
"Di mana lagi dia berani menyentuh mu ? Aku harus menghapus jejaknya." Ujar Gama saat keduanya sudah berada di dalam mobil. Ia memasangkan sabuk pengaman di tubuh Briana dengan hati-hati.
"Ga usah cari-cari alasan buat nyentuh aku." Jawab Briana ketus sambil terus merapikan rambutnya, dan membiarkan laki-laki gila di sampingnya, memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya. "Apa yang kamu lakukan ?" Pukul Briana di kepala Gama karena laki-laki itu berani mengecup bibirnya.
"Aku menghapus jejak si brengsek itu. Setelah mengucapkan janji suci di atas altar, kalian berciuman kan ?" Tebak nya kesal. Ah, sungguh mengesalkan membayangkan hal yang seharusnya ia lakukan pada Briana, justru di lakukan oleh orang lain.
"Gila ya ! Dion tidak pernah mencium bibir ku, sialan. Kamu mencuri ciuman pertama ku dengan cara seperti itu. Benar-benar mengesalkan." Omel Briana kesal. Namun, hatinya berdebar tidak karuan karena perlakuan Gama terhadap dirinya.
Gama tersenyum mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir manis Briana. Perlahan ia mulai membawa mobilnya keluar dari pelataran perusahaan dan berbaur dengan mobil-mobil lain yang ada di jalanan.
"Dia mengecup kening ku, bukan bibir ku." Ujar Briana, lalu tertawa keras saat melihat binar bahagia di wajah Gama berganti wajah kesal. "Apa yang kamu lakukan ?" Tanyanya khawatir, karena mobil yang sedang membawanya tiba-tiba berhenti di sisi jalan.
Briana memukul-mukul dada bidang Gama, saat laki-laki itu menciumi seluruh bagian wajahnya. Kening, mata, hidung dan bibir tidak ada bagian yang terlewati oleh bibir nakal nya.
"Sudah, aku ga bisa nafas bodoh." Briana berusaha mendorong tubuh yang sedang mengukung tubuh kecilnya di kursi mobil.
"Ayo kita nikah." Ujar Gama tiba-tiba.
"Lamaran macam apa itu." Briana masih berusaha mendorong dada Gama, agar menjauh darinya.
"Ayolah, yah ?" Bujuk Gama lagi.
"Gimana ya, tadi Dion menawarkan banyak hal padaku loh." Jawab Briana.
"Ayo jalan. Kita ke HG Group dulu." Ajak Briana sambil tersenyum manis.
Gama mengangguk antusias, lalu kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan milik Kevin, kakak sepupunya.
Briana mengeluarkan ponsel yang ia gunakan untuk menghubungi Dion, lalu melepaskan sim card dari dalam ponsel itu dan mematahkannya. Setelah membuang sim card yang sudah terbelah menjadi kepingan kecil-kecil dan membuangnya ke jalanan, kini ia mulai menghancurkan ponsel dan kembali membuangnya ke jalanan.
Gama berusaha keras menahan diri untuk tidak bertanya apa yang sedang di lakukan oleh Briana. Ia ingin memberikan Briana waktu untuk memuaskan diri pada semua yang di lakukan oleh gadisnya ini.
"Kami selesai. Setelah hari ini, aku akan menyerahkan semuanya pada keluarga mu." Ujar Briana.
"Secepat ini ? Balas dendam macam apa yang begitu cepat selesai ?" Ledek Gama.
"Mau nikah sama aku kan ? Acara balas dendam ku belum selesai, Gama. Aku bersedia menikah dengan mu, asalkan kamu bisa memastikan tiga orang yang sudah membunuh Ayah Alfin, mempertanggung jawabkan perbuatan mereka." Ujar Briana.
Gama hanya tersenyum, lalu mengusap kepala Briana dengan lembut.
"Aku kan sudah bilang berulang kali padamu, cukup diam dan lihat saja. Dan biarkan aku yang melakukan semuanya." Jawab Gama.
Briana bernafas lega. Senyum manis di bibirnya kembali terlihat dengan begitu jelas. Ia menatap mobil-mobil yang juga berlalu lalang di jalanan yang sama dengan perasaan yang jauh lebih baik. Apakah bahagia mulai menyapa nya kini ? Entahlah, tapi semoga.