
Gama terus mengikuti langkah kaki Briana yang terus mondar mandir di dalam kamar apartemennya.
"Mau ngapain ?" Briana menatap laki-laki yang tetap mengikuti dirinya masuk ke dalam kamar mandi.
Gama menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu tersenyum salah tingkah.
"Keluar !" Tegas Briana.
Gama semakin memangkas jarak mendekati wanita yang terus memasang wajah garang di hadapannya.
"Aku bilang keluar, Gama. Benar-benar yah...
"Aduh, aduh... Oke, oke aku keluar.." Sambil mengomel kesal, Gama melangkah keluar dari kamar mandi itu, dan membiarkan Briana melanjutkan kegiatannya.
Masih dengan mulut yang terus mengomel kesal, Gama melangkah lalu duduk di atas ranjang mewah yang ada di dalam kamar itu. Tangannya terus mengusap lembut bibirnya, kemudian tersenyum saat mengingat kejadian pagi ini.
Beberapa saat kemudian, Briana keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan berbalut bathrobe. Gama kembali beranjak dari atas ranjang, lalu melangkah menuju wanita yang terlihat sama sekali tidak memperdulikan keberadaannya.
"Jangan yang itu !" Gama menarik gaun yang baru saja di ambil oleh Briana dari dalam lemari.
"Kenapa sih ? Kamu yang menyiapkan ini di dalam lemari, lalu mengapa kamu tidak mengizinkan untuk aku gunakan." Briana menatap tajam ke arah Gama yang nampak terlihat kesal.
"Gak, jangan yang ini." Tegas Gama sambil menjauhkan gaun berwarna merah menyala itu dari jangkauan Briana.
Briana menarik nafasnya dalam-dalam, lalu kembali meraih satu gaun dari dalam lemari. Namun, beberapa saat kemudian, gaun berwarna cokelat muda itu kembali berpindah tangan hingga membuat Briana semakin kesal. Ia melipat tangannya di atas dada, lalu menatap Gama dengan senyum manis hingga membuat laki-laki di hadapannya menelan ludah.
Ah, bisa ngga dia mengecup bibir yang sedang memamerkan senyum manis itu.
"Jangan pergi !" Tegas Gama.
Laki-laki itu meletakkan dua gaun yang ada di tangannya dengan asal-asalan ke dalam lemari, lalu menarik tangan Briana menuju ranjang.
Briana hanya terus tersenyum geli melihat sikap Gama yang semakin hari semakin posesif terhadap dirinya. Gadis itu hanya terus menatap lelaki di hadapannya dengan hati yang menghangat. Setelah sekian lama, kini ia kembali merasakan perasaan hangat ini.
"Bisa ngga kalau pergi ga usah pakai baju kayak gitu ? Aku menyediakan baju-baju itu bukan untuk kamu pakai di depan orang lain." Ujar Gama sambil menunjuk lemari pakaian yang ada di dalam kamar itu.
"Terus gimana ? Apa perlu aku ga usah pakai apapun ?" Briana tertawa dalam hati saat melihat Gama mengusap wajah tampan itu dengan kasar. "Aku ngga punya baju loh." Sambungnya lagi sambil menatap wajah yang terlihat kesal itu dengan tatapan polos menggemaskan.
Gama mengulurkan tangannya lalu menyentuh pinggiran manik indah itu dengan sangat hati-hati. Manik yang dulu selalu menyimpan banyak kesediahan, namun, mampu membuatnya jatuh cinta.
"Wajah kamu berbeda, tapi mata ini masih mata yang sama, Ana." Ucapnya lirih.
Briana terdiam. Sentuhan lembut di wajahnya membuat dadanya berdebar.
"Tatapan ini masih tatapan yang sama di pantai Bali. Kamu ingat ngga saat kamu sedang berjalan di sisi pantai dengan seragam sekolah ?" Gama masih terus mengusap lembut pipi bagian kanan milik Briana.
Briana terenyuh mendengar kalimat itu. Ia pikir, saat itu dirinya hanya seorang diri.
"Kamu tahu aku hampir saja putus asa dan menenggelamkan diri di lautan itu." Ucapnya sedih.
"Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi, bahkan jika nyawaku taruhannya." Jawab Gama yakin. Yah, ia akan melakukan apapun asalkan Ana-nya baik-baik saja..
Karena tidak tahan lagi menahan gemuruh di dalam dada nya, Briana bergegas masuk ke dalam pelukan dan membenamkan wajah cantiknya di dada bidang Gama.