Briana

Briana
Bab 41. Kamu Akan Mati !



Briana terperanjat saat tubuhnya di dorong dengan keras masuk ke dalam apartemen. Gadis itu begitu terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Dion. Briana sudah telentang di atas sofa minimalis yang ada di dalam apartemennya, sedangkan tubuh kekar Dion sudah berada di atas tubuh kecilnya.


"Aku pikir kamu sudah benar-benar jadi orang yang jauh lebih baik." Ucap Briana sinis. Ia menatap wajah Dion dengan tatapan tajam tanpa takut. "Ternyata benar, hawa nafsu dan keserakahan manusia yang tidak pandai bersyukur seperti dirimu, tidak akan pernah ada batasnya." Sambungnya dengan wajah dingin mengerikan.


Dion melihat manik Briana yang sudah seperti elang itu, dengan hati yang berdebar. Mata ini benar-benar mirip dengan manik mendiang istrinya yang telah tiada.


"Kenapa ? Teringat sesuatu ?" Tanya Briana masih dengan tatapan nyalang juga senyum sinis mengerikan. "Aku sudah pernah hampir mati sebanyak dua kali, dan jika hari ini pun aku kembali mati, apa kamu pikir aku akan takut, ha ! Ayo lakukan ! Lakukan apapun yang kamu mau, brengsek !" Teriak Briana kesal. Wajah cantiknya sudah memerah karena menahan amarah.


"Siapa kamu ?" Tanya Dion. Tangannya sudah menekan kedua bahu Briana dengan hati-hati, sembari menatap wajah cantik yang ada di hadapannya dengan seksama.


"Tebaklah....


Brak...


Tubuh Dion terjatuh di atas lantai karena hantaman seseorang.


"Sialan, kamu mau mati, ha !" Gama kembali melangkah mendekat, lalu menarik kerah Dion dan menghantam pipi laki-laki itu dengan bogem mentah miliknya. "Aku akan membunuh mu, brengsek !" Ujar Gama lagi dengan wajah yang memerah karena kesal dengan pemandangan yang ia lihat malam ini.


"Jangan sampai membunuhnya, Gama. Hukuman mati terlalu mudah untuk orang-orang seperti mereka. Biarkan mereka merasakan penderitaan yang sama, seperti yang sudah mereka perbuat terhadap." Ujar Briana.


"Nggak, aku akan membunuhnya. Jika tidak, mereka akan terus mengganggu mu." Jawab Gama dengan nafas memburu. Kepalan tangannya sudah memerah karena memukul wajah Dion berulang kali.


"Hentikan sayang. Aku masih ingin menjalani hidup bersamamu." Briana menarik tubuh Gama dari atas tubuh Dion, lalu mengajak laki-laki itu untuk duduk di atas sofa yang sama dengannya. Sedangkan Dion yang sudah terlihat begitu mengenaskan di atas lantai, sama sekali tidak di pedulikan olehnya. "Tunggu sini, aku mau ambil air hangat dulu. Tangan kamu terluka." Ucap Briana lagi. Ia lantas beranjak dari atas sofa yang ada di ruangan tamu, lalu melangkah menuju dapur.


Beberapa saat kemudian, Briana kembali ke ruangan tempat dua laki-laki itu berada, sambil membawa semangkuk air hangat juga handuk kecil untuk membersihkan tangan Gama. Briana duduk dengan hati-hati di samping Gama, lalu menarik tangan laki-laki itu ke atas pangkuannya. Tatapan tidak ramah dari Gama, juga rintihan yang terdengar dari atas lantai tidak ia pedulikan. Dengan perlahan ia mengusap punggung tangan yang sudah memerah milik laki-laki yang ia cintai itu, agar tidak membengkak.


"Kamu tidak mengizinkan aku menginap, tapi membawa laki-laki lain ke apartemen ini." Ucap Gama dingin.


Briana mengangkat wajahnya, lalu menatap Gama tidak terima.


"Kenapa ? Apa yang terjadi dengan mu, Ana ? Apa semua yang aku lakukan selam dua bulan ini masih belum cukup bagimu ?" Tanya Gama lirih membuat Briana terdiam.