
Sebulan telah berlalu setelah kejadian mengenaskan itu. Kini gadis yang kembali mendapatkan ingatan masa lalunya karena kecelakaan itu, terdiam di atas ranjang sambil menatap layar TV yang ada di dalam ruangan mewah rumah sakit.
Gama yang kini terdiam tanpa suara, juga masih berada di dalam ruangan itu.
Briana mengepalkan tangannya saat melihat tayangan di layar TV yang menempel di dinding kamar perawatannya. Jika dulu ia selalu merasa tidak nyaman saat melihat kemesraan suaminya dengan wanita murahan itu, kini tidak lagi. Ia tidak akan ada lagi membuang-buang perasaannya hanya untuk laki-laki seperti Dion.
Entah di mana letak kesalahannya hingga membuat laki-laki itu begitu membenci dirinya. Ia bahkan sudah memutuskan untuk bercerai, dan tidak akan mrngganggu kedudukan Dion di perusahaan. Akan tetapi, sepertinya semua itu belum memuaskan bagi orang-orang serakah seeprti mereka.
Seluruh pengorbanannya selama ini sepertinya tidak pernah cukup, hingga membuat dua orang itu tak lagi memiliki hati nurani, dan membuat dirinya kecelakaan.
"Apa kamu bisa membantuku membalas dendam pada mereka ?" Tanya Briana dingin.
Gadis itu masih terus menatap layar TV dengan seksama. Senyum bahagia dari laki-laki yang tidak pernah menganggapnya ada selama pernikahan, membuat ia ingin sekali menghancurkan layar mahal yang menempel di dinding itu. Ah, sayang ia harus menahan diri akan hal itu, karena saat ini ia hanya sedang menumpang dan meminta belas kasih laki-laki dari masa lalunya, yang kini masih diam sambil terus memperhatikan dirinya dari samping ranjang.
"Apa kamu berniat menghilangkan senyum bahagia dari wajah dua orang yang ada di sana ?" Tanya Gama sambil mengarahkan tatapannya ke arah TV.
Gama mengalihkan tatapannya dari layar TV, dan kembali menatap wajah Briana yang sudah di penuhi luka bakar itu dengan sedih.
"Kamu tahu, balas dendam terbaik di dunia ini adalah, cukup buat hidup kamu jauh lebih bahagia dari mereka." Ujar Gama. "Dan aku bisa memberimu itu Ana." Sambungnya.
Briana terkekeh, lalu menggeleng tegas.
"Aku tidak ingin lagi mengharapkan kebahagiaan yang di janjikan oleh orang lain terhadapku. Aku akan mencari kebahagiaan itu dengan tanganku sendiri." Jawab Briana. "Sepertinya selama beberapa tahun menjadi adik tiri dan di tambah beberapa bulan menjadi istri dari seorang Dion Atmaja, membuat ku menjadi wanita yang jahat. Kebahagiaanku hanyalah satu, yaitu membuat mereka merasakan apa yang aku rasakan selama ini." Ujarnya lagi masih sambil menatap konferensi pers yang terpampang di layar TV.
"Bagaimana Gamaliel Sanjaya, apakah kamu bisa membantuku ? Aku punya banyak uang dan bisa membayar berapapun yang kamu mau. Sayang aku masih belum bisa mengambil hak ku, tanpa memastikan rencana ku ini berjalan baik kedepannya. Dan aku butuh seseorang seperti mu untuk melakukan hal itu." Ujarnya lagi. Kali ini ia sudah menatap lekat wajah laki-laki yang sempat hilang dari ingatannya beberapa tahun terakhir. Wajah tampan yang sempat menatapnya sendu setelah memukul kepala Ayah tirinya dulu, kini nyata di hadapannya.
"Baiklah, aku akan melakukannya." Jawab Gama "Sepertinya kita harus melakukan dengan cepat, karena aku butuh bayaran, dan kamu harus secepatnya bisa menyelesaikan balas dendam mu." Sambungnya mengalah.
Briana tersenyum, lalu beberapa saat kemudian kembali terlihat datar dan dingin.