
Saat tiba di depan hotel yang ia datangi bersama Gama tadi, Briana menarik nafasnya dalam-dalam. Berusaha sekuat tenaga, mengumpulkan keberaniannya untuk melangkah masuk kedalam bangunan megah tersebut.
"Permisi, saya tamu dari Tuan Dion Atmaja. Bisa tolong hubungi kamar beliau ?" Tanya Briana pada pegawai hotel yang sedang berjaga di meja resepsionis.
"Maafkan saya, Nona. Tapi malam ini malam pengantin Pak Dion, saya takut mengganggu." Jawab si pegawai berparas tampan itu.
Briana menarik sudut bibirnya, kemudian memperlihatkan isi pesan dari Dion yang masuk ke dalam ponselnya beberapa saat yang lalu kepada laki-laki muda yang ada di hadapannya.
Karena melihat gadis yang ada di hadapannya ini seperti wanita yang berasal dari kelas atas, membuat laki-laki itu percaya jika Briana memanglah tamu yang di undang oleh Dion.
"Biar saya saja." Briana mengulurkan tangan, lalu menerima telepon yang baru terhubung dengan kamar pengantin. Ia tahu, Dion tidak lagi berada di sana, karena laki-laki brengsek itu sudah memberitahu padanya kamar lain. Benar-benar laki-laki brengsek, bahkan di malam pengantin bersama Risa, laki-laki itu tetap ingin menghabiskan malam dengan wanita lain.
"Ada yang bisa saya bantu ?" Suara wanita yang begitu ia kenali terdengar di telinga Briana. Suara yang selama beberapa bulan setelah kepergian Ayah kandungnya, terus terdengar dan menjadi mimpi buruknya di rumah mewah keluarga Atmaja.
"Aku Briana, tamu dari Tuan Dion. Apa aku bisa ke sana sekarang ?" Jawab Briana acuh. Bahkan geraman kesal di ujung telepon yang masih menempel di telinga nya, tak mampu membuat nyalinya menciut malam ini.
"Brengsek, aku akan membunuh mu." Teriak wanita yang ada di ujung sana.
"Oh iya, aku lupa dia sedang menungguku di kamar 2709." Ujarnya mencemooh tanpa menghiraukan makian di ujung telepon, lalu tanpa berpamitan pada laki-laki muda yang ada di hadapannya, Briana kembali meletakkan telepon itu ke tempatnya dan mengakhiri teriakan keras di ujung sana.
Setelah mengucapkan terimakasih pada laki-laki yang ada di hadapannya, Briana kembali berbalik dan meninggalkan hotel itu dengan senyum penuh kemenangan. Dia yakin, setelah kakinya beranjak dari pelataran hotel ini, sebuah neraka baru untuk sepasang pengantin yang seharusnya menghabiskan malam indah penuh cinta di atas ranjang, akan di mulai.
Namun, saat kakinya hendak melangkah keluar dari hotel, sepasang mata tajam bak elang kini tertuju padanya. Briana menarik nafasnya dalam-dalam, entah dari mana laki-laki ini tahu keberadaannya malam ini.
Gama melangkah mendekat, terlihat begitu jelas raut kesal di wajah tampannya. Dan tanpa meminta persetujuan Briana, ia langsung menarik lengan wanita yang ia cintai itu dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
"Bisa nggak kamu tuh nurut sekali aja kalau di bilangin ?"
Tatapan tajam nyaris membuat tubuh tercabik itu, masih terus tertuju ke arahnya. Briana masih diam, dan dengan patuh masuk ke dalam mobil mewah milik Gama.
"Apa aku harus membuat kamu hamil dulu, agar kamu mengerti kalau aku cinta...
"Semua sudah berlalu, Gama." Sela Briana dingin. Ia tidak ingin mendengar pengakuan cinta dari siapapun, dan merusak semua rencana yang sudah tersusun rapi di otaknya.