Briana

Briana
Bab 18. Gaun



Gaun indah yang di pilihkan oleh Sasa sudah melekat sempurna di tubuh ramping Briana. Wanita itu masih menatap riasan indah di wajahnya dari depan cermin. Riasan yang tidak lain adalah kreasi dari wanita yang kini sedang berdiri di sampingnya itu, nampak begitu pas di wajah cantik nya.


Yah, m alam ini ia harus berdandan dengan sempurna karena akan harus menjadi pasangan Gama untuk datang menghadiri pesta pernikahan yang tidak lain adalah pernikahan suaminya dengan wanita lain.


Ketukan pintu dari luar kamar di mana Briana dan Sasa berada, terdengar. Dua wanita yang dulu bersahabat dekat itu, menoleh bersamaan.


"Mungkin Gama sudah tiba." Ucap Sasa. Wanita yang sudah memiliki tiga orang anak itu melangkah menuju pintu kamar yang masih tertutup rapat, lalu membukanya perlahan.


"Gama sudah menunggu Briana di depan." Ujar Rendi dengan senyum khas yang selalu membuat istrinya cemberut.


"Ana, Gama sudah tiba." Ujar Sasa sambil kembali menoleh ke arah sahabatnya.


Briana mengangguk paham, ia lalu melangkah keluar dari dalam kamar itu menuju ruangan lain di mana Gama sedang menunggu nya.


Randi pun menarik tangan Sasa lalu melangkah menuju ruangan lain yang sedang menjadi tujuan Briana. Laki-laki yang selalu saja membuat istrinya kesal itu, tidak ingin melewatkan momen saat Gama melihat Briana yang terlihat begitu cantik dengan balutan gaun mahal yang di pilihkan oleh istrinya. Dan seperti dugaannya, Gama terlihat melotot tajam melihat Briana mengenakan gaun itu.


"Apa di butik mu tidak ada gaun lain selain ini ?" Tanya Gama kesal.


"Apa kamu benar-benar ingin menggoda suami brengsek mu itu dengan gaun seperti ini ?" Gama menatap Briana tajam.


Briana menghela nafas kesal. Jika dia tidak membutuhkan laki-laki di hadapannya ini untuk masuk ke dalam perusahaan Ayah kandungnya yang saat ini sedang di kuasai oleh Dion, sudah di pastikan ia tidak akan mau berurusan lagi dengan laki-laki ini.


"Hanya ini yang muat di tubuh ku. Dan aku menyukai gaun ini." Jawab Briana tegas. Oh ayolah, mereka sudah menghabiskan beberapa menit waktu hanya untuk berdebat masalah sepotong gaun.


Gama mengusap wajahnya frustasi. Belahan gaun yang rendah, membuatnya kesal. Tanpa meminta persetujuan siapapun, Gama merusak rambut yang sudah di sanggul rapi oleh Sasa, dan membiarkan rambut panjang itu tergerai indah dan menutupi leher jenjang dan bahu Briana yang terlihat begitu menggoda.


"Seperti ini, atau kita tidak akan pergi ke acara itu. Kamu tahu kan, kamu tidak akan bisa masuk ke dalam hotel itu tanpa aku." Tegas nya.


Setelah mengucapkan kalimat penuh penegasan itu, Gama menarik tangan Briana keluar dari dalam rumah sahabatnya, dan masuk ke dalam mobil miliknya.


Briana tidak lagi meolak atau apapun. Betuntung hanya rambutnya yang di rusak oleh Gama, bukan kembali menghabiskan berpuluh-puluh menit waktu hanya untuk mencari gaun baru untuknya.


Bisa memasuki hotel tempat di langsungkan acara pernikahan suaminya, sudah lebih dari cukup. Ini adalah awal pembuka dari semua rencana yamg sudah tersusun rapi di otak nya, dan ini tidak boleh gagal. Ia membutuhkan Gama agar bisa masuk ke dalam hotel itu.