
"Kamu mau kemana ?" Tanya Risa cepat, saat melihat Dion hendak meninggalkan kamar usai mengenakan pakaian.
Dion yang sudah meraih handel pintu, kembali menoleh.
"Seharusnya kamu memberitahu ku sebelum melakukan hal bodoh itu. Briana sudah mau bercerai, dan bersedia menanadatangani surat kuasa atas saham yang di berikan Ayah untuk nya, kepadaku. Dan karena kecelakaan ini, kita tidak akan bisa mengajukan itu ke pihak dewan direksi. Karena bagaiamanapun mereka pasti akan curiga, jika kematian Briana hari ini ada hubungannya dengan kita." Jelas Dion membuat Risa terdiam.
"Maaf aku sudah mengacaukan rencanamu. Tapi kenapa kamu tidak memberitahu ku soal ini ?" Tanya Risa.
"Apa itu perlu. Sudah ku bilang, tunggulah dengan sabar. Tunggu sampai semua proses itu berjalan selesai." Kesal Dion.
"Kenapa kamu menyalahkan aku ? Bukankah kematian gadis sialan itu juga menjadi keinginan kamu dan mama ?" Risa ikut bersuara keras. Ia sakit hati karena di salahkan oleh Dion.
Dion semakin kesal karena wanita yang ia cintai sejak lama ini masih belum juga mengerti, jika kejadian hari ini akan menghancurkan rencana masa depan mereka.
"Karena kebodohan mu hari ini tujuan kita akan semakin sulit tercapai. Pihak berwajib tidak akan membiarkan semua ini berlalu begitu saja. Dan kamu pikir kita dengan mudah bisa lari dari semua ini ? Tidak akan Ris, pasti mereka akan mencari tahu lebih detil, karena kematian Ayah dan Briana hanya berjarak kurang dari tiga bulan." Jelas Dion. "Jika kita salah melangkah, maka penjara yang akan menjadi tempat tinggal kita nanti." Sambungnya lalu segera melanjutkan langkah keluar dari dalam kamar itu.
Risa tidak lagi bisa berkata apa-apa. Wanita yang masih menggenggam selimut untuk menutupi tubuh polosnya itu, hanya bisa menatap kepergian kekasih nya dengan perasaan yqng campur aduk. Takut bercampur kesal, begitulah yang ia rasakan. Sungguh ia tidak mau mebdekam di penjara dan gagal menguasai seluruh harta peninggalan keluarga Atmaja. Puluhan tahun ia bersedia mengabdikan diri di perusahaan itu, tujuannya hanya ingin menjadi bagian dari keluarga Atmaja.
Mobil mewah milik Dion segera keluar dari baseman apartemen dan mulai berbaur dengan kenderaan lain yang masih berlalu lalang di jalanan. Waktu sudah sangat larut, dan ia harus segera kembali ke rumah untuk menemui sang Mama.
"Sialan." Makinya kesal sambil memukul-mukul kemudi mobilnya. "Dasar bodoh." Umpatnya lagi.
Setelah mobil mewah yang ia kendarai mulai mendekati kediaman mewah milik keluarga Atmaja, dadanya langsung berdetak tidak karuan. Ada banyak wartawan yang berdiri di depan pagar gerbang, juga beberapa mobil polisi susqh terparkir di sisi jalan di depan pintu gerbang rumahnya.
"Permisi, Pak. Permisi sebentar." Beberapa eeporter mengetuk-ngetuk jendela mobilnya, akan tetapi Dion terus menjalakan mobil miliknya itu dengan hati-hati memasuki pintu gerbang rumah nya. Beruntung ada beberapa petugas kepolisian yang berjaga di sana, sehingga ia bisa melewati kerumunan itu dengan selamat.
Setelah mobilnya sudah teeparkir rapi di pelataran rumah, Dion bergegas turun, kemudian melangkah cepat masuk ke dalan rumah. Ia harus memastikan ibunya tidak akan terseret dalam kasus ini.
"Itu putra ku sudah tiba." Ujar Ibu Marni sembari beranjak dari atas sofa yang ia duduki. Wanita yang tidak lagi muda itu terlihat begitu tenang, padahal sudah begitu banyak petugas kepoisian yang sedang berkeliaran di dalam rumah.
Dion menatap tidak suka pada salah salah satu petugas kepolisian yang begitu lancang membiarkan anak buahnya memasuki kamar tidur dengan seenaknya.