
Di dalam ruangannya, Dion terpana saat melihat wanita cantik yang di bawa oleh salah satu staf sekretaris nya ke dalam ruangan.
"Maaf baru bisa datang sekarang, Tuan. Semalam..
"Ngga apa-apa, aku ngerti kok. Ayo masuk." Jawab Dion menyela.
Briana melanjutkan langkah dan masuk ke dalam ruangan mewah milik Ayah nya dulu.
Dion menuntunnya duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu, kemudian memerintahkan staf sekretarisnya untuk membuatkan minum untuk tamu nya hari ini.
"So, kamu kenal aku dari mana ?"
Setelah menghubungi staf sekretarisnya, Dion kembali melangkah menuju sofa di mana Briana berada.
"Tuan....
"Jangan panggil aku, Tuan. Aku Dion, Dion Atmaja. Panggil saja Dion." Sela laki-laki itu.
"Baik Dion. Emm, aku sebenarnya pekerja lepas di salah satu aplikasi. Nah, ada satu klien aku di aplikasi itu, dan kasih nomor kamu. Kata dia, kamu lagi butuh seseorang seperti ku." Jawab Briana.
Dion duduk tepat di sofa yang sama tepat di samping Briana. Laki-laki itu meraih tangan lentik yang sedang bertaut di atas paha, lalu menggenggam nya erat.
"Tidak seperti itu. Aku merasa bersalah pada seseorang yang memiliki nama seperti nama mu, untuk itu aku mau kamu datang hari ini." Dion terdiam sejenak. "Aku baru menyadarinya sekarang, jika gadis malang itu sudah menempati banyak ruang di dalam hatiku." Kekeh nya miris.
Briana terkejut, gadis itu menatap tangannya yang sedang di genggam erat oleh Dion, lalu kembali berpindah pada wajah yang terlihat menyimpan banyak kesedihan dengan dada yang berdebar.
Briana tidak lagi mampu berkata-kata. Ia hanya bisa menatap laki-laki yang sedang menutup mata sambil menyandarkan kepala di sandaran sofa tempat ia duduk. Sesekali ia menarik nafasnya dalam-dalam, untuk melawan malaikat baik yang mulai mempengaruhi dirinya untuk tidak lagi membalas dendam pada laki-laki yang kini terlihat rapuh di sampingnya.
"Tapi melihat wajah mu sekarang, seperti sedang menatap istri ku itu. Mata kalian mirip." Dion tiba-tiba mendekatkan wajahnya dengan wajah Briana, membuat gadis itu melotot.
"Memangnya istri kamu kemana ?" Tanya Briana berusaha untuk tetap tenang.
"Semua karena kesalahan ku. Aku membuat dia pergi dan tidak akan pernah kembali lagi." Jawab Dion lirih.
Briana menghembuskan nafas lega saat Dion kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa tempat mereka duduk.
"Tahu ngga Briana, aku bahkan pernah berpikir untuk menyerahkan semua ini jika istri ku itu kembali lagi." Dion kembali melanjutkan acara curhatnya.
"Lalu bagaimana dengan istri mu ? Bukankah kalian baru menikah ?" Briana mengepalkan tangannya. Kebimbangan yang mulai mengganggu, membuatnya kesal.
Dion terkekeh mendengar pertanyaan Briana.
"Aku ngga tahu. Setelah kepergian istri pertama ku, cinta yang dulu begitu menggebu perlahan memudar...
Brakk...
Tas dengan harga puluhan juta menghantam kepala Briana.
"Dasar wanita murahan ! Kalau kamu perlu uang, aku bisa memberikannya padamu, dan kamu tidak perlu menjual diri pada suamiku, jaalang !" Teriak Risa yang tiba-tiba sudah berada di belakang sofa tempat Briana dan Dion duduk.