ini, sengaja ia lakukan. Berharap jika melakukan hal ini, rasa bersalah karena sudah membuat gadis tak bersalah menderita, akan sedikit berkurang.
Hari ini sidang putusan. Dia sudah ikhlas, tidak, lebih tepatnya pasrah dengan apa yang akan menjadi keputusan para hakim nanti.
"Kenapa kalian melakukan ini?" Tanya Dion saat Kevin menyodorkan selembar kertas. Tidak hanya itu, lelaki yang sejak awal ingin menjebloskan dirinya ke dalam penjara ini, membawa satu orang pengacara yang cukup terkenal dalam dunia bisnis.
"Ini adalah permintaan khusus seseorang. Jangan berpikir aku berubah menjadi orang baik. Tidak, Dion. Aku, Kevin Sanjaya sangat membenci laki-laki pengecut seperti dirimu. Tapi, karena orang itu masih menyayangi mu sebagai seorang saudara, dan meminta ku melakukan yang terbaik untuk mu, karena itulah aku berada di hadapan mu sekarang." Jawab Kevin. "Tenang saja, hukum akan tetap berjalan sebagai mana mestinya. Yang aku lakukan hari ini, hanya akan mengurangi hukuman, bukan untuk menghapus nya." Sambung nya.
Setelah mengatakan itu, Kevin keluar dari ruang pertemuan. Memberikan waktu kepada pengacara yang ia bawa, untuk berbicara dengan Dion.
Sepeninggal Kevin, Dion mengambil selembar kertas yang di tinggalkan oleh laki-laki itu, dan membaca nya deng seksama. Mata nya berkaca, ia sangat tahu ini adalah tulisan Briana. Di mana gadis itu, sekali saja Tuhan masih memberikan kesempatan untuk nya, bertemu. Ia akan bersimpuh memohon maaf pada wanita yang sampai hari ini masih mau menganggap diri nya sebagai saudara, meski berulang kali ia mematahkan hati gadis itu.
Dion mengusap matanya yang sudah di genagi dengan air mata. Bukan karena persidangan yang membuat nya menangis, namun, perasaan bahagia saat mengetahui jika adik nya, wanita yang kini mengisi hati nya, ternyata masih hidup.
"Jalani prosesnya dengan baik, kamu pasti akan segera keluar dari tempat ini." Ucap Pengacara yang mendampingi Dion itu.
Dion menggeleng. Bukan keluar dari sini yang ia idamkan. Ia sadar, kesalahannya memang harus di pertanggung jawabkan. Setidaknya, dengan melaksanakan hukuman ini, rasa bersalah di dalam hatinya akan sedikit berkurang.
Dengan di dampingi pengacara, Dion melangkah menuju ruang persidangan. Apapun yang akan di tetapkan oleh hakim nanti, ia tidak berniat mengajukan banding atau apapun itu. Ia hanya akan menjalani hukuman ini sebagai penebus rasa bersalah karena telah melukai Briana.
Semua akan ada timbal balik nya. Perbuatan baik atau pun buruk, akan selalu ada bayarannya. Setelah ini, jika Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menghirup udara segar, ia akan menemui adik nya itu, dan memohon maaf. Mungkin kata maaf tidak akan terlalu berarti setelah sekian banyak luka yang ia berikan pada Briana, namun, setidaknya hatinya akan jauh lebih lega.