Briana

Briana
Bab 49. Awal Kehancuran Dion



Jika di dua tempat pagi yang indah menyapa, berbeda dengan kediaman Atmaja. Pagi itu adalah awal dari kehancuran bagi Dion, ketika mendapati Risa sudah tidak lagi berada di dalam kamar mereka. Wanita yang baru ia nikahi beberapa hari yang lalu itu, sudah pergi entah ke mana. Belum lagi, kini petugas kepolisian sudah berada di kediamannya untuk datang menjemput dirinya dan juga sang Ibu. Dion berusaha sekuat tenaga untuk menahan pihak kepolisian agar jangan membawa ibunya.


"Wanita sialan itu pergi untuk menyelamatkan dirinya sendiri." Geram wanita paruh baya yang kini masih berada di dalam kamarnya. "Dia pasti sudah mengetahui hal ini akan terjadi, untuk itu dia pergi tanpa mengatakan apapun kepada kita." Sambungnya dengan wajah kesal.


"Jika semua tidak terkendali, Ibu cukup katakan tidak tahu apa-apa tentang semuanya dan biarkan aku yang akan bertanggung jawab atas segalanya." Bujuk Dion sambil berlutut di samping ranjang di mana ibunya berada.


"Tidak ! Bukan kamu yang harus mempertanggung jawabkan ini semua, tetapi wanita tidak tahu diri itu." Ucap wanita paruh baya itu.


"Tidak apa-apa, Bu. Risa hanyalah kaki tangan, tetapi dalang dari semua yang terjadi adalah aku." Bujuk Dion lagi. "Tidak ada gunanya lagi mengutuk Risa, karena kini kita tidak punya waktu lagi untuk mencari tahu di mana wanita itu berada." Sambungnya masih sambil berlutut di hadapan ibunya.


"Kamu tuh sudah di butakan cinta !" Kesal wanita itu.


"Bu, dengarkan semua kata-kataku ini. Ibu cukup bilang tidak tahu apapun tentang apa yang terjadi. Aku sudah menghubungi pengacara di kantor, sebentar lagi mereka akan datang. Ibu tenang aja, aku pasti akan mengatasi ini tanpa melibatkan Ibu, yaa.." Pinta Dion.


"Kamu aja yang ngomong seperti itu nanti. Untuk sementara ibu yang akan ikut penyidik itu, dan kamu yang akan tetap di sini." Ujar nya memberi saran.


"Bu...


"Jika kamu yang pergi, ibu tidak akan bisa melakukan apa-apa. Tapi jika Ibu yang pergi, kamu bisa melakukan banyak hal untuk membebaskan Ibu dari sana." Bujuk Ibu Sarah menyela.


Dion menggeleng tegas. Ia tahu jika sudah pergi ke sana, maka tidak akan ada jalan untuk kembali. Sejak kematian Ayah sambungnya beberapa bulan yang lalu, kepolisian memang sudah mencurigai karena ada yang janggal dalam kecelakaan itu. Untuk itu, satu-satunya pilihan adalah ia harus mempertanggung jawabkan semuanya saat ini juga. Setidaknya dari semua hal yang akan terjadi padanya hari ini, ia masih bisa menyelamatkan satu-satunya orang berharga dalam hidupnya, yaitu sang Ibu.


"Ibu tetap di sini. Meskipun nanti perusahaan akan ada pimpinan baru, ibu tetap akan mendapatkan pembagian dari saham yang di berikan Ayah untuk ibu." Ujar Dion lagi.


Ibu Sarah tidak lagi menimpali. Ia hanya menatap wajah putranya dengan mata berkaca. Jika ia bisa mengulang kembali waktu, maka ia lebih memilih untuk membiarkan Alfin tetap di sini. Namun, begitulah kenyataan yang ada. Tidak ada penyesalan yang datang di awal cerita, karena jika penyesalan itu datang sebelum sesuatu terjadi, maka manusia tidak akan pernah belajar dari sebuah kesalahan.