
Sama halnya di kediaman Kevin dan Flora, di apartemen milik Flora pun begitu indah hingga mampu membuat iri siapa saja yang melihat keadaan itu. Sepasang insan yang sudah saling jatuh cinta sekian tahun lamanya itu, kembali berpelukan hangat di atas ranjang setelah terganggu dengan panggilan di ponsel yang ada di atas nakas samping tempat tidur mereka.
"Ayo bangun, aku mau masak sarapan buat kita." Ajak Briana ketika Gama kembali memeluknga erat di bawah selimut usai menerima panggilan entah dari siapa.
"Bang Kevin sudah mengumpulkan semua bukti kecelakaan kamu, juga kematian Om Alfin." Ucap Gama masih sambil memeluk erat tubuh Briana. "Dan hari ini, Bang Kevin akan menyerahkan semua itu pada pihak berwajib." Sambungnya.
Briana yang berniat untuk bangun dari tempat tidur, kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang Gama.
"Aku jahat banget ya, Gama." Gumam nya pelan, namun bisa di dengar dengan jelas oleh Gama.
"Nggak kok. Sakit hati dan marah pada orang yang telah menyakiti kita menurutku adalah perasaan yang wajar, Ana. Tapi aku ingin kamu tetap jadi gadis yang baik, dan tidak menyimpan dendam apapun di dalam hatimu, sama seperti Ana yang aku kenal dulu." Ujar Gama. Ia berulang kali mencium puncak kepala wanita yang ia cintai itu.
"Apa tidak perlu kita lanjutkan lagi ? Biarkan saja Dion menikmati hidupnya dan cukup mendoakan agar kejadian yang menimpaku tidak akan terjadi lagi pada siapapun." Ucap Briana. Ia sudah menarik kembali kepalanya yang terbenam dalam pelukan Gama, lalu menatap lelaki itu dengan yakin. Namun, Gama segera menggeleng tegas.
"Ada hukum yang berlaku di negara kita, Sayang. Aku tidak ingin memintamu untuk membiarkan orang seperti dia menhghirup udara bebas. Yang aku mau adalah, jangan menyimpan dendam lagi di dalam hatimu. Aku janji akan memberikan banyak bahagia yang tidak pernah kamu rasakan selama ini." Ujarnya.
Briana mengangguk mengerti. Yah, dia hanya perlu membiarkan bagaimana hukum bekerja. Bukankah semua yang di tabur, itu pula yang akan di tuai nanti. Semua perbuatan akan ada balasannya, entah itu perbuatan baik atau pun buruk.
Briana tersenyum, lalu beranjak dari atas ranjang dan segera melangkah menuju kamar mandi.
Gama masih duduk di atas ranjang sambil memperhatikan Briana yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. Lega, yah ia merasa begitu lega karena kini bisa memulai kehidupan baru yang lebih baik bersama Briana.
"Ayo sana, bersihkan wajah ngantuk mu itu." Perintah Briana.
"Sudah seperti istri ku aja." Kekeh Gama. Ah ini sungguh membahagiakan baginya. Hidup bersama wanita yang ia cintai dalah hal yang paling ia inginkan selama ini. Bahkan saat mendengar kabar Briana sudah menikah dengan orang lain pun, keinginan itu masih belum pergi dari pikirannya.
Cup...
Kecupan manis mendarat dengan sempurna di pipi Briana. Gadis cantik itu hanya tersenyum, lalu kembali meminta Gama untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Tidak ada yang perlu di sesali. Bertemu dengan orang yang salah terlebih dahulu, bukanlah merupakan petaka, melainkan sebuah pembelajaran. Tuhan pasti menyiapkan segala sesuatu yang baik untuk hidup kita di waktu yang tepat.