
Saat keluarga kecil itu hendak memulai sarapan pagi mereka, ponsel yang ada di dalam saku jas Kevin bergetar. Saat melihat siapa yang menghubunginya sepagi ini, lelaki yang masih terlihat tampan meskipun sudah memiliki dua orang putri itu segera menjawab panggilan tersebut.
"Aku permisi sebentar ya, Sayang." Kecupnya di kepala sang istri.
Flora mengangguk mengiyakan, lalu kembali fokus menyuapi dua putri bungsunya. Sedangkan Kevin sudah berlalu dari dalam ruangan itu, menuju ruang kerja miliknya.
Masih dengan benda pipih yang menempel di pipi dan telinganya, Kevin terlihat begitu serius mendengarkan penjelasan di ujung ponselnya. Lelaki itu bahkan mulai membuka beberapa dokumen penting yang ada di atasm meja kerjanya, untuk menyesuaikan data yang di temukan oleh orang suruhannya hari ini.
Dan benar saja, semua kecurigaannya selama ini, memang benar. Ibu adan anak yang tidak tahu berterimaksih itu, memang sudah merencanakan hal ini dengan sangat baik. Yang tidak mereka ketahui adalah, sebaik apapun menyembunyikan kebusukan, tetap saja akan tercium pada waktunya.
Ia sudah melalui banyak hal tentang ini, dan semua hal buruk yang ia lakukan di masa lalu, sudah mendapatkan balasannya juga. Bagaimana ia berusaha untuk mendapatkan maaf dari wanita yang sangat ia cintai, karena kesalahannya itu.
"Sayang, kalau kamu punya hal yang mendesak biar aku aja yang antar anak-anak ke sekolah." Ucap Flora dari balik pintu ruang kerja Kevin yang tertutup rapat.
Mendengar suara wanita yang ia cintai sudah berada di depan ruangannya, Kevin segera melangkah menuju pintu kemudian membuka pintu tersebut.
"Ga apa-apa. Selesaiakanlah semua ini sebagai penebus atas apa yang sudah keluarga kita lakukan terhadap Briana." Jawan Flora. "Untuk hari ini biar aku yang mengantar Fania dan Felia ke sekolah." Sambungnya.
Kevin mengusap puncak kepala Flora dengan begitu lembut. Ia benar-benar merasa beruntung karena memiliki wanita seperti istrinya ini. Ia kemudian mengikuti langkah Flora menuju ruangan di mana kedua putri dan asisten mereka sedang menunggu.
"Hati-hati." Ucap Kevin sambil membungkuk di jendela mobil Flora yang terbuka.
Flora tersenyum, kemudian mengangguk. Tak lupa pula ia meminta kedua putrinya untuk melambaikan tangan kepada papi mereka. "Kami pergi, kamu juga hati-hati ya." Ucapnya lalu mulai melajukan mobil meninggalkan pelataran rumahnya.
Setelah kepergian Flora, Kevin kembali melangkah masuk ke dalam rumah. Ia bergegas kembali ke ruangannya untuk memeriksa beberapa berkas yang akan ia bawa ke pihak yang berwajib hari ini. Meskipun ia begitu mudah menghancurkan Dion dengan tangannya sendiri, namun semua prosedur harus di lakukan sebagaimana mestinya, itulah yang di inginkan Briana.
"Aku akan mengantar berkas tuntutan pagi ini." Ucap Kevin setelah ponsel yang yang kembali menempel di telingnya sudah di jawab oleh seseorang yang ada di ujung sana. Lelaki yang nampak begitu antusias atas apa yang sedang ia lakukan, segera melangakah keluar dari ruangannya menuju depan rumah, di mana mobil miliknya sedang terparkir. Suara seorang asisten rumah tangga yang menanyaan perihal sarapannya pagi ini, hanya di tanggapi dengan gelengan kepala darinya.
Semua akan segera berakhir, dan adik sepupunya akan memulai kehidupan baru yang jauh lebih baik dari kemarin. Rasa bersalahnya karena sudah membuat dua orang yang saling mencintai itu berpisah, akan segera terobati dengan keberhasilan rencannya ini.