Briana

Briana
Bab 71. Berikan Aku Jawaban !



Setelah selesai menikmati makan siang bersama, Leon kembali membawa Clara menuju rumah sakit tempat keduanya bekerja. Bedanya, Clara memilih untuk mengurus segala kepentingan keuangan rumah sakit, di bandingkan menjadi dokter atau pun perawat di sana.


"Kak.." Tahan Clara di lengan Leon saat laki-laki itu hendak membuka pintu mobil. "Beri aku jawaban hari ini." Sambungnya sembari menatap lekat ke arah laki-laki yang sedang menatap genggamannya di lengan laki-laki itu.


"Kita tidak seharusnya seperti itu, Ra. Ayah pasti akan kecewa dengan keadaan ini." Ucap Leon berusaha memberikan pengertian terhadap Clara jika mereka tidak seharusnya terjebak dalam situasi ini.


"Kita bukan siapa-siapa, Kak. Ngga ada larangan untuk kita menjalin hubungan." Ujar Clara tidak ingin mengalah.


Leon menarik nafasnya dalam-dalam. Ia tidak ingin melukai hati gadis yang ada di sampingnya ini, tapi perasaannya masih di penuhi oleh gadis masa lalunya, meskipun saat ini mereka tidak lagi berada di dunia yang sama.


"Apa tidak ada laki-laki lain yang kamu sukai?" Tanya nya.


Clara segera menggeleng.


"Aku hanya mau Kakak." Jawabnya, dan lagi-lagi membuat Leon menarik nafasnya berat.


"Aku akan memikirkannya, dan mencari waktu yang tepat untuk mengatakan hal ini pada Ayah." Jawabnya berusaha mengalah. Dia sangat tahu bagaimana tabiat gadis yang berada di dalam mobilnya ini, toh bukan masalah jika ia mencoba untuk memulai kisah nya sendiri bersama orang yang baru. Clara pun memiliki kepribadian yang baik, hanya saja sedikit manja dan selalu meminta keinginannya di turuti.


"Benar ya, Kak ?" Tanya Clara memastikan.


Leon mengangguk yakin. Tidak ada salahnya untuk mencoba memulai kehidupan yang baru. Kisah yang lalu biarlah tertinggal di masa lalu, begitu pikirnya.


"Terimakasih karena tidak marah dengan pengakuan aku." Clara menghambur masuk memeluk tubuh Leon dengan erat. Raut bahagia di wajah cantik nya benar-benar tidak bisa ia sembunyikan.


"Tapi ingat, tunggu semua aku selesaikan dulu. Aku ngga mau Ayah kecewa dengan kita, berikan aku waktu untuk berbicara soal ini dengan Ayah." Ujar Leon memperingati.


Clara mengangguk antusias. Setelah memberikan kecupan di pipi sang kakak seperti yang biasanya dia lakukan, Clara segera turun dari dalam mobil itu dan masuk ke dalam gedung rumah sakit.


Setelah kepergian Clara, Leon mengusal pipi yang baru saja di kecup oleh gadis yang sudah ia anggap seperti adik nya sendiri. Tidak ada debaran seperti saat dulu Briana berada di dekatnya.


Setelah beberapa saat terdiam di dalam mobil, Leon akhirnya turun juga dan masuk ke dalam gedung rumah sakit. Ada banyak pekerjaan yang masih belum ia selesaikan, dan ia harus menyelesaikan semuanya sebelum kemudian pulang dan membicarakan semua ini kepada Ayah angkatnya.


****


"Ayah.." Leon terkejut saat ia masuk ke dalam ruangannya, dan mendapati laki-laki yang ingin ia temuaalam nanti sedang duduk di atas sofa yang ada di dalam ruangannya tersebut.


"Kalian baru selesai makan siang ya?" Tanya Bagas pada putranya.


"Iya, Ayah." Jawab Leon.


"Ayo duduk sini, di samping Ayah." Bagas menepuk sofa kosong di samping nya.


"Kok ga bilang-bikang kalau mau datang? Kalau tahu ada yang ingin Ayah bicarakan biar aku dan Clara makan siang di rumah." Ujarnya.


Bagas menggeleng.


"Ayah hanya ingin bicara bedua dengan mu, bukan dengan Clara." Jawab Bagas.


Leon mengerutkan keningnya. Selama beberapa tahun ia tinggal bersama keluarga barunya ini, tidak pernah sekalipun ia melihat Ayah angkatnya ini kebingungan hanya untuk berbicara dengan nya.


"Bisa ngga Ayah meminta bantuan mu?" Tanya Bagas pelan.


"Tentu saja. Katakan, apapun itu selagi masih mampu akan aku penuhi." Jawab Leon yakin.


Bagas menepuk pundak putranya, laku tersenyum hangat.


"Bisakah kamu menikahi Clara?" Tanya Bagas.


Leon terkejut, dengan susah payah ia menelan saliva nya. Beberapa menit yang lalu, ia berharap laki-laki yang kini duduk di sampingnya ini akan menolak jika nanti ia memberi tahu kan permintaan Clara, tapi kini justru berbanding terbalik.


"Maafkan Ayah. Ayah tidak tahu lagi harus meminta bantuan ini pada siapa. Apa kamu punya pacar?" Tanya Vagaserasa bersalah karena melihat putranya yang sudah terdiam tanpa kata.


Leon segera menggeleng.


"Syukurlah. Jadi apakah kami bisa memenuhi permintaan Ayah? Tidak ada lagi orang yang bisa Ayah percaya untuk menjaga Clara selain kamu, Leon. Gama sudah menikah dengan gadis pilihan nya." Ujar Bagas.


"Aku bersedia melakukannya. Jangan terlalu di pikir kan, biar nanti Leon yang membicarakan soal ini dengan Clara." Jawab Leon.


Bagas tersenyum lega dengan kalimat yang baru saja di ucapkan Leon. Ia tahu, putra nya ini tidak akan pernah mengecewakan nya, untuk itu ia berani datang untuk meminta hal ini.


"Bersiaplah, sebentar lagi Ayah akan mengenalkan kamu kepada petinggi rumah sakit. Kamu akan menggantikan Flora." Putus Bagas.


"Yah, apa ini tidak berlebihan? Aku merasa belum layak duduk di kursi pimpinan, Kak Flora sudah jauh lebih handal akan itu semua."


"Flora meminta untuk di ganti. Suami dan kedua anaknya membutuhkan figur seorang Ibu di rumah." Jelas Bagas. "Jika kamu tidak bisa mengatasi gadis manja itu, biar nanti Ayah yang berbicara dengannya." Sambungnya lagi.


Leon tersenyum kemudian menggeleng. Ia tidak mau adik kecilnya itu akan berbicara yang tidak-tidak dengan lelaki paruh baya ini. Untuk itu, ia ingin membicarakan hal ini sendirian nanti.


"Terimakasih, Nak." Bagas kembali menepuk punggung putranya.


Leon kembali mengangguk di sertai senyuman hangat.


Setelah beberapa saat berbincang di dalam ruangan itu, Bagas memilih untuk berpamitan pulang ke rumah, karena Rachel, sang istri sedang menunggu. Tidak lupa pula laki-laki paruh baya itu memberikan semangat pada putranya agar berhasil membujuk Clara. Yang tidak ia ketahui, putrinya sudah lebih dulu menyatakan cinta.


Setelah mengantar kan sang Ayah ke pelataran rumah sakit, Leon kembali melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Entahlah, setelah kepergian sang Ayah menuju rumah, dadanya mulai berdebar tidak karuan. Otaknya di paksa untuk merangkai kata agar nanti adik kecilnya tidak semakin menjadi.


"Kamu kenapa bengong di situ?" Tanya Flora.


Leon terkejut, lalu menoleh ke asal suara.


"Mau ketemu Clara?" Tanya Flora lagi. Namun, segera di jawab dengan gelengan kepala oleh Leon.


Flora terkekeh dengan sikap yang terlihat jelas sedang salah tingkah.


"Kalau kangen masuk aja ke ruangannya, Leon. Rumah sakit ini milik kalian, jadi ngga ada orang yang bisa ngelarang kalian ngelakuin apa saja di rumah sakit ini." Ujarnya.


Leon semakin mempercepat langkahnya, agar nanti wanita yang selalu ia panggil dengan sebutan Kakak ini tidak akan semakin menjadi.