
"Briana apa kamu tidak mengenal ku ?" Tanya Gama setelah beberapa saat kamar itu hening.
"Kamu pergi.... Kamu bohong... Tinggalkan aku sendiri aku mau istirahat." Jawab Briana serak.
Gama tercekat, ia sempat melihat buliran bening jatuh di pipi Briana yang tidak lagi semulus dulu, sebelum wanita yang ia cintai sejak dulu hingga sekarang itu, merebahkan diri di atas ranjang pasien.
"Maafkan aku." Lirih Gama. "Ayo kita lakukan apa yang kamu inginkan, anggap saja sebagai penebus segala kebodohan ku karena ingkar dengan janji ku sendiri, dan membuat mu terjebak dengan keadaan ini." Sambung Gama lalu beranjak dari atas ranjang di mana Briana berada.
Setelah keluar dari kamar perawatan Briana, Gama langsung melangkah menuju ruangan pimpinan rumah sakit di mana keluarga yang lain sedang menunggu nya.
"Gimana ?" Tanya Flora saat melihat adik sepupunya sudah membawa tubuh dan duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya.
"Dia ingat aku Kak." Jawab Gama lirih.
Semua orang terdiam menyimak kalimat yang baru saja keluar dari bibir Gama.
"Kenapa kalian biarkan dia pergi. Aku sudah mengikuti apa yang kalian mau." Ucap Gama. "Abang janji akan menjaganya selama aku tidak ada, lalu mengapa membiarkan Briana masuk dalam keluarga itu." Sambungnya lagi. Kali ini tatapannya sudah tertuju pada Kevin yang juga sedang berada di dalam ruangan itu.
"Om Alvin adalah laki-laki yang baik, Nak. Dan dia adalah Ayah kandung Briana. Sebelum Om Alvin meninggal, Briana hidup dengan bahagia kok." Ucap Keyla menjelaskan sebelum putranya mengamuk di dalam ruangan ini.
"Dia tidak bahagia, Mam. Dia banyak terluka selama berada dalam keluarga itu. Briana hanya pintar berpura baik-baik saja di depan semua orang. Jika dia benar-benar bahagia, keadaannya tidak akan sampai seperti ini." Gama menghela nafasnya yang terasa berat. Melihat air mata Briana hari ini, membuat dadanya ikut sesak. "Dia ingin aku membantunya balas dendam. Sepertinya Om Alvin meninggalkan banyak aset atas nama nya, dan itu membuat Dion tega melakukan hal ini." Jelas Gama lagi.
"Serahkan pada ku semuanya. Biar aku yang akan memastikan laki-laki tidak tahu diri itu membusuk di penjara." Geram Kevin.
Gama segera menggeleng.
"Biarkan Briana yang melakukan hal itu. Kita cukup memastikan jika rencananya berjalan tanpa hambatan. Aku ingin memastikan dia bahagia, dan kata Briana tadi, hal yang mampu membuatnya bahagia adalah membalaskan rasa sakit yang ia rasakan selama bersama dengan keluarga itu." Ujarnya.
Kevin tidak lagi merasa keberatan akan hal itu. Biarlah, mungkin inilah saatnya ia menebus kesalahan yang pernah ia lakukan terhadap Gama dan Briana. Jika saat itu ia bisa lebih tegas pada mendiang Opa mereka, mungkin nasib malang ini tidak akan menimpa Briana. Dan Gama pun tidak akan ikut sedih seperti ini.
"Maafkan Mama ya.." Keyla mengusap pundak putranya.
"Mulai saat ini, dia akan selalu baik-baik saja. Kita semua akan memastikan hal itu." Gerry menimpali.
Gama mengangguk. Ia tidak ingin lagi bersikap seperti anak kecil. Kali ini Briana sudah berada dalam genggamannya, dan ia hanya perlu memastikan gadis yang ia cinta sekian tahun lamanya itu tidak akan terlepas lagi. Mulai saat ini, ia hanya perlu memastikan gadis yang mampu membuatnya menghabisi nyawa seseorang itu, akan selalu bahagia bersamanya.
*****
*Note Author
Ingat yaa, jangan lupa baca Gadis Satu Malam biar ga kebingungan. Kalo ga sempat baca dari Bab satu, cukup baca Bab bonus nya aja.
Gadis Satu Malam, Kisah Keyla dan Garry Orang Tua Gama.
Emergency Love, Flora. Kisah Kevin dan Flora. Untuk yang mengidap penyakit darah tinggi tidak di sarankan untuk baca yaa, karena Kisah itu tak ada manis-manisnya.. Mengandung kebrengsekan yang hakiki, dan mampu membuat emak-emak memaki kesal 🤣🤣