Briana

Briana
Bab 43. Keresahan Dion



Setelah pintu apartemen mewah yang baru saja ia lewati sudah tertutup rapat, Dion kembali membalik tubuhnya lalu menatap pintu apartemen itu dengan banyak pertanyaan di otaknya.


Resah, begitulah yang ia rasakan saat ini. Ada banyak hal yang ia khawatirkan tentang kehidupannya, jika gadis itu benar-benar mengetahui apa yang sudah ia perbuat di masa lalu.


Masih dengan perasaan gundah juga pikiran yang di selimuti banyak pertanyaan, Dion melangkah perlahan menuju lift. Ia tidak boleh beralama-lama di sini, jika masih ingin menikmati kehidupannya dengan baik. Gadis yang mengaku sebagai wanita malam itu, bukanlah gadis biasa. Ia melihat dengan begitu jelas kebencian di mata gadis itu, saat ia memaksa untuk menghabiskan malam di dalam apartemen tadi. Terlebih, seorang putra dari pemilik perusahaan besar terlihat begitu melindungi gadis yang bernama Briana itu.


Tidak, SN bukanlah tandingannya. Karena jika sudah berurusan dengan SN, maka mau tidak mau akan berurusan dengan HG juga. Ia tidak ingin menambah masalah dalam hidupnya lagi. Yang paling penting, saat ini ia bisa membawa ibunya keluar dari masalah yang di timbulkan oleh istrinya, Risa.


Lift yang membawa Dion turun menuju lantai paling dasar di apartemen, sudah berhenti. Lelaki itu bergegas keluar dari dalam kotak besi yang membawanya sambil memegang pipinya yang sudah penuh dengan memar karena pukulan Gama, agar tidak di curigai oleh penjaga keamanan apartemen. Akan semakin rumit, jika lelaki paruh baya yang bertugas menjaga keamanan apartemen ini, akan menanyakan apa yang sudah terjadi dengan dirinya.


Setelah berhasil melewati pintu tanpa interogasi dari petugas keamanan, Dion segera masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan tempat itu. Saat ini ia bukan lagi berurusan dengan seorang gadis penghibur, tetapi dengan putra dari pemilik perusahaan besar. Jika ia salah dalam mengambil langkah, maka ia akan berada dalam masalah besar.


Mobil milik Dion mulai melaju di jalanan menuju rumah. Berbagai macam pertanyaan terus saja mengganggu pikirannya, tentang siapa gadis yang begitu cepat mempengaruhinya beberapa hari ini. Nama yang sama, tetapi dengan wajah dan juga kepribadian yang berbeda. Tidak, itu bukan Briana. Istri malangnya sudah pergi, dan tidak akan mungkin kembali lagi.


"Ke mana aja kamu ? Pergi menghabiskan malam dengan wanita murahan itu ?"


Suara penuh kekesalan berhasil menahan langkah Dion yang hendak pergi menuju kamar.


"Aku lelah, Risa. Biarkan aku beristirahat malam ini, dan kita akan kembali membahasnya besok."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Dion kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar utama untuk beristirahat. Ia tidak lagi memperdulikan suara yang mulai meninggi terdengar di ruangan mewah itu, dan terus melanjutkan langkahnya untuk pergi dan mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah.


Wanita yang Dion tinggalkan sendiri di dalam ruangan itu, hanya bisa menelan kekesalannya sendiri karena di abaikan di dalam ruangan itu. Tangannya terkepal dengan begitu erat, karena mulai di perlakukan dengan tidak baik. Selama ini, Dion selalu mengutamakan dirinya dari apapun. Lelaki itu bahkan rela melakukan apa saja untuk dirinya, namun, lihatlah sekarang bahkan hanya sekedar menjawab pertanyaannya pun Dion begitu malas melakukannya.