Briana

Briana
Bab 15. Rencana Part 3



"Nama dan kepribadian yang sama, tapi dengan wajah berbeda mungkin jauh lebih menyenangkan." Ujar Briana dengan senyum dingin di wajahnya.


"Terserah apapun yang bisa membuat kamu merasa lebih baik, aku akan mendukungnya. Tapi kamu harus berjanji satu hal padaku untuk selalu hidup bahagia." Ucap Gama pelan. Ia tahu, Briana yang saat ini ada di hadapannya sudah bukan lagi Briana yang ia kenal beberapa tahun silam.


Briana membalik tubuhnya, lalu menatap wajah tampan Gama dengan lekat.


"Tentu saja, dan salah satu cara agar aku bahagia adalah membuat mereka menderita." Jawabnya dengan dingin.


Gama tidak lagi menimpali. Ia hanya menatap wajah yang nampak penuh penderitaan itu, dengan lekat.


Briana kembali membalik tubuhnya.


"Sepertinya menghadiri pesta pernikahan mereka adalah awal yang bagus." Ujarnya sembari melirik satu buah undangan yang ada di atas meja rias. "Bisakah kamu mengajakku ?" Tanya Briana sambil menatap wajah Gama dari kaca meja rias.


"Aku penasaran gimana ya rasanya saat malam pengantin, namun, si pengantin pria hanya akan menghabiskan malam dengan wanita lain, seperti yang sudah mereka berdua lakukan terhadapku beberapa bulan yang lalu. Ah, Tidak bukan wanita lain, tetapi menghabiskan malam dengan istri yang terbuang."


Tawa sinis terdengar dari bibir Briana. Gama mengepalkan tangannya hingga jemarinya memutih. Sumpah demi apapun, ia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi pada Briana.


"Jangan melebihi batas. Aku tahu kamu kecewa pada mereka, tapi aku mohon cukup buat mereka menderita dan jangan buat dirimu ikut menderita bersama mereka." Ujar Gama memperingati. "Dan satu lagi, aku siap jika kamu memerlukan bantuan ku, kapan saja kamu butuh. Tidak, terus libatkan aku dalam hal apapun. Aku memaksa." Tegas Gama.


Briana ikut menahan sesak saat melihat rahan Gama yang mengeras dari balik cermin. Tapi semua ini memang harus ia balas dulu agar kedepannya ia akan merasa baik-baik saja menjalani hidup.


"Menghabiskan malam, bukan berarti bergulat di atas ranjang, Gama. Aku akan membutuhkan bantuan mu nanti. Tenang saja, sepertinya aku akan banyak hutang nanti. Tapi kamu jangan khawatir, akan aku pastikan semua yang memang seharusnya menjadi hak milikku, akan aku dapatkan." Briana tersenyum dingin, sambil menatap pantulan tubuh indahnya dari cermin meja rias.


"Aku tak butuh uang mu, Briana." Kesal Gama karena Briana selalu saja menyebutkan tentang transaksi itu.


"Lalu ? Apa sekarang kamu butuh tubuhku juga ? Mau mencobanya sekarang ? Sepertinya ranjang klinik ini lumayan bagus." Ujar Briana.


Hingga beberapa saat kemudian mata Briana melotot karena kini tubuhnya yang sedang berdiri di depan cermin sudah terlentang di atas ranjang kecil yang ada di dalam ruangan itu.


Senyum miris terlihat di sudut bibir Briana, bersamaan dengan satu tetes air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya.


"Kamu sama saja dengan mereka." Ucapnya serak menahan tangis.


"Aku mohon Ana, jangan seperti ini. Aku akan membantu mu menyelesaikan rencana balas dendam mu, tapi tolong jangan menghancurkan hidupmu sendiri." Mohon Gama masih menatap lekat wajah cantik yang tidak lagi sama dengan wajah cantik yang ia kenal dulu.


"Minggir !" Dorong Briana di tubuh Gama yang masih menindih tubuhnya. "Aku bilang minggir Gama." Kesalnya saat Gama sama sekali tidak bergerak dari atas tubuhnya.


"Aku mencintaimu Ana. Masih mencintai mu sampai saat ini." Ucap Gama masih memohon.