Briana

Briana
Bab 6. Rumah Sakit



Mobil berhenti tepat di depan rumah sakit kecil di pinggiran kota. Gama bergegas mengeluarkan tubuh Briana dari dalam mobil itu, lalu melangkah cepat masuk ke dalam rumah sakit.


Keyla tidak membiarkan putranya sendirian, ia ikut masuk ke dalam rumah sakit tersebut dengan langkah yang sangat cepat sambil menempelkan benda pipih di telinganya. Tak lama kemudian, suara lelaki terbaiknya langsung terdengar di ujung ponsel yang masih melekat di telingannya.


"Sayang, mungkin malam ini aku dan putra kita tidak akan bisa pulang ke rumah." Ucap Keyla saat panggilannya sudah di jawab oleh sang suami.


"Ada apa ? Apa yang terjadi ? Kenapa tidak bisa pulang ?"


Pertanyaan beruntun penuh kekhawatiran membuat senyum di bibir tipis Keyla mengembang. Seperti inilah seorang Gerri. Laki-laki yang selalu posesif tentang apapun menyangkit dirinya dan Gama.


"Tidak ada apa-apa sayang, hanya ada teman Gama yang memerlukan bantuan." Jawab Keyla tenang sambil mengikuti langkah kaki putranya menuju ruang gawat darurat di rumah sakit itu


Hembusan nafas lega dari ujung ponselnya terdengar, ketika Gerry mengiyakan permintaan izin nya sore ini. Keyla masih terus melangkah kan kakinya masuk ke dalam rumah sakit sembari menanyakan banyak hal mengenai apa yang sedang di lakukan oleh suaminya sekarang.


Usai bercerita panjang lebar dengan laki-laki yang masih menjadi nomor satu dalam hidupnya itu, Keyla segera mengakhiri panggilan lalu duduk di samping putranya tepat di depan pintu unit gawat darurat.


"Kamu perlu penangan juga, Gama. Ayo kita cari perawat yang bisa membantu mu." Ajak Keyla sambil melihat beberapa luka bakar di lengan putranya.


"Dia akan baik-baik saja kan Mam ?" Tanya Gama tanpa memperdulikan ajakan ibunya.


"Mama yakin dia akan baik-baik saja. Kamu ingat kan kejadian lalu ? Ana adalah gadis yang kuat, dan kamu tahu akan hal itu." Jawab Keyla meyakinkan putranya. "Tidak kali ini saja dia mendapat ujian dari Tuhan, tetapi dia selalu mamu melewatinya. Ayo ikut Mama, kita perlu mengibati luka mu." Ajaknya lagi.


"Nanti saja, Mam. Tunggu dokternya keluar, aku ingin memastikan Ana baik-baik saja terlebih dahulu." Jawab Gama sambil menatap pintu ruangan yang masih tertutup rapat.


Keyla hanya bisa menghembuskan nafasnya yang terada berat. Gama sama keras kepala nya dengan dirinya. Seberapa kuat ia memaksa, ia tahu jawaban putranya masih akan tetap sama. Untuk itu, ia mengalah dan membiarkan putranya menunggu dokter dan perawat yang sedang menangani Briana.


Hampir setengah jam menunggu, pintu ruangan di mana Briana berada akhirnya terbuka. Gama segera beranjak dari tempat duduknya dan langsung menemui lelaki yang baru saja keluar dari dalam ruangan itu.


"Bagaimana keadaannya, Dok ?" Tanya Gama.


Dokter yang terlihat sudah berumur itu tersenyum. "Jangan khawatir, Nak. Gadis itu baik-baik saja. Hanya mungkin wajahnya membutuhkan penanganan khusus. Luka bakar yang ada di tubuh dan wajahnya sangat parah. Beruntung bagian vital tidak ada yang perlu di khawatirkan." Ujarnya kemudian berlalu dari depan ruangan itu.


Raut wajah penuh kekhawatiran masih nampak jelas terlihat di wajah Gama. Bagaimana dia menjelaskan tentang hal ini pada Briana nanti ?


"Jangan khawatir. Kita akan memastikan dirinya sembuh dan bisa kembali menjalani hari seperti biasanya." Keyla menepuk punggung putranya, Guna meyakinkan jika semua yang mereka hadapi saat ini akan kembali baik-baik saja.