
Dua minggu berlalu begitu cepat. Kini, mobil yang sedang di kendarai Gama, terus melaju di jalanan kembali ke rumah orang tuanya. Lelaki yang nampak terlihat tampan itu, sesekali melirik istrinya yang tengah terlelap di samping nya.
"Maaf sudah buat kamu ngantuk semalaman." Gumamnya, disertai senyum manis terlihat di bibir tipisnya. Tangannya terulur dan mengusap lembut rambut istrinya itu. "Cinta kamu, Ana." Sambungnya lagi.
Gadis yang sedang menutup mata, menyunggingkan senyum nya. Matanya masih tertutup rapat, namun, hatinya begitu membuncah. Selama ini, ia berpikir tidak akan menemukan laki-laki baik seperti Gama, tapi hari ini Tuhan mengirimkan laki-laki ini untuknya. Kehidupan baru yang indah, akan ia bangun mulai hari ini. Kehidupan baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Mobil yang di kendarai Gama berhenti. Entah apa gerangan, Briana pun tak tahu. Ingin membuka mata, namun, tubuhnya pasti tidak akan selamat seperti beberapa hari ini.
"Jangan berpura-pura tidur. Aku lihat bibir manis mu ini tdi menyunggingkan senyum." Kecup Gama di atas bibir Briana, membuat wanita cantik itu terbelalak.
"Aku cuma mau istirahat, Gama. Lelah." Jawab Briana.
"Dokter Leon akan menikah." Ucap Gama. Lelaki itu mengusap pipi istrinya yang tertutupi rambut panjang.
Briana terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Tatapan Gama yang begitu dekat, membuat jantungnya seakan melompat keluar dari tempat nya.
"Menikah dengan Clara." Sambung Gama saat melihat Briana masih diam. Ia menjauh dari tubuh dari istrinya yang masih bersandar di kursi mobil.
"Turut bahagia." Ucap Briana pelan.
"Kamu ngga apa-apa jika terus hidup sebagai orang lain?" Tanya Gama.
Briana menggeleng. Ia ingin memiliki kehidupan baru, yang tidak di ketahui oleh orang-orang di masa lalunya, terkecuali keluarga Gama. Ia benar-benar ingin menikmati kehidupan barunya, tanpa terus terngiang rasa sakit yang sempat di lakukan oleh orang-orang itu terhadap dirinya.
"Kamu yakin?" Tanya Gama ingin memastikan.
"Kamu tahu siapa aku, itu sudah cukup Gama. Aku ingin kehidupan baru yang damai bersama mu, dengan tidak menghadirkan siapapun dari kehidupan aku di masa lalu." Jawab Briana.
"Aku tahu. Untuk itu, aku tidak perlu siapapun lagi, yang paling penting adalah, kamu akan terus berada di samping ku, itu saja." Jawab Briana.
Gama mengangguk paham, karena mungkin inilah yang terbaik. Cukup dirinya dan keluarga yang tahu, siapa Briana sebenarnya.
"Bang Kevin akan mengurus identitas kamu yang baru." Ucapnya.
"Terimakasih." Ucap Briana.
"Aku yang berterimakasih, karena masih mau menerima ku. Terimakasih karena sudah memaafkan keluarga ku." Ucap Gama.
Briana memeluk lengan Gama, lalu bersandar di bahu suaminya itu.
"Mau punya anak berapa?" Tanya Briana smabik tersenyum manis.
"Banyak." Jawab Gama sambil kembali melajukan mobilnya meninggalkan rest area.
Briana kembali tersenyu..
"Aku mau aku punya anak lelaki yang mirip kamu. Baik dan tampan, kaya pula." Kekeh nya.
Gama pun ikut tertawa mendengar keinginan istrinya itu. Tidak, bukan seberapa banyak. Tidak masalah apapun yang akan Tuhan berikan nanti dalam hidupnya, yang terpenting Briana akan selalu bersamanya. Kehidupan baru dan indahindah bersama wanita yang ia cintai, itulah yang paling ia inginkan saat ini.
Briana, gadis pertama dan terakhir yang menempati ruang di hati nya.