
"Enak kan?" Tanya Briana sambil menatap wajah tampan Gama yang sedang menikmati masakannya. "Kenapa?" Tanyanya kemudian saat melihat wajah Gama yang terlihat murung.
"Aku jadi ngga mau makan masakan orang lain lagi kalau masakan kami seenak ini. Gimana dong?" Tanya Gama dengan wajah menggemaskan, membuat Briana seketika tertawa. Melihat tawa lepas di wajah istrinya, Gama pun ikut tertawa bahagia.
"Ga usah gombal deh." Ucap Briana masih dengan tawa di bibirnya.
"Benar kok, ini enak banget. Nanti kalau udah di Jakarta aku bakal bilang ke Mama, nanti khusus makanan aku kamu sendiri yang harus buatin." Ujar Gama.
Briana terkekeh. Ini sungguh membahagiakan baginya. Selama ini ia hanya bisa menikmati bagaimana rasanya di cintai seseorang itu, dalam khayalan.
"Senyum terus, kan aku jadi pengen bawa kamu ke kamar." Goda Gama..
"Dasar!" Briana beranjak dari atas kursi yang ia duduki, lalu melangkah menuju wastafel untuk membersihkan bekas peralatan yang ia gunakan untuk memasak masakan buat Gama.
"Ga usah nanti ada petugas yang bertanggung jawab." Gama menarik lengan istrinya, dan mengajak gadis itu untuk kembali duduk di samping nya. "Temani aku." Sambungnya dengan nada tegas.
Briana terdiam sejenak, lalu, beberapa saat kemudian kepalanya sudah bersandar di bahu Gama.
"Hal yang paling aku impikan." Ucapnya bergumam.
"Dan hal ini akan selalu aku berikan sampai kamu bosan." Balas Gama. Lelaki itu lantar tertawa pelan.
Gama kembali melanjutkan makan malam nya, begitu pula dengan Briana. Gadis itu ikut menikmati makanan yang ia sajikan untuk sang suami dengan hati yang di penuhi bahagia.
Di anggap ada, dan memiliki keluarga yang begitu mencintai nya adalah hal yang selalu ia impikan sejak dulu. Namun, setelah ia terjaga dari mimpi yang begitu panjang tanpa mengenali siapa dirinya yang sebenarnya, ia benar-benar tidak lagi terlalu banyak berharap tentang hal itu.
"Hei, kok ga makan?" Tanya Gama saat mendapati Briana hanya menatap ke arahnya tanpa menyentuh makanan yang ada di hadapan istrinya itu.
Briana terkejut. Ia lalu menggeleng bersama dengan senyum manis di wajahnya.
"Aku mau mandi. Mau mandi bareng?" Tanya Gama lagi dengan wajah jail nya.
Dan blush.. Hal yang paling ia sukai akhirnya muncul kembali di wajah cantik istrinya. Pipi mulus yang memerah seperti tomat, itulah kesukaannya.
"Merah, aku suka." Usap nya lembut di pipi Briana.
Briana menggenggam tangan sedang mengusap lembut pipinya, lalu mengecupnya dengan lembut.
"Aku mengucapkan banyak terimakasih untuk tangan ini. Tangan yang selalu saja mampu menyelamatkan ku. Terimakasih." Ucap nya.
"Dan tangan ini akan selalu memastikan kamu baik-baik saja sampai nanti." Balas Gama. Menarik tubuh Briana dengan hati-hati, lalu memeluknya erat. Sangat erat. "Aku mencintaimu, Ana." Ucapnya lagi.
Briana tersenyum dalam dekapan. Mengamini setiap kalimat Gama, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Berharap? Pastinya. Akan tetapi kali ini ia lebih menyerahkan segalanya kepada Sang Pemilik Takdir.
"Gama..." Teriak Briana terkejut saat tubuhnya sudah berada dalam gendongan.
"Aku sudah kuat kok, jangan khawatir. Kan kamu sudah buatin makanan yang enak tadi." Ujar Gama.
Briana tidak lagi protes, ia hanya membawa kedua tangannya dan melingkarkan dengan erat di leher Gama. Meskipun ia tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya karena keadaan mereka yang begitu intim, ia tetap menatap laki-laki yang terus saja tersenyum hangat itu. Sebahagia itukah laki-laki ini? Sebanyak ini kah Gama menginginkan dirinya? Entahlah.
Cinta yang begitu banyak liku, akhirnya bisa kembali bersatu dan bersiap meraih bahagia bersama.
"Kita belum membersihkan diri, Gama." Saat Gama melepaskan bibirnya sebentar untuk menghirup oksigen, guna mengisi paru-paru keduanya.
"Setelah ini." Jawab Gama dengan suara serak nya.
Wajah Briana semakin bersemu saat Gama kembali mencium bibirnya dengan begitu dalam. Bahkan tangan lelaki itu mulai melepaskan kancing dress yang melekat di tubuh Briana.
Lenguhan panjang terdengar dari bibir Briana saat ciuman panjang Gama, kini berpindah di leher jenjangnya.
"Boleh kan?" Tanya Gama memastikan.
Briana diam dengan wajah yang memerah.
"Hati-hati." Ucapnya pelan.
Gama kembali melanjutkan kegiatan menyenangkan nya itu. Kecupan yang meninggalkan bekas di kulit putih istrinya, terus ia lakukan. Tangan nya juga tidak tinggal diam. Melepaskan gaun putih yang melekat di tubuh Briana dengan hati-hati.
drrrttt.... drrrttt...
"Gama ponsel kamu." Briana mendorong tubuh Gama yang sedang berada di atas tubuhnya dengan hati-hati. "Gama..." Lirih nya lagi, saat Gama masih belum beranjak dari atas tubuhnya.
"Ahh, aku akan membunuh orang yang berani mengganggu ku." Kesalnya. Ia merapikan kembali dress yang sudah ia buat berantakan, mengecup lembut bibir Briana sebentar, kemudian beranjak dari atas ranjang itu. "Tunggu di situ sebentar." Perintahnya pada sang istri. Gegas ia meraih ponsel dan bersiap memaki siapa saja yang berani mengganggu kesenangan nya malam ini.
Ponselnya kembali bergetar, dengan kesal ia mengusap ikon berwarna hijau di layar ponsel nya dan bersiap memaki Abang brengsek nya di ujung sana.
"Ganggu aktivitas menyenangkan kamu, ya?"
Terdengar suara Kevin yang meledek di ujung sana. Gama melengos kesal dengan sikap kakak sepupunya yang selalu membuatnya murka.
"Ada apa?" Tanya nya ketus sambil berpegangan di pagar pembatas balkon kamar.
"Kamu ngga mau dengar berita tentang Dion?"
"Hanya berita si brengsek itu yang membuat Abang mengganggu malam indah ku, ha!" Teriaknya kesal namun, hanya terdengar tawa meledek di ujung ponselnya. "Udah, mati aja sekalian si gila itu." Maki nya kesal. Dan lagi-lagi hanya di balas dengan tawa geli di ujung sana, hingga membuatnya semakin kesal dan segera mengakhiri panggilan sialan itu.
Dengan langkah cepat ia kembali ke kamar, berharap gadis yang ia tinggalkan tadi akan tetap berada di tempatnya. Namun, sayang harapan nya tinggal lah harapan. Bunyi air yang keluar dari shower terdengar jelas dari dalam kamar mandi, itu berarti gadis nya sedang berada di dalam sana.
Tanpa berpikir panjang, ia melangkah kan kaki menuju pintu kamar mandi, dan tanpa permisi langsung membuka pintu itu hingga membuat orang yang sedang berada di dalamnya berteriak ketakutan.
"Apa sih, Gama. Kamu ngga bisa mengetuk pintu sebelum masuk?" Omel Briana kesal, sambil memakai bathrobe yang tersedia di sana dengan terburu-buru. "Gama, kamu belum mandi!" Pukul Briana di bahu Gama. Namun, laki-laki itu tidak perduli, dan langsung membawa tubuh istrinya yang hanya berbalut kimono itu menuju ranjang.
****
*Note Author
Tinggalkan like dan komentarnya, nanti bakal aku buat malam pertama.. kalo like nya dikit, ya udah malam pertamanya sampai situ aja 😛😛