Briana

Briana
Bab 66. Janji Suci



Di atas altar, Gama tidak kuat untuk tidak mengusap sudut matanya yang berembun ketika Paman dan satu-satunya gadis yang ia cintai, sedang melangkah menuju ke arah nya. Janji suci, tidak bukan kali ini saja ia berjanji untuk menjaga dan mencintai Briana sepenuh hatinya. Janji sudah berulang kali ia ucapkan jauh di lubuk hati terdalamnya. Hanya saja, terkadang kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Sama seperti yang terjadi pada mereka beberapa tahun yang lalu.


"Aku cantik kan?" Ucap Briana saat tangannya sudah berpindah dalam genggaman Gama.


Dengan sudut mata yang terlihat sembab, Gama mengangguk, membenarkan pertanyaan yang baru saja di ucapkan Briana. Yah, tidak ada wanita cantik lagi di matanya selain Briana dan juga sangat Ibu.


Di depan seorang pemuka agama, Gama kembali berjanji untuk mencintai dan menyayangi Briana apapun dan bagaimana pun keadaan meraka. Ia akan selalu memastikan gadis yang sedang ia genggam erat ini, baik-baik saja selama ia masih bisa menghirup udara segar.


"Terimakasih, aku mencintaimu Gamaliel Sanjaya." Lirih Briana di dalam hati. Suara haru Gama menembus hingga ke relung hati terdalamnya.


Setelah Gama mengucapkan kalimat itu, Briana pun ikut melakukan hal yang sama. Ia pun berjanji akan selalu menemani Gama dalam keadaan apapun. Akan mencintai laki-laki yang kini sedang menggenggam erat tangannya dengan sepenuh hati.


Menyempurnakan sebuah kata cinta, adalah dengan menyatukan cinta itu dalam sebuah pernikahan.


****


Pemberkatan pernikahan sudah selesai. Seluruh tamu undangan masih larut dalam kebahagiaan keluarga Sanjaya. Di area taman belakang rumah, sudah terlihat begitu indah di pandang mata. Semua orang yang ada di sana, di manjakan dengan hiasan bunga-bunga buatan, di tambah dengan bunga hidup yang ada di taman itu.


"Maafkan aku." Kevin menggenggam tangan istrinya yang berada di atas meja.


Flora segera menghambur masuk ke dalam pelukan.


"Aku mencintai mu." Ucapnya manja, membuat Briana terbelalak. Baru saja beberapa saat yang lalu Flora menceritakan bagaimana kisah perjuangannya untuk tetap bersama Kevin, kini wanita yang sudah memiliki dua orang anak itu sedang bermanja-manja dalam pelukan suaminya.


"Jangan dengerin dia, Ana. Dia memang si pembuat dongeng." Kesal Gama saat melihat sepasang suami istri yang sedang bermesraan di hadapannya.


Flora mengangguk membenarkan kalimat adik sepupunya. Sekarang, ia menganggap semua yang terjadi di masa lalu adalah dongeng yang harus di lupakan.


"Yang paling penting, setiap pernikahan punya ujiannya masing-masing. Kita hanya perlu mencari jalan keluar nya." Ucap Flora.


Briana mengangguk membenarkan. Bukankah semua yang terjadi di masa lalu, entah itu baik atau pun buruk, memiliki pembelajarannya masing-masing ? Kita hanya perlu menjadi orang yang baik dalam mengambil pelajaran dari semua itu.