Briana

Briana
Bab 59. Lamaran ?



"Tangan kamu ngga sibuk lagi kan, ayo makan." Briana menarik tangannya yang sedang di genggam erat, lalu memulai makan siangnya dengan diam. Bahkan saat Gama memandang wajah cemberut karena di menjadi bahan tertawaan orang-orang yang ada di ruangan itu, Briana sama sekali tidak memperdulikan. Ia memulai makan siangnya dengan diam dan lahap.


"Terimakasih untuk makan siangnya, Tante." Ucap Briana saat Keyla terus menatap ke arahnya bersama senyum manisnya.


"Bukan Tante, Ana. Tapi Mama." Ucap Gama.


"Jangan gangguin dia, kamu makan sana !" Perintah Keyla pada putranya yang sejak tadi terus saja mengganggu Briana.


Gama hanya semakin memasang wajah cemberut, kemudian memulai makan siangnya juga tanpa suapan dari Briana. Ah, tak masalah nanti setelah menikah ia akan tetap meminta Briana untuk menyuapi nya setiap hari.


****


Waktu terus berlalu, makan siang yang hangat telah berakhir. Kini seluruh keluarga duduk di sofa yang ada di ruang keluarga sambil menikmati kudapan yang sudah di siapkan oleh asisten rumah tangga.


Briana masih duduk dengan diam di samping Flora. Gadis cantik itu sesekali menanggapi pertanyaan yang di utarakan oleh gadis kecil yang di beri nama Felia.


Bahkan saat Gama berulang kali menggodanya dengan berbagai macam cara tengil seperti biasanya, Briana sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Ia terus saja menutup mulutnya rapat-rapat dari hal-hal yang tidak penting.


"Kita pulang ke apartemen yuk.." Ajak Gama tiba-tiba. Briana masih belum menanggapi. Gadis itu menganggap laki-laki yang terus mengganggunya, sebagai radio rusak.


Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam.. Flora sudah membawa putri bungsunya yang terus mengajak Briana berbicara, ke ruangan lain.


"Kami ingin meminta kamu menjadi istri buat Gama, dan menantu buat kami." Keyla kembali melanjutkan pembicaraan nya. Wanita dengan kecantikan yang tidak termakan usia itu menggenggam erat tangan suaminya. "Apa kamu bisa mengabulkan permintaan kami?" Tanyanya lagi.


Keyla menatap wanita cantik yang sudah melahirkan laki-laki yang ia cintai itu, dengan lekat. Lalu memalingkan wajahnya menatap Gama, dan langsung mendapatkan anggukan antusias dari laki-laki yang sedang duduk di samping nya itu.


"Sebelum menjawab permintaan Tante, bisakah aku menanyakan sesuatu ?" Tanya Briana.


"Ana..." Lirih Gama. Ia menatap penuh permohonan pada gadis yang masih menatap lekat ke arah sang ibu. "Jangan seperti ini, Ana. Aku mohon.." Pintanya memohon.


"Semua yang Tante dan Om lakukan hari ini, bukan karena paksaan dari Gama kan ?" Tanya Briana. Ia mengabaikan laki-laki yang kini sedang menatapnya penuh permohonan. "Aku sudah pernah menjalani pernikahan yang di paksakan, dan hasilnya mengenaskan, nyaris merenggut nyawaku sendiri. Dan aku tidak ingin hal seperti itu terulang kedua kalinya dalam hidupku." Jelas Briana.


Keyla tersenyum..


"Tidak ada yang di paksakan. Hal yang paling Tante dan Om sesali hingga hari ini adalah, memaksakan kehendak dan membuat Gama pergi dari kehidupan kamu beberapa tahun yang lalu. Tante pikir, apa yang Tante dan Om lakukan saat itu, sudah tepat. Namun, Tante salah besar. Semua yang kami lakukan justru membawa kesedihan buat Gama." Jelas Keyla. Ia masih ingat bagaimana sulitnya ia memaksa Gama untuk kembali ke Indonesia setelah kabar pernikahan Briana dengan Dion.


"Apa ini sebuah lamaran ?" Tanya Briana. Kali ini senyum manis di bibirnya tercetak dengan begitu jelas.