
"Tapi dengan syarat." Ujar Briana.
Gama melangkah mendekat, lalu duduk di samping ranjang di mana Briana sedang terbaring. Tangannya terulur dan mengusap lembut rambut panjang yang tergerai begitu saja di atas bantal.
"Katakan." Ucapnya.
"Kamu harus memastikan mereka akan menerima balasan setimpal karena sudah membuatku menderita." Ucap Briana.
Gama tersenyum. Ia beranjak dari atas ranjang lalu duduk bersimpuh di tepat di wajah Briana.
"Aku pikir kamu tidak lupa, bahwa aku pernah menghabisi nyawa seseorang karena orang itu berani menyentuh mu."
Kali ini, tangan Gama mulai menelusuri wajah cantik yang ada di hadapannya. Wajah yang tidak lagi sama, namun dengan mata yang masih sama. Mata yang sedang menatapnya lekat ini, masihlah mata yang selalu membuat nya jatuh cinta dulu hingga kini.
"Aku takut kamu terluka lagi." Ucapnya.
Briana menutup matanya saat wajah Gama semakin mendekati wajahnya. Dadanya berdetak hebat saat Gama dengan berani mengecup sudut bibirnya.
"Aku belum sikat gigi." Ucapnya, sontak membuat Gama tertawa.
Tanpa meminta izin, Gama naik ke atas ranjang lalu berbaring di sisi Briana. Ia menarik tubuh yang tertutup selimut itu, lalu masuk ke dalam pelukannya.
"Aku mencintai mu." Ucapnya sambil mengecup kepala bagian belakang Briana, berulang kali.
Briana yang sedang berbaring membelakangi Gama, tersenyum. Ternyata seperti ini memang jauh lebih baik.
"Bagaimana kamu bisa bertemu Om Alfin ?" Tanya Gama masih sambil memeluk Briana dari belakang.
Briana terdiam sebentar. Ia mulai menerawang jauh pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Ia mengumpulkan segala ingatannya saat ia berusaha mencari tahu mengapa ia sudah berada di Jakarta. Siapa dirinya, dan di mana keluarganya.
Pembohong ? Begitulah ia mendapati kenyataannya sekarang. Laki-laki yang ia anggap sebagai penyelamat itu berbohong padanya mengenai kecelakaan. Bahkan mereka tidak pernah membahas soal Gama, meskipun berulang kali wajah Gama yang nampak tidak asing sering muncul dalam mimpinya.
"Keadaan kita terlalu rumit, Gama. Benar kata Bang Kevin, aku hanya akan selalu membuat kamu dalam masalah." Lirih Briana.
Gama semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Briana. Wajah nya terbenam di rambut panjang yang tergerai begitu saja di atas bantal.
"Maafkan aku yang pergi. Maafkan keluarga ku yang menyembunyikan banyak hal dari mu. Dan maafkan aku karena masih saja mencintai mu hingga kini." Ujar Gama.
"Sepertinya banyak hal yang harus aku ceritakan padamu, sebelum kita benar-benar melangkah jauh." Briana membalik tubuhnya, dan berbaring menghadap ke arah Gama.
Gama tersenyum, ia merapikan rambut Briana ke belakang telinga dan bersiap mendengarkan cerita yang ia lewatkan selama beberapa tahun ini.
Ada banyak hal yang harus di luruskan. Dan salah satu cara untuk mengurai benang rumit yang ada di antara mereka, yaitu bercerita.
"Ceritakan semuanya. Aku siap mendengarkan apa yang telah terlewati selama beberapa tahun ini. Dan aku juga ingin menceritakan banyak hal pada mu." Ujar Gama.
"Kau begitu ayo kita menikah secepatnya, lalu bantu aku untuk menyelesaikan semua ini. Setelah itu, kita akan memulai semuanya dari awal lagi. Melakukan semua hal yang seharusnya kita lakukan selama beberapa tahun ini." Ujar Briana. Tanpa ragu ia membawa tubuhnya dan masuk ke dalam dekapan hangat Gama.
*****
*Note Author
Nupel ini sepi bgt yaa 😁
Apa karena aku hiatus lama yaa 🥺
ayo yang baca, tinggalkan like dan komentar semangatnya dong 🥺