
Waktu begitu cepat berlalu. Pagi yang indah mulai beranjak pergi, berganti terik matahari di musim kemarau. Panas, begitulah ibu kota Jakarta. Beruntung mereka sedang berada di dalam ruangan salah satu rumah mewah, yang ada di tengah kota metropolitan itu, hingga tidak perlu merasakan sengatan matahari yang membakar.
Inilah salah satu hal yang perlu di syukuri oleh Briana di tengah kehidupannya yang mengenaskan. Mungkin orang lain merasa kehidupannya sungguh menyedihkan, tapi kita pun jangan sampai lupa jika di luar sana masih ada banyak orang yang memiliki kehidupan yang jauh lebih mengenaskan.
Tidak ada yang benar-benar baik-baik saja. Semua orang sedang bertarung dengan masalah mereka masing-masing. Hanya saja sebagian orang terlalu pintar dalam menyembunyikan masalah, sehingga selalu terlihat baik-baik saja.
Di ruangan mewah dengan meja panjang yang sudah terhidang beraneka macam makanan menggugah selera, terlihat begitu hangat. Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu saling berbagi cerita keseharian mereka sambil bercanda gurau.
Briana sesekali mengelilingi ruangan mewah itu dengan netra nya. Mengamati satu per satu orang yang sedang bercengkrama di ruangan itu dengan seksama. Orang-orang sebaik ini, apa iya tega dengan sengaja menjerumuskan dirinya dalam kehidupan yang begitu menyedihkan. Keluarga yang di penuhi banyak cinta di dalamnya, masa iya keluarga baik seperti ini, begitu menendang dirinya hingga masuk dalam kehidupan yang mengenaskan.
"Sayang..." Kecup Gama di kepala Briana.
Wanita yang sejak tadi terus melamun, terkejut. Ia menatap laki-laki yang terlihat begitu bahagia karena melihat dirinya berada di sana, dengan mata yang membulat penuh.
"Kamu bohongin aku yaa.." Gama kembali mengecup kepala Briana dengan gemas. Sedangkan gadis itu hanya menatap orang-orang yang ada di ruangan dengan perasaan tidak enak.
"Aku kangen.." Ucap Gama lagi. Namun, baru saja hendak mendaratkan kembali kecupan di kepala Briana, laki-laki itu meringis karena mendapat hantaman dari kakak sepupunya.
"Kamu mau buat anak orang mati karena menahan malu ! Dasar tidak tahu malu !" Kesal Flora.
"Apa sih, Kak. Ini calon istri aku yaa, aku berhak dong." Jawab Gama tidak mau kalah.
"Cih dasar, bilang aja kalau iri. Abang kan ga pernah seperti itu." Ledek Gama lalu menarik kursi yang da di samping Briana lalu duduk di sana.
Keyla tertawa geli, begitu pun orang-orang yang ada di ruangan itu. Melihat tingkah Gama saat ini, kembali mengingatkan ia tentang bagaimana Geri ketika masih muda.
"Kamu jangan kayak gitu dong, kasian Ana." Ucap Keyla.
Briana masih menutup mulutnya rapat-rapat. Bahkan saat Gama menautkan jemari mereka di atas pahanya, Briana hanya melirik sebentar dan membiarkan laki- laki itu terus menggenggam erat tangannya.
"Karena semua orang sudah berada di sini, jadi mari kita mulai makan siang nya." Ujar Gerri pada seluruh keluarganya.
"Suapin aku." Bisik Gama.
Briana menatap laki yang ada di sampingnya dengan tatapan membunuh.
"Kamu tuh ga tahu tempat banget. Memangnya kamu ngga punya tangan." Ibu dari dua orang anak yang tidak sengaja mendengar bisikan aneh langsung protes.
"Ga usah dengarin tetangga, Ana. Ayo suapin aku, tangan aku lagi sibuk genggam tangan kamu, nih." Gama mengangkat jemari mereka yang saling bertaut, seolah hendak menunjukan bukti pada semua orang yang ada di ruangan itu jika tangannya benar-benar sibuk.