Briana

Briana
Bab 54. Di Usir



Setelah keluar dari pelataran rumah milik Bagas, mobil Kevin mulai melaju di jalanan, kembali berbaur dengan kendaraan lain yang juga sedang melaju di jalanan yang sama. Hari ini, Tuhan sedang berbaik hati terhadap dirinya. Yah, Tuhan sungguh baik bahkan terhadap orang yang penuh dosa seperti dirinya pun, Tuhan masih begitu baik, membantu melancarkan semua rencananya.


Jika Tuhan masih mempersulit jalan kita hari ini, itu bukan karena Tuhan sedang menyiksa umat Nya. Namun, Tuhan ingin kita untuk berusaha lebih keras lagi.


****


Di salah satu apartemen mewah yang ada di tengah kota Jakarta, Gama masih duduk dengan wajah cemberut di atas ranjang yang ia pakai untuk beristirahat semalam. Seorang gadis yang masih ingin ia peluk erat, kini sedang berdiri sambil melipat tangan di atas dada. Gadis cantik yang terlihat begitu menawan dengan gaun putih selutut itu, sedang menatap garang padanya.


"Aku ngga mau ya hidup bersama dengan pengangguran." Ujar Briana masih dengan wajah tak bersahabat. Sejak tadi ia terus saja mengusir laki-laki yang kini duduk dengan wajah memohon dari atas ranjang, namun, laki-laki yang terus bertingkah berlebihan itu masih saja duduk di atas ranjangnya.


"Kalau pun aku pengangguran, kamu tidak akan kelaparan. Kamu tahu kan kalau aku tuh anak orang kaya." Jawab Gama.


"Nggak, pergi dari sini sekarang juga. Kalau tidak, aku bakal hubungi pihak keamanan dan kamu akan di seret paksa dari apartemen ini." Ancam Briana.


"Aku takut kamu bakal pergi lagi." Mohon Gama agar Briana mengurungkan niat untuk mengusir dirinya dari apartemen.


"Nggak usah banyak alasan. Pergi sekarang juga !" Briana menarik lengan Gama, lalu menyeret laki-laki kesayangannya itu keluar dari dalam kamar miliknya.


Meskipun Gama berat meninggalkan Briana sendirian di sana, ia tetap beranjak dari atas ranjang dan ikut melangkah keluar dari dalam kamar.


"Tapi malam nanti aku tetap nginap di sini." Ucapnya.


"Nggak. Jangan datang ke sini lagi sebelum kamu nikahin aku." Jawab Briana tegas.


"Banyak omong. Pergi sana !" Briana mendorong tubuh Gama keluar dari apartemen, lalu segera menutup pintu apartemen itu rapat-rapat. Sejujurnya ia tidak tega melakukan hal ini terhadap laki-laki keayangannya itu, namun, semua ini atas permintaan Keyla, Ibu dari Gama.


Wanita itu ingin memberikan kejutan pasa purra yang sudah babyak di kecewakan oleh keluarga, dan meminta Briana untuk ikut menjadi pendukung rencana hari ini.


"Gimana ? Mobil Gama sudah meninggalkan apartemen kan ?" Tanya Briana setelah menjawab panggilan di ponselnya.


"Iya, buruan turun. Aku benar-benar udah karatan."


Suara kesal di ujung ponselnya, membuat Bruana tertawa. Setelah panggilan berakhir, Briana bergegas keluar dari apartemen menuju parkiran di mana sahabatnya sedang menunggu.


****


"Gila ya ! Pantat aku sampai keram loh karena nungguin kamu." Kesal Sasa saat Briana sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Susah banget, Sa bujukin dia. Dia benar-benar ga mau ninggalin aku sendirian." Jawab Briana dengan wajah yang bersemu. Sungguh sikap Gama membuat hatinya berdebar tidak karuan.


Sasa tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang terlihat malu-malu saat menceritakan tentang Gama.


"Apa kamu bahagia ?" Tanyanya.


Briana tersenyum manis, lalu mengangguk yakin. Yah, ia belum pernah merasa sebahagia ini. Selama ini, ia hanya berusaha untuk terlihat baik-baik saja agar sang Ayah tidak khawatir.