
"Kita sarapan dulu." Ucap Gama. Lelaki itu mengurai pelukannya dari tubuh Briana.
" Tetaplah seperti ini, sebentar saja." Jawab Briana enggan melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh Gama.
Gama kembali memeluk tubuh Briana, sambil mengecup puncak kepala wanita yang ia cintai itu berulang kali.
"Padahal aku sudah menyiapkan sarapan yang enak, spesial buat kamu." Ujar Gama tersenyum.
Wajah yang sedang terbenam di dalam dada bidang itu, tersenyum. Sayangnya orang yang sedang memeluk tubuh mungil itu, tidak bisa melihat senyum manis yang tidak pernah terlihat lagi di bibir itu.
"Itu pasti sekretaris Papa dan Bang Kevin." Gama melepaskan pelukannya saat mendengar bel apartemen berbunyi. "Kita temui mereka, agar semua cepat selesai." Sambungnya.
Briana mengangguk patuh. Keduanya lantas beranjak dari atas ranjang, lalu melangkah menuju pintu dan keluar dari dalam kamar itu.
Setelah berpikir panjang, ia mau mengikuti saran Gama. Sepertinya apa yang di katakan Gama benar. Semua rencana yang sudah ia susun dengan matang akan sia-sia jika ia tidak akan bisa menikmatinya nanti. Semua yang sudah ia usahakan sekuat tenaga untuk membuat orang-orang itu menderita, tidak akan ada artinya jika ia pun akan ikut terluka bersama mereka.
Tuhan memberinya kesempatan untuk hidup sekali lagi, dan ia pun sudah berjanji akan mencintai dirinya sendiri lebih dari siapa pun di dunia ini.
Briana berdiri tidak jauh dari pintu masuk apartemen, sedangkan Gama membukakan pintu apartemen itu dan mempersilahkan dua orang tamu yang mendatangi apartemennya, untuk masuk ke dalam. Melihat laki-laki yang nampak tidak asing dalam kisah masa lalunya di Bali, Briana meminta izin untuk membuatkan minum untuk dua tamu yang kini sudah duduk di ruang tamu apartemen.
"Duduk dulu, ada yang mau aku jelaskan tentang rencana yang akan kita jalankan ke depan." Ujar Kevin.
Briana membawa tubuhnya, lalu duduk di samping Gama. Ia menyimak dengan seksama setiap penjelasan Kevin tentang rencana balas dendam nya.
"Kalian belum boleh menikah. Kita membutuhkan Briana untuk mengelabuhi Dion. Jika mereka sudah mengetahui siapa Briana sebenarnya, maka akan sulit untuk masuk ke dalam hidup Dion Atmaja." Ujar Kevin.
"Nggak. Abang jangan kayak gitu dong.." Protes Gama tidak terima. Sumpah demi apapun, dia akan melakukan apa saja untuk menghancurkan lelaki brengsek itu, asalkan Briana tidak lagi terlibat.
"Aku setuju." Sela Briana cepat, dan langsung mendapat tatapan protes dari Gama.
Briana tersenyum.
Gama dan Kevin sama-sama terkejut melihat pemandangan itu. Wajah yang biasanya terlihat dingin tak bersahaja, kini tersenyum di hadapan mereka.
"Aku ingin mendekati Dion dan membuat rumah tangga mereka hancur. Jika aku berhasil membuat Dion menendang Risa dari perusahaan, maka tanpa kita minta Risa akan dengan suka rela berbicara semua apa yang sudah mereka lakukan terhadapku." Ujar Briana. "Aku juga mencurigai kematian Ayah ada hubungannya dengan tiga orang gila itu." Sambungnya.
"Kamu jangan khawatir, orang suruhan ku sedang melakukan penyelidikan tentang hal itu. Jika benar-benar terbukti, maka mereka akan di dakwa sebagai tersangka kasus pembunuhan berencana, dan aku rasa kamu tahu hukuman itu bukan lah hukuman yang ringan." Ujar Kevin.