
"Hai Aunty Ana..." Teriak tiga anak menggemaskan dari kursi belakang.
Briana terkejut mendapat sambutan dari anak-anak sahabatnya. Ia berpikir, hari ini Sasa hanya datang seorang diri, tapi ternyata ibu dari tiga orang anak itu membawa serta pasukan nya.
"Hai.." Sapa Briana. "Si cantik ini siapa namanya ?" Tanya Briana sambil menatap lekat gadis kecil yang duduk diam di antara kedua abang nya.
"Karin, Aunty." Jawab gadis kecil itu.
Sasa tertawa geli karena mencuri nama belakang Briana untuk putrinya.
"Cantik seperti orangnya." Jawab Briana.
"Kalau yang tampan ini, namanya siapa ?" Tanya Briana pada dua anak yang duduk mengapit adik kecil mereka.
"Aku Ken, Aunty.." Jawab si sulung. "Dan aku Keith." Si nomor dua menimpali.
Briana tersenyum, lalu mengangguk mengerti. "Ken, Keith dan Karin. Baiklah Aunty akan mengingatnya dengan baik." Ujar Briana.
"Maaf ya, aku pinjam nama ibu kamu untuk putri ku." Ucap Sasa.
Briana menatap ke arah sahabatnya, lalu mengangguk.
"Dia ibu yang hebat karena sudah berhasil membawa gadis kuat seperti dirimu ke dunia." Ucap Sasa lagi.
"Tapi dia bukan wanita baik-baik seperti dirimu." Jawab Briana.
"Baik dan tidaknya seseorang, tergantung dari penciptanya, Ana. Kita yang hanya sesama manusia biasa, tidak memiliki kapasitas untuk menilai. Aku yakin kok beliau adalah orang yang baik, hanya saja mungkin keadaan yang memaksa beliau untuk melakukan hal seperti itu" Ujar Sasa.
"Di tengah nestapa kehidupan nya, beliau tetap mempertahankan dirimu. Jika aku berada di posisi nya, belum tentu akan sekuat itu." Sela Sasa.
Briana tidak lagi menimpali. Gadis cantik itu mengalihkan tatapannya dari Sasa, lalu menatap keluar jendela mobil. Banyak pertanyaan yang kini hinggap di benaknya tentang sang ibu. Apakah wanita yang selalu mengorbankan apa saja untuk dirinya itu sudah baik-baik di sana ? Apakah wanita yang selalu menderita di dunia, sudah bahagia di sana ? Semoga.
Mobil milik Sasa mulai melaju di jalanan. Briana sesekali melirik tiga bocah yang begitu menggemaskan di bangku belakang. Sungguh sempurna hidup dari sahabatnya ini, begitu pikirnya. Sejak dulu, Sasa memang sudah memiliki kehidupan yang beruntung.
"Nanti setelah nikah, kamu pasti bakal punya anak banyak." Ucap Sasa.
Briana mengalihkan tatapannya dari ketiga bocah tersebut, lalu menatap sahabatnya dengan pipi yang bersemu.
"Kenapa merona ? Kalian sudah buat anak lebih dulu yaa.." Tebak Sasa dan langsung mendapat pukulan dari Briana.
"Gila ya, kamu ngga lihat ada anak-anak kamu di dalam mobil ini." Kesal Briana karena di tuduh cetak anak duluan.
"Yah, siapa yang ngga curiga coba. Kalian sudah tinggal bareng." Bisik Sasa lalu tertawa geli. Sedangkan Briana semakin merona, ketika ingatannya kembali mengingat dua malam yang ia habiskan bersama Gama.
"Dia hanya peluk aku kok, ga lebih." Briana berpaling. Gadis cantik itu kembali menatap mobil-mobil yang sedang berlalu lalang di jalanan yang sama dengan mereka.
"Setelah menikah kamu tidak akan lagi kesepian, Briana. Kamu pasti akan memiliki pasukan menggemaskan seperti ini. Teriakan mu akan selalu menggema di dalam rumah." Ujar Sasa memberitahu apa yang dia alami setelah memutuskan untuk memiliki banyak anak.
"Berteriak ?" Tanya Briana tidak mengerti.
"Iya berteriak. Apa saja yang ada di rumah selalu menjadi bahan rebutan. Untuk itu, seorang ibu harus memiliki pita suara yang sehat." Kekeh Sasa menjawab.
Briana kembali melirik pasukan menggemaskan yang ada di belakangnya.