Briana

Briana
Bab 21. Apartemen Baru



Mobil milik Gama masih terus melaju di jalanan Jakarta. Kota metropolitan yang tidak pernah mati, bahkan ketika mentari sudah kembali keperaduan, kesibukan di kota yang menjadi provinsi khusus ini seakan tidak pernah habis.


"Ayo turun." Ujar Gama setelah melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh Briana, setelah mobil yang ia kendarai sudah berhenti di deoan sebuah gedung berlantai.


Briana mengangguk patuh lalu keluar dari dalam mobil mewah itu Sejenak ia menatap bangunan dengan puluhan lantai yang ada di hadapan mereka, dengan bibir yang masih tertutup rapat. Bahkan setelah Gama menggenggam tangannya dan menarik tubuh nya masuk ke dalam lobi apartemen, ia masih belum juga mengeluarkan sepatah kata pun.


Lift yang membawa keduanya terus naik, Briana menatap angka dua puluh tiga yang ada di dinding lift, yang menandakan jika ia dan Gama sedang naik menuju lantai dua puluh tiga. Genggaman erat di tangannya, membuat Briana tidak tahan untuk tidak melirik jemarinya yang berada di dalam genggaman Gama.


"Ini apartemen siapa ?" Tanya Briana sambil menatap kearah laki-laki yang audah lebih dulu melangkah menuju pintu.


"Apartemen kamu. Mulai malam ini kamu akan tinggal di sini." Jawab Gama sambil membuka pintu apartemen dengan passcode yang sudah di atur olehnya pagi tadi. "Masuklah." Pintanya setelah pintu apartemen terbuka lebar.


"Aku akan menggantinya nanti." Ujar Briana lalu melangkah masuk ke dalam apartemen.


Gama menarik nafasnya yang terasa berat. Setiap kali mendengar kalimat dari Briana yang seakan menganggap dirinya orang lain, membuat hatinya tidak nyaman. Namun, sepertinya inilah konsekuensi yang harus ia terima setelah meninggalkan Briana saat itu.


"Aku pulang. Ingat, jangan melakukan sesuatu tanpa memberitahu aku lebih dulu." Tegasnya.


"Kenapa ? Kenapa aku harus memberitahu mu sebelum melakukan sesuatu ?" Tanya Briana.


Gama yang sudah berbalik dan bersiap meninggalkan apartemen itu, kembali menoleh dan menatap wajah Briana dengan begitu lekat.


"Lakukan saja apa yang aku katakan, Briana !" Ujar Gama tegas bercampur kesal.


"Aku pulang." Karena Briana tidak lagi membalas perkataannya, Gama kembali berpamitan dan segera berlalu dari depan apartemen itu.


Setelah kepergian Gama, Briana melangkah menuju sofa yang ada di dalam apartemen mewah itu, kemudian duduk di sana. Gaun berwarna merah yang terlihat kontras dengan kulitnya, masih membalut dengan sempurna.


Briana merogoh secarik kertas dari dalam tas mahal yang baru saja ia letakkan di atas sofa. Tidak sulit untuk mendapatkan nomor ponsel seorang pengusaha seperti Dion. Ia sudah sangat mengenal tabiat buruk suaminya itu.


Senyum di bibir Briana kembali terlihat. Ponsel baru yang ia siapkan khusus untuk melancarkan aksi balas dendamnya, ia keluarkan dari dalam tas kecil yang ada di atas sofa tempat ia duduk. Satu persatu digit angka mulai ia masukkan ke dalam ponselnya itu, lalu tanpa ragu ia segera melakukan panggilan video untuk nomor tersebut.


"Dasar !" Umpatnya dalam hati saat laki-laki yang masih mengenakan jas pengantin langsung segera menjawab panggilan video darinya.


"Ada perlu apa ya ?"


Suara yang mampu membuat Briana mengepalkan tangan karena geram, sudah terdengar. Ingin rasanya ia melempar benda pipih yang ada di dalam genggamannya ini, dan berharap wajah yang sedang terpampang di layar ponselnya ikut hancur.


"Ah, maafkan saya, Tuan. Sepertinya malam ini saya belum bisa menemani." Jawab nya di buat segenit mungkin.


Laki-laki yang sedang terhubung dengan panggilan video di ponsel Briana menautkan alisnya bingung.


"Siapa, Sayang ?" Suara wanita yang terdengar membuat Briana menyeringai.