Briana

Briana
Bab 28. Batal Menikah



"Kamu jangan khawatir, orang suruhan ku sedang melakukan penyelidikan tentang hal itu. Jika benar-benar terbukti, maka mereka akan di dakwa sebagai tersangka kasus pembunuhan berencana, dan aku rasa kamu tahu hukuman itu bukan lah hukuman yang ringan." Ujar Kevin.


"Di tambah dengan percobaan pembunuhan terhadap ku, maka mereka akan benar-benar membusuk di penjara, Bang." Sambung Briana.


Kevin mengangguk membenarkan.


"Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan kami." Gama masih protes tentang rencana yang ia paksakan pada kedua orang tuanya.


"Ya batal lah, apa lagi." Jawab Briana santai. Gama melotot kesal. Sedangkan Kevin hanya tertawa keras melihat wajah kesal adik sepupunya.


"Abang sih, padahal rencana ku itu sudah benar-benar matang." Ujar Gama masih belum menerima perubahan rencana yang di buat oleh Kevin.


Melihat tingkah kekanakan Gama, Briana memutar bola matanya malas.


"Ini nomor ponsel milik Pak Dion dari Atmaja Group." Seorang sekretaris cantik yang sedang duduk di samping Kevin, mengulurkan secarik kertas yang berisi beberapa digit angka.


"Dia sudah memiliki nomor ponsel si brengsek itu." Ujar Gama kesal.


"Sebentar, Bang." Briana beranjak dari atas sofa lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Beberapa saat kemudian, ia kembali ke ruang tamu itu, sambil membawa ponsel yang ia gunakan untuk memulai misi balas dendam nya, kemudian menyerahkan ponsel itu pada Kevin.


Kevin menerima ponsel itu dengan senyum di bibirnya. Briana sudah membuka jalan untuk rencananya, itu berarti ia akan segera melunasi hutang rasa bersalah nya pada dua orang yang ada di hadapan nya ini.


"Aku berpura-pura menjadi wanita panggilan." Ucap Briana.


"Apa-apaan itu." Kesal Gama.


"Aku hanya berpura-pura, ga usah berlebihan. Diam atau aku ga mau kamu datang ke sini lagi." Ancam Briana tidak kalah kesal. Setelah membuat laki-laki cerewet di sampingnya diam, ia kembali menjelaskan perihal apa yang ia lakukan semalam.


"Hubungi dia lagi, dan minta maaf. Katakan padanya kamu di ancam oleh Risa." Kevin kembali menyerahkan ponsel itu pada Briana. "Jangan lupa katakan padanya kamu ingin bertemu." Sambung Kevin semakin membuat Gama kepanasan.


Briana mengangguk paham.


"Hai, maafkan aku ga bisa menepati janji." Ucapnya manja saat panggilan sudah terhubung di ujung sana.


"Ngga apa-apa, apa kamu baik-baik saja ?" Tanya laki-laki yang sedang terhubung dengan panggilan itu.


"Iya, bersyukur aku bisa menghindari amukan istrimu." Kekeh Briana. "Semalam aku bertemu dengannya di lobi hotel. Tepat saat itu aku sedang menanyakan keberadaan kamu di meja resepsionis." Kali ini suaranya sudah di buat sesedih mungkin. Benar-benar aktris yang profesional.


"Apakah kamu bisa datang ke perusahaan ? Aku butuh seseorang."


Mendengar kalimat itu, Kevin dan Briana tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Gama semakin memerah karena geram.


"Tentu, aku akan datang. Tapi ngomong-ngomong aku ga tahu perusaahan kamu di mana. Bisakah kamu meminta seseorang untuk datang menjemput ku ?" Pinta Briana manja.


"Bukan hal yang sulit. Tunggu saja, dan kirimkan lokasi mu padaku. Orang ku akan datang menjemputmu nanti."


Setalah mengiyakan kalimat itu, Briana mengakhiri panggilan.


"Ini akan cepat selesai. Mereka pasti akan merasakan balasan karena sudah melakukan hal buruk pada mu dan juga Om Alfin." Ujar Kevin setelah panggilan itu berakhir. Ia dan sekretaris kemudian berpamitan untuk pulang, membiarkan dua orang yang ada di dalam ruangan itu untuk menyelesaikan masalah mereka.


"Ngga kamu ngga boleh pergi !" Tegas Gama setelah pintu apartemen kembali tertutup rapat.