Briana

Briana
Bab 46. Keluarga Kecil Kevin Sanjaya



Setelah malam yang panjang, pagi yang sibuk kembali menyapa di ibu kota Jakarta. Semua orang bersiap untuk memulai aktivitas masing-masing. Sama halnya di kediaman Kevin dan Flora.


"Aku kan sudah menyarankan agar kamu berhenti dari rumah sakit." Ucap Kevin memelas saat melihat istrinya yang begitu sibuk mengurus keperluannya. Belum lagi, wanita yang ia cintai itu harus menyiapkan segala keprluan yang akan di bawa ke rumah sakit. Beruntung dua gadis kecil mereka tidak terlalu banyak menuntut, dan mau di siapkan oleh asisten yang di pekerjakan oleh Kevin.


Flora tersenyum, lalu melangkah mendekati suaminya yang sedang berada di atas ranjang besar mereka.


"Tunggu Leon nikah sama Clara dulu. Nanti juga aku bakal di tendang dari rumah sakit itu." Jawab Flora lalu tertawa lucu. Ia sudah mebgajukan hal ini pada Bagas, pamannya. Namun, untuk sementara ini, masih belum di setujui karena belum ada yang layak duduk di kursi pimpinan rumah sakit selain dirinya.


"Aku takut nanti kamu lelah." Ucap Kevin lagi.


"Iya, aku sudah terlalu lelah di rumah sakit, belum lagi kamu buat lelah di atas ranjang." Jawab Flora cemberut.


Kevin tertawa melihat wajah menggemaskan istrinya.


"Makanya berhenti aja dari rumah sakit, karena kalau urusan ranjang aku ngga akan pernah bisa berhenti." Kecup Kevin di pipi istrinya.


"Papi...." Jerit Fania saat melihat maminya di cium. Gadis kecil yang kini sudah duduk di kelas empat sekolah dasar itu melangkah cepat, lalu menatap papi nya dengan tatapan penuh permusuhan.


Flora hanya tertawa geli, lalu meraih tubuh putri sulungnya dan memeluknya erat.


"Lain kali ga boleh nyelonong masuk yaa.. Harus ketuk pintu dulu, minta izin sama pemilik kamar, oke." Ucap Flora lembut.


Kevin menatap pemandangan yang ada di hadapanny dengan dada hati yang menghangat. Melihat Flora begitu menyayangi Fania, membuat dirinya semakin merasa bersalah pada istrinya itu. Yah, Fania bukanlah sebuah kesalahan, gadia kecil tak berdosa ini tidak memiliki kesalahan apapun, tetapi dirinyalah yang bersalah atas segalanya.


"Maafkan aku." Bisiknya pelan di pipi Flora, setelah ia kembali mendaratkan satu kecupan permohonan maaf di pipi istrinya itu.


Flora tersenyum, sambil memeluk erat tubuh Fania. Tidak ada lagi yang perlu di maafkan. Ia sudah tahu apa yang terjadi di masa lalu, dan seperti apa sikap suaminya ini, namun, ia tetap mencintai Kevin dengan tulus.


"Ayo sayang, Papi akan antar kalian ke sekolah. Mami harus ke rumah sakit." Ajak Flora pada putrinya.


Gadis kecil itu mengangguk antusias, lalu ikut melangkah keluar menuju kamar tidur di mana adik kecilnya tengah di siapkan oleh babysiter.


Keluarga kecil yang sudah menikmati hari-hari bahagia, setelah badai dan tangis yang hampir membuat mereka tak bisa lagi bersama itu, keluar dari dalam kamar utama bersama-sama untuk menikmati sarapan pagi, sebelum memulai aktivitas hari ini bersama-sama.


"Terimaksih untuk hari-hari yang luar biasa." Ucap Kevin lagi sambil merangkul pundak istrinya.


"Berhenti mencium pipi ku, Kevin. Kamu mau berantem lagi dengan putri mu." Ujar Flora tegas, karena suaminya ini selalu saja mencari gara-gara dengan putri sulung merek.


Kevin hanya tertawa, terlebih saat melihat wajah kesal yang sedang mendongak menatapnya tajam.