
Briana dan Gama hanya bertatapan tidak mengerti, saat melihat kedekatan kedua sahabat mereka, Sasa dan Rendi.
"Kalian pacaran ?" Tanya Gama pada sahabatnya.
"Kami sudah menikah. Anak kami sudah tiga... aduhhh..." Pukulan dari Gama berhasil mendarat di pundak Rendi.
"Kenapa aku ga tahu ?" Tanya Gama kesal.
"Kamu ga pernah pulang bodoh. Bagaimana kamu tahu." Jawab Randi kesal karena tubuhnya kembali di pukuli oleh laki-laki gila, yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
Briana dan Sasa yang sejak tadi memperhatikan dua laki-laki yang sedng adu bacot di dalam ruangan itu, kembali bertatapan penuh rindu.
"Kamu tahu tentang ku ? Jahat banget ga pernah datang." Ujar Briana.
"Ceritnya panjang, Briana." Jawab wanita cantik yang sudah menjadi ibu dari tiga orang anak itu lalu mengajak sahabatnya duduk di atas ranjang. "Aku senang kamu baik-baik saja." Ucapnya lagi.
"Sayang jangan lama-lama, nanti kita akan jelasin sambil berjalan waktu. Aku dan Gama tunggu kalian di ruangan ku." Ujar Randi dan hanya di angguki oleh Sasa.
"Sekolah kita heboh saat mendengar berita kematian Ibu dan Ayah tiri kamu dulu. Di tambah kamu dan Gama yang tiba-tiba menghilang bersamaan." Sasa masih menatap wajah sahabatnya yang sudah berubah. "Aku kesal ih." Sambungnya lagi.
"Ada apa ?" Tanya Briana.
"Kok wajah kamu tetap aja cantik." Jawab Sasa.
"Kemarin rusak parah, Sa. Luka bakar di wajah ku sangat parah. Kalau mau tunggu sembuh, semuanya sudah terlalu terlambat untuk di perjuangkan." Ucap Briana.
Sasa tersenyum. Ia sudah mendengar banyak hal dari suaminya tentang rencana balas dendam Briana.
"Apa perlu bantuanku ?" Tanya Sasa.
"Aku perlu tempat tinggal." Ucap Briana.
"Pacar kamu itu anak orang kaya, ngapain kamu memusingkan hal yang bisa ia berikan hanya dengan satu kedipan mata. Pilih aja apartemen mewah, dia pasti akan memberikannya untuk mu." Ujar Sasa kesal.
"Itu menurut kamu, tapi tidak bagi Gama. Dia cukup kecewa mendengar berita tentang mu yang sudah menikah dengan orang lain." Ucap Sasa. " Terserah kamu sih. Kata suami ku kamu butuh teman cari pakaian, yuk aku temani. Aku punya butik, beli baju di butik aku aja." Sambung Sasa.
"Kamu mau dagang sama sahabat sendiri ?" Tanya Briana.
Sasa tertawa lucu.
"Nanti kalau kamu sudah berhasil mendapatkan kekuasan di Atmaja Group, baru deh kamu bayar hutang mu." Jawab nya sambil menarik tangan Briana keluar dari ruangan itu.
Keduanya melangkah menuju parkiran di mana mobil Sasa berada.
"Kamu belum pamitan sama Randi loh." Ujar Briana saat tubuhnya sudah masuk ke dalam mobil Sasa.
"Udah ga apa-apa." Jawab Sasa berniat melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkiran klinik suaminya.
"Tapi aku belum pamitan." Ujar Briana lagi.
Sasa menatap wajah sahabatnya sebentar, lalu tertawa lucu.
"Tuh, sepertinya kalian sudah memiliki ikatan batin deh." Tunjuk Sasa ke arah laki-laki yang sedang melangkah cepat menuju mobilnya.
Briana ikut melihat ke arah laki-laki yang terlihat melangkah cepat dengan wajah khawatir. Dan perlahan ia membuka pintu mobil itu, lalu keluar dari sana.
"Aku yang antar." Ujar Gama.
Briana hanya mengangguk patuh. Saat Gama meraih tangan dan menariknya menuju mobil lain yang ada di parkiran itu, Briana hanya menatap wajah Sasa sebentar, lalu ikut melangkah bersama Gama setelah mendapat anggukan dari sahabatnya itu.
"Aku sudah bilang akan membantu mu sampai akhir. Dan semuanya harus sesuai dengan aturan ku." Ujar Gama lagi sambil memasngkan sabuk pengaman di tubuh Briana.
Briana tidak menimpali. Ia hanya duduk diam di dalam mobil mewah itu, dan membiarkan Gama melakukan apapun yang di inginkan laki-laki itu.