Briana

Briana
Bab 68. Kota Bali



Siapa sih yang tidak mengenal satu kota yang ada di bagian barat kepulauan Nusa Tenggara ini ? Bahkan para warga asing pun jika di tanyakan tentang Indonesia, pasti akan menyebutkan pulau dewata ini.


Sehari setelah pernikahan, Gama meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk mengajak Briana berkunjung ke kampung halaman istrinya itu, sebelum kemudian ia akan mulai menggantikan kesibukan sang Ayah di perusahaan.


Ada banyak hal yang terlewati, begitu pikirnya. Untuk itu, ia akan menggunakan setiap detik waktu yang akan mereka habiskan di Bali, dengan sebaik mungkin.


Pesawat yang membawa mereka ke kota Bali akan segera mendarat. Sepasang suami istri yang baru saja melangsungkan pernikahan sehari yang lalu, saling menggenggam. Senyum masih terpancar di wajah keduanya. Bahagia? Tentu saja, siapa yang tidak bahagia saat sesuatu yang di nanti sekian tahun kini mereka raib bersama.


Setelah melewati begitu banyak lika liku kehidupan, kini mereka akan mulai meneguk rasa bahagia itu, dengan memulai kehidupan baru yang jauh lebih indah.


Setelah beberapa saat menanti, kini pesawat yang mereka tumpangi berhasil mendarat dengan selamat di salah satu bandara Internasional di kota Bali. Masih sambil menggenggam tangan Briana, Gama menuntun istrinya itu untuk keluar dari dalam pesawat, sedangkan barang-barang mereka akan langsung di bawa oleh orang suruhan Gama ke resort milik keluarga nya.


"Kita mau ke mana, Gama?" Tanya Briana saya suaminya itu terus membawa tubunya keluar ari terminal kedatangan menuju area parkir bandara.


"Pakai ini." Ucap Gama sambil mengulurkan satu buah pengaman kepala kepada istrinya. "Aku mau bertemu ibu mertuaku dulu, dan meminta izin kepadanya untuk menjaga putrinya." Sambung Gama lagi.


Briana terdiam sejenak. Yah, ia melupakan seseorang yang begitu mencintainya.


"Tapi aku tidak tahu di mana beliau di makamkan." Lirih nya pelan. Manik indahnya terlihat berembun saat ingatannya kembali terkenang malam tragis beberapa tahun silam.


"Sungguh, aku tidak tahu lagi harus bagaimana berterimakasih kepada keluarga mu atas semua ini, Gama." Jawab Briana.


Gama tidak lagi menjawab, ia hanya meraih tubuh mungil istrinya itu lalu memeluknya dengan erat.


Itulah gunanya keluarga. Keluarga adalah orang-orang yang akan selalu ada di saat kita tertimpa masalah. Dan keluarga adalah orang-orang yang paling tahu apa yang harus di lakukan, saat kita tidak bisa melakukan apapu lagi.


"Ayo kita ke sana, aku mau meminta izin banyak hal pada beliau. Kamu siap-siap aja dengan permintaan aku yang banyak." Ujar Gama lalu tertawa.


"Kamu bikin aku takut." Briana ikut tertawa dengan setitik air mata yang masih terlihat di pelupuk mata.


Setelah mengenakan pelindung keselamatan dengan baik, keduanya segera meninggalkan area parkir bandara itu menuju pemakaman umum di mana ibu Briana di makamkan.


Banyak hal yang ingin di lakukan Gama di kota ini. Kita di mana keduanya pertama kali di pertemukan. Kota di mana mereka berdua memulai kisah manis mereka, hingga akhirnya terpisahkan oleh keadaan.


Dan inilah, sejauh mana pun kaki melangkah. Seberat apapun rintangan yang datang, jika Tuhan menakdirkan untuk bersama, tetap akan kembali bersama. Percayalah !!