
Di dalam salah satu ruangan di sebuah rumah sakit mewah yang sedang di jaga ketat oleh para pria berseragam serba hitam, terdapat seorang pria yang terus menatap nanar ke arah wanita yang belum juga sadarkan diri, padahal waktu sudah beberapa hari berlalu.
"Maafkan aku." Ucap Gama lirih. Ia menatap tubuh kurus Briana dengan hati perih. Bagaimana tidak, selama ini ia berharap Briana sudah bahagia dengan kehiupan dan keluarga baru nya. Namun, apa yang ia dapati beberapa hari ini, berbanding terbalik dengan apa yang ia harapkan.
Briana terluka. Ana nya sedang tidak baik-baik saja.
"Ku nmohon maafkan aku." Lirihnya lagi bersama satu tetes cairan bening merembet membasahi pipi yang terlihat begitu tak terurus sejak menemukan Briana hampir kehilangan nyawa beberapa hari yang lalu.
"Nak.."
Gama semakin tertunduk dalam. Usapan lembut di punggung kokohnya, tak membuat wajahnya terangkat. Rasanya, ia tidak sanggup untuk wanita yang belum sadarkan diri di atas ranjang pasien.
"Hei.."
Keyla kembali bersuara dengan begitu pelan dan hati-hati.
"Kalian tega, Mam." Ucap Gama lirih.
Keyla terdiam, matanya ikut berkaca saat melihat keadaan putranya yang sama terluka nya dengan pasien yang ada di hadapannya.
"Maafkan Mama. Jika Mama tahu keadaan Briana akan menjadi seperti ini, Mama tidak akan mengizinkan Om Alfin membawanya." Jawab Keyla dengan rasa sesal yang menghantam dada. Tatapannya kembali tertuju pada gadis yang belum juga sadarkan diri di atas ranjang pasien.
"Mulai sekarang, aku sendiri yang akan menjaganya." Putus Gama.
"Dia masih berstaus sebagai iatri orang, Gama." Sela Keyla.
Gama menggeleng tegas, lalu meraih remit TV dan menyalakannya. Acara jumpa pers yang di adakan oleh Dion Atmaja kembali terliha di layar TV yang ada di dalam ruangan itu.
"Suaminya tidak perduli dengan Ana, Mam. Mereka sudah menghentikan pencarian. Ana bahkan belum sepuluh hari menghilang, dan mereka sudah mengambil keputusan itu ? Dia sama sekali tidak mencintai Ana - ku. Dan aku sendiri yang akan membuktikan jika mereka terlibat dengan kecelakaan itu." Ujar Gama dengan tangan terkepal.
"Nak, itu bukan urusan kita." Ucap Keyla. Sungguh, ia tidak ingin putranya terlibat masalah dengan siapapun. Menahan Briana di rumah sakit ini tanpa sepengetahuan pihak Atmaja Group saja, sedikit membuatnya cemas. Apalagi putranya berniat akan membuat perhitingan dengan orang-orang seperti itu.
"Aku bahkan berani membunuh laki-laki yang berani menyentuh Ana dulu. Lalu apa bedanya dengan sekarang ? Mereka menyabotase mobil yang Ana pakai, Mam. Mereka sengaja ingin membuat Ana menghilang dari dunia ini, dan Aku tidak akan pernah membiarkan orang-orang seperti itu hidup di bumi yang sama dengan ku." Ujar Gama.
Keyla terdiam. Ia tidak bisa mencegah Gama saat ini juga. Namun, ia pasti bisa membujuk putranya untuk tidak melangkah terlalu jauh ke dalam bahaya.
"Mama akan meminta Papa kamu untuk membantu. Bang Kevin juga pasti akan menyelidiki kecelekaan itu. Semua akan baik-baik saja. Ana akan kita pastikan sembuh dari semua luka ini. Mama akan membantu mu. Jangan bertindak sendirian, yah..." Bujuk Keyla.