
Di jalanan yang sama, namun, di dalam mobil yang berbeda Gama masih terus menggerutu kesal. Seharusnya ia hanya perlu menghabiskan waktu bersama Briana, dan tidak perlu bersusah payah bekerja, toh saldo rekeningnya akan terus bertambah.
"Iya, Pa." Ucap Gama usai menjawab panggilan yang ada di ponselnya.
"Papa butuh bantuan kamu. Hari ini Papa lagi ngga enak badan, bisa kan kamu langsung ke kantor. Nanti akan ada yang membantu mu di sana." Perintah Gerri di ujung sana.
Meskipun kesal, Gama mengiyakan perintah dari ayahnya tersebut. Setelah panggilan itu berakhir, ia memutar kemudianya dan berbalik arah menuju perusahaan. Tak masalah jika hari ini ia tidak bisa menghabiskan waktu bersama Briana, yang penting dirinya tidak akan mati kebosanan di rumah.
****
Di tempat lain, mobil yang di kendarai Sasa sudah berhenti di depan sebuah rumah megah di tengah kota Jakarta. Briana menatap bangunan megah itu dengan hati yang tidak karuan. Ini perrama kalinya ia menginjakkan kaki di rumah kedua orang tua Gama. Rasa tidak percaya diri sekaligus takut bercampur aduk di dalam hatinya.
"Turun yuk." Ajak Sasa.
Briana mengalihkan pandangannya dari rumah megah yang ada di hadapannya, kemudian menatap Sasa dengan sendu.
"Jangan khawatir, yuk turun. Aunty Key dan Om Gerri sudah menunggumu sejak tadi. Ada Kak Flora juga." Ucap Sasa berusaha untuk meyakinkan Briana.
Briana menarik nafasnya sejenak, lalu dengan perlahan membuka pintu mobil mewah milik sahabatnya itu.
"Ayo, Aunty.." Ken lebih dulu menarik tangan Briana, membawa sahabat dari ibunya itu masuk ke dalam rumah megah yang ada di hadapan mereka.
Briana ikut melangkah menuju pintu, sambil sesekali melirik sahabatnya yang masih berada di belakangnya.
"Oma..." Sapa Ken saat pintu rumah yang sedang menjadi tujuan mereka kini terbuka lebar-lebar.
"Halo Ken.." Sapa wanita yang masih terlihat menawan di usianya yang tidak lagi muda.
Langkah Briana terhenti, sedangkan bocah laki-laki yang tadi menggenggam tangannya sudah masuk ke dalam dekapan wanita cantik yang ada di hadapannya.
"Hai, Ana..." Sapa Keyla lagi.
Keyla tersenyum melihat gadis yang terlihat begitu canggung di hadapannya.
"Masuk yuk..." Ajaknya.
Briana mengangguk. Beberapa saat kemudian Sasa datang lalu menariknya masuk ke dalam rumah megah itu, mengikuti wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.
"Hai Kak Flora...." Sapa Sasa saat melihat wanita cantik yang sedang duduk di ruang keluarga bersama kedua putrinya.
Flora melambaikan tangannya. Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter itu tersenyum saat melihat calon anggota keluarga baru mereka memasuki ruangan tempat dirinya berada.
"Anggap aja rumah sendiri ya..." Ucap Flora. "Nanti juga bakal jadi rumah kamu kok." Sambungnya lagi sambil tertawa geli.
"Kamu tuh suka banget isengin orang. Lihat tuh, Ana makin malu." Keyla ikut tertawa.
Beberapa saat kemudian, Gerri yang entah dari mana ikut bergabung di ruang keluarga lalu duduk di samping istrinya.
"Gimana sama anak itu ?" Tanya Keyla. "Dia langsung ke perusahaan kan ?" Tanyanya lagi.
Gerri mengangguk sambil menatap gadis yang semakin tertunduk dalam di hadapannya.
"Gimana kabar kamu ?" Tanya Gerri.
Briana mengangkat wajahnya, lalu menatap sosok laki-laki yang begitu mirip dengan Gama.
"Aku baik, Om." Jawabnya.
"Semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir lagi, kami semua adalah keluarga mu." Ucap Gerri.