Briana

Briana
Bab 7. Risa



Di sebuah kamar mewah apartemen, sepasang sejoli yang belum resmi menjadi suami istri terus aja memacu tubuh keduanya agar bisa mencapai puncak yang sering kali mereka capai bersama.


"Lebih cepat sayang." Desahh si wanita yang sedang berada di bawah kukungan si lelaki.


Sang lelaki tidak menjawab, namun, ia mengikuti apa yang di inginkan oleh wanitanya itu. Ia terus memacu tubuhnya hingga ranjang mewah yang ada di apartemen tersebut terguncang.


Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan di atas ranjang mewah itu. Peluh sudah membanjiri tubuh keduanya. Hingga suara TV yang kini mengabarkan berita, membuat keduanya berhenti sejenak dari acara nikmat di atas ranjang itu.


"Sebuah mobil yang baru di identifikasi milik dari istri seorang pengusaha mengalami kecelakaan tunggal. Mobil tersebut meledak, dan di perkirakan korban yang juga pemilik mobil tersebut hangus bersama ledakan tersebut."


Seorang reporter mengabarkan kecelakaan dari layar TV yang menempel di dinding kamar.


"Kita berhasil sayang." Girang si wanita yang masih belum mengenakan sehelai benang pun dari tubuhnya. "Sekarang kita bisa menikmati kehidupan, tanpa terganggu dengan parasit itu." Sambungnya lagi.


Senyum di wajah Risa yang baru saja menikmati malam indah itu, kini nampak terlihat begitu jelas dengan adanya sebuah pemberitaan yang terpampang di layar tv di dalam kamar apartemen milik nya. Jangan di tanya lagi kenapa wankta yang masih belun mengenakan apapun di tubuhnha itu begitu senang dengan berita kecelakaan ini, karena kecelakaan ini memang kecelakaan yang ia dan Dion rencanakan sejak lama, dan baru bisa ter realisasi malam ini.


Berbeda dengan Dion, lelaki itu begitu terkejut atas berita yang baru saja ia dengar. Tanpa berniat untuk melanjutkan lagi aktifitas panas mereka yang tertunda, Dion segera beranjak dari tubuh wanitanya itu, dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia kemudian melangkah menuju kamar mandi yang ada di ruangan mewah itu.


Risa menatap heran punggung sang kekasih yang baru saja menghilang di balik pintu kamar mandi, sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


Di dalam kamar mandi, Dion terdiam tanpa kata di bawah guyuran air shower. Pemberitaan yang baru saja ia dengar, sedikit mengganggunya malam ini. Tangannya terkepal erat sambil bebrapa kali meninju dinding kamar mandi yang ada di depannya. Entahlah, perasaan bersalah begitu mengganggunya setelah mendengar kalimat dari seorang reporter di layar TV tadi.


"Maafkan aku." Ucapnya pelan.


Ia membenci status pernikahan di antara dirinya dan Briana. Namun, ia sungguh menyukai gadis yang di bawa oleh Ayah sambungnya itu, sebagai seorang adik. Tapi sudah terlambat, Briana telah pergi jauh karena perbuatannya.


Beberapa saat terdiam di bawah guyuran air shower yang hangat, Dion kemudian meraih handuk yang sudah tersedia di sana dan mengenakannya.


"Seharusnya kamu memberitahu aku dulu sebelum melakukannya." Uacpnya setelah keluar dari dalam kamar mandi. Ia menoleh sebentar ke arah Risa yang masih berada di atas ranjang, lalu kembali nelanjutkan labgkah, memunguti satu persatu pakaiannya yang sudah berserakan di atas lantai kamar kemudian mengenakannya.