
Keyla dan Geri berpamitan untuk pulang. Sedangkan Gama, hanya meminta untuk di antarkan pakaian dan makanan ke rumah sakit. Ia sama sekali tidak ingin meninggalkan Briana walau sebentar, meskipun Flora sudah membujuknya. Geri pun tidak memaksa putranya itu untuk pulang.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Gama kembali membawa langkahnya menuju kamar perawatan tempat Briana berada. Ada banyak hal yang harus ia beritahukan pada Briana, agar semua rencana yang di inginkan gadis itu akan segera terlaksana.
Saat memasuki ruangan, Gama langsung melangkah menuju tempat duduk yang tersedia di samping ranjang pasien.
"Kamu butuh istirahat, Gama." Ucap Briana saat Gama sudah mendudukan tubuhnya di kursi yang ada di samping ranjang tempat ia berada.
"Tidak, sebelum semuanya kembali baik-baik saja. Maafkan Papa dan Mama. Maafkan Bang Kevin juga. Kami semua akan membantu mu mendapatkan apa yang seharusnya milik kamu sejak dulu." Jawab Gama.
Briana tidak lagi menimpali, gadis itu hanya menutup matanya perlahan. Bahkan saat Gama memperbaiki selimut yang menutupi tubuhnya, ia sama sekali tidak keberatan akan hal itu.
"Gama, apa kamu punya seseorang yang bisa membantu ku memperbaiki wajah ini ?" Tanya Briana. "Tidak, bukan memperbaiki tapi merubah. Aku tidak ingin wajah ini lagi." Sambungnya.
Gama menghentikan aktivitasnya, lalu menatap wajah Briana yang masih di penuhi luka bakar itu dengan perasaan sedih. Jika ia bisa meminta, ia hanya ingin tetap melihat wajah Ana nya yang dulu. Namun, ia tetap harus menghargai keinginan Briana.
"Malam nanti kita akan pindah ke klinik pribadi milik sahabat ku." Ucap Gama.
"Kenapa tidak sekarang ?" Tanya Briana. Gadis itu menoleh, menatap laki-laki yang masih menatap dirinya dengan tatapan yang sama seperti beberapa tahun lalu.
"Bukankah dia berhak tahu atas keberadaan ku ?" Tanya Briana, mencoba memancing reaksi Gama.
Gama tiak menanggapi, ia hanya menarik nafasnya lalu duduk dengan diam di samping ranjang tempat Briana berada. Ia hanya akan menjalani rencana yang sudah ia susun dengan baik di dalam otaknya. Toh, saat ini Briana tidak mampu melakukan apapun lagi. Ia yakin wanita yang masih menguasai seluruh hati dan perasaannya ini hanya akan mengikuti semua rencananya.
"Jangan seenaknya seperti dulu, Gama. Kita bukan lagi siapa-siapa." Ujar Briana lagi.
"Diamlah !" Tegas Gama.
"Dasar." Ucap Briana kesal. Ia lantas membalk tubuhnya, dan tidur membelakangi Gama.
Gama yang masih duduk dengan diam di samping ranjang, tersenyum sambil menatap punggung kurus Briana. Jika saja keadaan mereka masih sama seperti dulu, ingin sekali ia mendekap punggung itu, dan menghujani ciuman di kepala yang ada di hadapnnya.
Rindu ? Sangat. Hanya ia yang tahu bagaiman rindunya saat ini. Kembali bertemu dengan Briana seperti hari ini, adalah sesuatu yang selalu ia syukuri.
"Aku mencintai mu, Ana." Bisiknya pelan.
Briana yang masih terjaga sambil membelakangi Gama, menutup matanya perlahan. Kalimat singkat yang baru saja ia dengar, kembali membuka lembaran perasaan masa lalu sebelum kejadian mengerikan yang memisahkan mereka, terjadi. Dadanya berdetak, namun, dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk tidak terpengaruh dengan keadaan ini. Tujuannya saat ini bukan lagi Gama, tetapi mencari keadilan atas apa yang sudah menimpanya hari ini.