
Waktu bergulir begitu cepat. Terangnya mentari di siang hari, kini berganti kelabu. Hanya kerlap kerlip lampu kota yang nampak terlihat begitu indah. Dion memandang keindahan kota Jakarta di malam hari dari lantai tertinggi perusahaan miliknya, sembari menggenggam benda pipih dengan hati yang kalut. Berulang kali ia menghubungi nomor ponsel wanita yang mengaku sebagai wanita penghibur itu, namun, sama sekali tidak tersambung. Pikirannya mulai kacau, banyak pertanyaan yang mulai bersarang di otaknya tentang siapa sebenarnya gadis itu.
Setelah hampir tiga puluh menit terdiam di atas kursi kebesaran sembari menatap pemandangan kota Jakarta di malam hari dari dalam ruangannya, Dion dengan cepat beranjak dan segera keluar dari dalam ruangan itu. Ia terus melangkah menuju lift, lalu turun menuju ruangan lain yang ada di bangunan berlantai itu. Yah, ruangan CCTV adalah tujuannya. Ia ingin mencari tahu seperti apa gadis yang menjadi tamunya hari, setelah keluar dari dalam ruangannya.
"Selamat malam, Pak." Salah satu petugas jaga yang masih setia memperhatikan banyak layar yang ada di hadapannya terkejut saat melihat direktur perusahaan memasuki ruangan tempat mereka bekerja di jam seperti ini.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak ?" Beberapa petugas yang masih berjaga di dalam ruangan itu segera beranjak, lalu menunduk sebagai tanda hormat.
"Tolong periksa rekaman pagi ini." Perintah Dion. Tak lupa ia menyebutkan perkiraan waktu saat Briana mengunjungi perusahaan pagi ini.
Pada petugas itu mengerti, mereka segera memutar rekaman pagi tadi, sesuai dengan waktu yang di ucapkan oleh atasan mereka.
"Apa kami harus menghapusnya, Pak ?" Tanya salah satu petugas yang ada di sana, saat melihat interaksi atasannya dengan seorang gadis yang sangat cantik di dalam lift.
Dion dengan cepat menggeleng tegas. Ia lantas melangkah, lalu duduk di depan layar kaca di mana karyawannya sedang melihat rekaman antara dirinya dan Briana pagi tadi.
"Sedang apa pangeran SN di perusahaan kita ?" Tanya Dion entah kepada siapa saat melihat laki-laki yang menarik Briana keluar dari gedung perusahaan. "Apa dia punya keperluan lain di sini ?" Tanyanya lagi, namun, orang-orang yang ada di sana hanya terdiam kebingungan.
"Kami akan memeriksanya, Pak." Jawab salah satu petugas yang ada di sana. Sejujurnya mereka tidak mengerti apa yang sedang di cari tahu oleh pemilik perusahaan tempat mereka bekerja ini.
Dion tidak lagi menanggapi. Ia yakin, Gamaliel Sanjaya memang tidak memiliki kepentingan di perusahaannya. Lelaki muda pewaris perusahaan besar itu memang hanya ingin bermain-main dengan wanita sewaan seperti Briana.
Namun, saat rekaman berpindah pada lobi, Dion tertegun. Ia menatap lekat wajah tampan yang sedang tersenyum sinis di depan kamera CCTV. Ia yakin putra dari perusahaan yang memiliki banyak saham di perusahaannya ini, memiliki sesuatu dan ia masih belum mengerti apa itu. Selama ini, Atmaja dan SN masih menjalin kerja sama yang sangat baik.
"Tolong cari tahu, ke ruangan mana saja laki-laki muda ini pergi, dan laporkan pada ku besok." Perintah Dion dan langsung di iyakan oleh para petugas yang ada di dalam ruangan itu.
Masih dengan otak yang sulit mencerna kejadian hari ini, Dion melangkah keluar dari dalam ruang pemantau. Ia harus kembali ke rumah dan membahas tentang semua ini bersama istrinya, Risa. Gadis pintar yang di bawa nya beberapa tahun silam untuk bekerja bersama ayah tiri nya itu, pasti memilki jawaban atas segalanya, seperti yang sudah-sudah.