
Briana masih duduk terdiam di atas sofa yang ada di dalam ruangan mewah HG Group. Gadis dengan rambut terurai cantik itu hanya terus mendengarkan penjelasan dari pemilik perusahaan tempat ia berada. Banyak hal yang ia lewatkan, karena memang saat itu memorinya sama sekali tidak mengingat apapun lagi tentang Gama.
Laki-laki dewasa yang terus bercerita banyak hal di hadapannya, di iringi kata maaf yang entah sudah ke berapa kalinya, seakan tidak pernah lelah mengatakan jika Gama mencintai nya. Meskipun ia sudah mengetahui hal ini saat terjaga dari koma nya sebulan yang lalu, tetap saja ada rasa hangat yang terasa di hatinya.
"Menikahlah dengan Gama." Ujar Kevin lagi, dan langsung mendapat pukulan dari istrinya.
"Jangan dengarkan orang bodoh ini, Briana." Ujar Flora menimpali.
Briana tersenyum, lalu menoleh menatap Gama yang juga terlihat kesal karena ucapan Kevin beberapa saat yang lalu.
"Aku meminta Abang membantu membujuk Briana, bukan melamarnya." Kesal Gama.
Briana tertawa geli melihat penampakan yang ada di dalam ruangan itu. Apa orang-orang kaya memang selalu bersikap konyol seperti ini ? Entahlah. Yang jelas ini sangar menyenangkan.
"Semua orang tidak pernah luput dari kesalahan, Briana. Berikan Gama satu kesempatan lagi. Ini buan sepenuhnya kesalahan dia. Tapi kamilah yang membawa mu hingga berada dalam keadaan seperti hari ini." Ujar Flora. "Meskipun aku tidak mengetahui persis apa yang terjadi dalam keluarga Sanjaya saat itu, karena memang aku sedang menempuh pendidikan kedokteran di luar negeri. Namun, yang aku tahu Gama bukanlah orang yang akan membiarkan orang yang ia cintai terjebak dalam kehidupan yang menyedihkan." Sambung Flora.
Briana menoleh, menatap laki-laki yang terus saja bersikap konyol padahal mereka sedang terjebak dalam situasi seperti ini.
Briana pun ikut tersenyum. Dia ikut bahagia melihat kekompakan keluarga ini dalam menyelesaikan masalah yang ada.
Flora meraih tangan Briana lalu menggenggam nya dengan erat.
"Mulai sekarang kamu tidak lagi sendirian. Jika punya sesuatu yang ingin kamu bicarakan, kamu bisa datang padaku. Ada Aunty Key, ada Sasa juga. Kami semua siap mendukung kamu dalam hal apapun, termasuk jika kamu ingin menolak menikah dengan Gama." Ujar Flora lagi lalu tertawa lepas karena langsung mendapat tatapan horor dari Gamaliel.
****
Jika di ruangan mewah milik Kevin di penuhi kehangatan serta tawa bahagia dari orang-orang yang sedang berada di dalamnya. Berbeda dengan keadaan yang ada di ruangan Dion. Sepasang suami istri yang seharusnya menikmati momen-momen sebagai sepasang pengantin baru, terus saling meneriaki. Beradu siapa yang paling benar dalam masalah yang baru saja terjadi mereka.
"Di mana kamu yang dulu ? Kamu janji kita akan hidup bahagia bersama setelah membuat wanita bodoh itu pergi. Mengapa kamu berubah sampai sejauh ini ?" Risa masih saja berteriak pada laki-laki yang sedang berada di hadapannya.
"Aku merasa bersalah padanya, Risa. Aku baru menyadarinya sekarang, jika aku merasa kehilangan gadis yang tidak bersalah itu. Dia bahkan sudah menyetujui permintaanku yang ingin bercerai. Ia bahkan hanya meminta sedikit uang untuk bertahan hidup setelah berpisah dari ku, tanpa berniat mengambil alih perusahaan Papa." Dion berusaha untuk berbicara sedikit lebih baik dan lembut pada istrinya.