
"Dasar wanita murahan ! Kalau kamu perlu uang, aku bisa memberikannya padamu, dan kamu tidak perlu menjual diri pada suamiku, jaalang !" Teriak yang tiba-tiba sudah berada di belakang sofa tempat ia dan Dion duduk.
Briana hanya menarik sudut bibirnya saat mendengar teriakan Risa padanya. Rasa panas di kepala karena hantaman tas branded milik Risa, sama sekali tidak membuatnya merintih. Yah, hati dan tubuhnya sudah terlalu sakit jika di hanya di bandingkan dengan hantaman tas itu.
"Kamu sudah gila ! Dia itu tamu aku, berani sekali kamu memukulnya." Bentak Dion.
Risa terkejut melihat wajah Dion yang terlihat sudah memerah menahan amarah. Ini pertama kalinya ia melihat Dion seperti ini padanya. Biasanya laki-laki yang ada di hadapannya ini akan melakukan apa saja untuk memohon maaf atas apa yang terjadi. Namun, lihatlah sekarang, tatapan nyalang yang seakan ingin memakan nya hidup-hidup begitu menakutkan, padahal ia hanya memukul kepala seorang pelacur.
Di belakang Dion, Briana tersenyum sinis dan itu di lihat oleh Risa.
"Jangan macam-macam jika kamu masih ingin menumpang hidup mewah dengan ku." Ancam Dion.
Briana tidak ingin menyianyiakan keadaan itu. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan yang ada di hadapannya. Tanpa berlama-lama, Briana segera merogoh salah satu ponselnya yang ada di dalam tas, dan bersiap merekam apa yang sedang terjadi di ruangan itu.
"Maksud kamu apa ?" Risa tidak mau kalah. Gadis yang sudah terlanjur kesal dengan apa yang di lakukan oleh suaminya itu, bertanya dengan nada penuh kekesalan.
"Aku bisa menjebloskan kamu ke dalam penjara karena sudah membunuh Briana." Ujar Dion.
Risa tertawa geli mendengar ancaman Dion.
"Jika kamu ingin menikmati bagaimana hotel prodeo bersama ku, ayo lakukanlah. Tidak, bukan hanya kita berdua tetapi Ibu kesayangan mu juga. Oh iya, aku kira kamu tidak lupa siapa yang merencanakan ini semua. Aku hanyalah seorang kaki tangan, Dion. Tapi kamu dan Ibu mu lah yang merencanakan segalanya."
Plak...
"Jika kamu berani membuka mulutmu dan membahas ini lagi, maka akan aku pastikan mulut sialan mu itu akan tertutup selamanya." Ujar Dion penuh amarah. Laki-laki itu melupakan seseorang yang sedang berdiri di belakangnya, sambil meremas ponsel yang sedang merekam percakapan di dalam ruangan itu.
"Kamu ngga apa-apa ?" Tanya Dion lembut.
Briana memasang wajah sedih, lalu menggeleng.
"Aku baik-baik saja, Dion. Seharusnya kamu tidak perlu memperlakukan istrimu dengan kasar seperti ini. Karena biar bagaimana pun aku hanay seorang wanita panggilan." Jawabnya lirih.
"Maafkan aku ya, kamu pulang dulu. Aku akan menghubungi mu jika masalah ini selesai." Ujar Dion.
Briana kembali mengangguk patuh. Ia pun memang ingin segera pergi dari ruangan ini dan tidak akan pernah kembali lagi.
"Hubungi aku jika memerlukan seorang teman." Ucap Briana, dan di angguki oleh Dion. "Tetap di sini, kita harus membicarakan banyak hal." Tegas nya pada wanita yang sedang terduduk di atas lantai.
Laki-laki itu membantu Briana keluar dari ruangannya. Briana hanya melirik Risa yang terlihat begitu menyedihkan di atas lantai, lalu ikut melangkah bersama Dion keluar dari ruangan itu.
"Jangan dengarkan perdebatan kami tadi." Ujar Dion saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Tentu saja. Aku sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Kamu tahu kan, bagaimana kehidupan seorang wanita malam." Jawab Briana berusaha untuk tetap tenang.
"Tidak masalah kan aku memeriksa ponsel mu, ini untuk kepercayaan di antara kita." Dion mengulurkan tangannya.